19

1.5K 286 135
                                        

Akhirnya setelah dua puluh tiga jam lebih tiga puluh menit, Tim Divisi Khusus berhasil menyelamatkan Han Jisung.

Jika saja Chan dan Tim terlambat sepersekian menit, maka semuanya akan benar-benar berakhir.

Entah ke negeri mana, Tuan Kim akan membawa Han Jisung.

Atau bisa jadi kemungkinan lainnya.

Tuan Kim akan pergi tanpa Han Jisung, tapi dengan kondisi Han Jisung yang sudah tidak bernyawa lagi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jika saja Han Jisung dapat melihatnya, mungkin ia akan merasa sangat senang.

Karena saat ini, ia tidak sendirian. Ada orang lain yang benar-benar tengah mengkhawatirkan keadaannya.

Woojin, Chan, Changbin, Hyunjin serta para anggota Tim Divisi Khusus lainnya nampak setia menunggu di depan ruang operasi.

Sembari mengeratkan kepalan tangan mereka di depan wajah. Berdoa kepada Sang Pencipta untuk keselamatannya.

Bukan karena adanya kepentingan tertentu. Tapi semata-mata memang karena mereka merasa khawatir akan kondisinya.

Merupakan suatu hal yang Han Jisung rasa sangat mustahil akan terjadi padanya.

Jadi haruskah Han Jisung tetap dalam kondisi kritis seperti ini?

Agar apa yang ia anggap mustahil, benar-benar terjadi dalam hidupnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sangat berbeda dengan tampilan biasanya, yang terlihat rapi dan berwibawa. Malam ini Chan terlihat sangat berantakan.

Untuk kedua kalinya, ia harus kembali melihat bagaimana orang yang ia sayang harus berjuang antara hidup dan mati di dalam ruang operasi.

“Han...”

“Adikku akan baik-baik saja, kan?”

Lirih Chan pelan. Atensinya masih tetap tertuju pada pintu ruang operasi yang tertutup.

Changbin yang memang duduk disamping sang Ketua Tim, yang tampilannya juga tidak jauh berbeda. Tidak bisa memberikan jawaban apapun.

Meskipun berulang kali, Changbin menekankan pada dirinya sendiri bahwa Han Jisung pasti akan baik-baik saja.

Tapi ternyata, ia tetap tidak bisa menghilangkan rasa sesak di dadanya.

“Ini...”

“... Ini hanya mimpi, kan?”

“Ini tidak nyata, ya kan?”

“Ini cuma mimpi buruk, ya kan?”

Lirih Chan lagi dengan wajah yang sudah sangat memerah karena menahan tangisnya.

Namun, lagi Changbin tidak bisa memberikan jawaban apapun.

Ia hanya bisa menggenggam erat tangan sang Ketua Tim Divisi Khusus. Lalu membawanya kedalam sebuah pelukan. Berharap dengan begini, Chan dapat merasa lebih baik.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah melalui proses operasi yang cukup panjang kemudian masuk ke dalam ruang pulih sadar. Akhirnya, Han Jisung dipindahkan ke kamar rawat inap.

Dengan tidak ketinggalan, Chan yang siap sedia berada di sisi Han Jisung. Menggengam tangannya erat.

Seolah-olah jika Chan melepasnya, Han Jisung akan segera lenyap dari hadapannya.

Sedangkan untuk kelanjutan penangkapan Tuan Kim serta semua bawahannya yang ikut terlibat.

Sudah diambil alih oleh Tuan Park. Orang paling berpengaruh di Divisi Khusus.

Yang menjadi satu-satunya alasan, kenapa Chan tidak ikut kembali ke Divisi Khusus.

Untuk menghajar habis mereka yang telah menyakiti adik tersayangnya. Han Jisung.

“Maaf..”

“.. Hyung terlambat lagi”

Melihat tubuh Han Jisung yang dipenuhi luka serta memar benar-benar membuat hati sang Ketua Tim Divisi Khusus teriris-iris.

“Maaf..”

“.. Hyung selalu datang terlambat”

Kali ini, Chan tidak dapat lagi membendung air matanya.

Sembari menundukkan kepala, Chan menangis. Ia menyesal karena tidak langsung mengenali Han Jisung sebagai adiknya, Peter.

“Seharusnya, hyung tidak datang terlambat”

“Seharusnya, hyung tidak pernah pergi”

“Dengan begitu, semuanya pasti akan baik-baik saja”

“Dan kamu tidak akan mengalami semua kesulitan ini"

“Maaf..”

###

RUNNING AWAY PART 2: COMING BACKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang