TASYA || 14

9.6K 476 4
                                        

Mobil putih milik kedua orang tuanya tidak lama datang setelah motor Gibran keluar dari pekarangan rumah.

Pukul tujuh malam Gibran baru pulang. Sebenarnya mereka selesai belajar pukul enam, tapi karena Gibran lapar jadi tadi Tasya berinisiatif untuk membuatkannya makan walau hanya mie instans yang sedikit di racik oleh tangannya.

Yang membuat Tasya senang adalah saat Gibran mengucapkan kata Enak tanpa di tanya oleh Tasya.

Bagai di beri sekardus berlian, Tasya sesenang itu saat telinganya menangkap satu kata itu.

Tasya tersenyum dan menoyor kepalanya sendiri,"Gila gila!"

Tasya berjalan mengekori kedua orang tuanya yang sudah berjalan masuk kedalam rumah tanpa menyapanya.

Papah Mamahnya jika sedang menyebalkan akan menjadi orang tuahujatable banget. Enggak ada angin, ga ada hujan tiba-tiba diemin Tasya dan membuat mulutnya ingin sekali mengoceh.

Tasya sampai di dalam dan yang ia lihat hanya Papahnya yang sedang duduk di atas sofa dengan tubuh bersandar pada sandaran sofa dan mata terpejam.

Tasya berjalan dan duduk di sebelah Papahnya, ia menatap Papahnya dari atas sampai bawah seperti seorang dektetif.

Tasya merasa aneh dengan tingkah Papahnya kali ini, ia seperti menangkap ada sebuah perdebatan kecil yang terjadi oleh Papah dan Mamahnya.

Kedua orang tuanya memang sering beradu argumen, bahkan hampir tiap hari mereka berdebat mulut. Tapi tidak pernah sampai diam-diaman seperti ini, apa mungkin kesalahan yang di buat oleh salah satu orang tuanya fatal?

Tasya gelagapan saat tiba-tiba Papahnya membuka mata dan langsung menatapnya dengan sorot yang cukup menyeramkan.

Tasya menarik nafasnya dan membuangnya pelan,"Papah berantem sama Mamah?" Ucapnya to the point.

Helmi menghembuskan nafasnya kasar, menegakkan tubuhnya dan menatap sempurna anak gadisnya yang sedang menelitinya seperti seorang maling.

"Iya." Jawab Helmi jujur. Jika ia berbohong sama saja menempatkan diri di dalam bara api. Tasya bukan type anak yang bisa di bohongi begitu saja.

Memiliki seorang anak dengan kepintaran yang di atas rata-rata membuat seorang Helmi harus berkata jujur jika di tanya oleh Tasya. Karena Tasya adalah gadis tidak mudah di bohongi, ia akan berbuat nekat jika menurut pikirannya itu sudah tidak wajar.

"Kenapa?" Tanya Tasya masih dengan tatapan penasarannya.

Sebenarnya tidak sopan jika ia bertingkah seperti ini, tapi dari dulu Tasya selalu benci dengan hal berbau keributan.

Helmi memutar kepalanya menjadi menatap layar LED besar yang tidak menyala di depan sana, ia bingung menjelaskan masalahnya mulai dari mana.

Jujur ini hanya masalah sepele tapi mau se-sepele apapun suatu masalah jika itu berhubungan dengan istrinya, itu akan menjadi hal yang bukan sepele lagi.

"Mamah kamu tadi teleponan sama mantan pacarnya." Jawab Helmi ragu.

Otak Tasya langsung berkerja detik itu juga, mengigat tentang nama mantan pacar Mamahnya yang sebelumnya pernah ia bahas bersama Kakeknya. Teddy.

"Hanya karena itu Papah sebete ini?" Tasya kembali bertanya, tapi kali ini dengan nada yang sedikit pelan.

Helmi menggeleng, ia menatap kembali anaknya yang masih setia duduk di sampingnya dan memandangnya dengan sorot mata yang tajam, menurutnya.

"Mantan Mamahmu mau kerumah hari sabtu."

Tasya mengangguk paham. Masalahnya hanya ada di satu titik, Papahnya terlalu cemburu.

TASYA (Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang