TASYA || 20

9.2K 408 29
                                        

Gadis dengan baju putih model rajut  itu sedang berdiri di depan outlet roti. Menunggu seseorang yang ada di dalam outlet tersebut.

Ia tersenyum masam ketika melihat orang tersebut baru keluar outlet setelah sepuluh menit ia berdiri di sini.

"Lama, Naya ga suka." rajuknya. Lelaki di depannya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah pacarnya yang seperti itu.

"Ayo, udah ga usah ngambek." setelah itu, lelaki itu pergi meninggalkannya begitu saja tanpa menggandengnya.

Naya cemberut melihatnya. Bisa-bisanya cewe seimut dirinya di perlakukan seperti ini, hu! Sangat di sayangkan.

"Lito!" teriaknya.

Lelaki itu terus berjalan tanpa memperdulikan teriakannya.

"Elito! Tunggu Naya!" sekali lagi dan lelaki bernama Elito itu masih terus berjalan tanpa mau memberhentikan langkahnya.

Naya berdecih, ia menarik nafasnya untuk kembali meneriaki lelaki laknat di depannya itu,"Restu Desmon Elito!!"

Naya berdecih, ia menarik nafasnya untuk kembali meneriaki lelaki laknat di depannya itu,"Restu Desmon Elito!!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🔪🔪🔪

Selesai dengan pelajarannya, Gibran mengajak Tasya untuk singgah di salah satu kedai Es Cream. Memesan es cream sesuai selerah mereka.

Tasya memesan es cream rasa Vanilla dengan toping bluberry dan juga buah-buahan yang lainnya sedangkan Gibran memesan es cream rasa rainbow dengan toping biskuit dan permen jelly.

Tasya memesan es cream rasa Vanilla dengan toping bluberry dan juga buah-buahan yang lainnya sedangkan Gibran memesan es cream rasa rainbow dengan toping biskuit dan permen jelly

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tasya tersenyum senang, sudah lama ia tidak makan es cream seperti ini. Gibran yang duduk di hadapannya pun ikut tersenyum melihat gadisnya yang tersenyum.

"Enak?"

Tasya menatap Gibran, ia mengangguk gembira,"Enak, makasih udah bawa gue ke tempat ini."

"Iya. Kapan pun lo mau bilang ya, nanti kita ke sini." senyum ceria tercetak jelas di kedua sudut bibir Tasya.

"Yang bener?" tanyanya dengan wajah benar-benar tidak percaya.

"Bener, sayang." Detik itu juga pipinya panas.

TASYA (Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang