Terlahir kembar bukan berarti mereka akan seiras
Terlahir kembar bukan berarti afeksi yang di terima akan sama rata
Terlahir kembar bukan berarti mereka akan di berkati dengan bakat yang sama
Mereka memanglah terlahir kembar namun mereka benar-benar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Aku pulang"
Rosé terdiam di ambang pintu, merasakan hatinya yang kembali merasa begitu hampa. Biasanya setiap pulang sekolah sang adik selalu menyapanya, memeluknya erat dan memanggil namanya dengan manja. Namun sekarang hanya hening yang menyambut kedatanganya, tak ada suara bising sang adik pun presensinya yang selalu mengemaskan. Ini sudah hari ke-lima belas Lisa dinyatakan hilang, lima belas hari yang rasanya seperti neraka bagi Rose.
Ia sangat merindukan sosok adiknya. Ia tak pernah selama ini berpisah dari Lisa dan itu sungguh sangat menyiksanya. Bayangkan saja sejak lahir ia selalu bersama dengan Lisa lalu sekarang sosok sang adik menghilang begitu saja membuatnya frustrasi bukan main. Setiap malam yang ia lakukan hanyalah menangis dan menangis berharap dengan begitu sosok sang adik akan tiba-tiba datang kehadapannya, merengkuhnya dan menenangkannya. Namun, sampai mentari kembali terbit pun sosok yang di harapkan tak pernah ada.
"Oh, nona Rosé? Anda sudah pulang. Ingin makan siang dulu?"
Rosé tersentak kala suara seorang maid memasuki gendang telinganya, Ia tersenyum, mengelengkan kepalanya pelan, "Tidak, aku ingin langsung pergi ke atas saja Bi" ucap Rosé sebelum melangkah memasuki rumahnya dan langsung berjalan menaiki anak-anak tangga.
Bukannya pergi ke kamarnya, Rosé malah berbelok menuju kamar Lisa yang selama lima belas hari ini kosong tak berpenghuni. Ia membuka pintu secara perlahan, lantas menjatuhkan bokongnya di kursi belajar sang adik. Tangannya terulur untuk menyentuh berbagai buku-buku pelajaran yang tertata rapih juga beberapa novel romansa yang kerap di baca oleh Lisa.
Lalu atensinya terjatuh pada sebuah buku bersampul biru laut, ia pun mengambil buku tersebut mengusap gambar paus besar yang terdapat di depan buku tersebut dengan tulisan my diary berwarna emas. Rasa penasaran mulai melingkupinya, ia jelas tahu bahwa membuka buku harian seseorang itu adalah salah namun ia sangat ingin tahu sebenarnya apa yang selama ini Lisa rasakan. Menarik napas dalam, Rosé pun membuka buku tersebut secara perlahan dan mulai membacanya.
Akulagi-lagimengecewakan ayah, Akumendapatkannilaiburuklagi yang membuat ayah sangatkesalpadaku. Akusendiri pun kesalpadadiriku yang sangatpayah yang hanyabisamengecewakan ayah. Akuinginsepertieonnie yang selalubisamembanggakan ayah. RasanyaakusangatinginmarahpadaTuhan, kenapaiaharusmelahirkan kami kembarjikatakmemberikankemampuan yang sama?. Eonniesangatlahsempurnasementaraakubegitucacat. Seharisaja, bolehkahakubertukarkehidupandenganeonnie?.