Einunddreißig

5.3K 712 104
                                        

Namjoon membuka pelan pintu kamar Lisa, memandang teduh pada kedua putrinya yang tengah tertidur sambil berpelukan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Namjoon membuka pelan pintu kamar Lisa, memandang teduh pada kedua putrinya yang tengah tertidur sambil berpelukan. Memang semenjak Lisa kembali ke rumah semalam, Rosè benar-benar tak ingin lepas dari sang adik. Anak itu bahkan sampai merengek agar dapat tidur bersama Lisa yang membuat baik Namjoon maupun Lisa mengelengkan kepala tak habis pikir dengan tingkah Rosè yang sudah mirip seperti anak berusia lima tahun.

Pria itu pun mendekati ranjang Lisa, sebenarnya merasa sedikit tak tega karena harus membangunkan kedua putri cantiknya yang terlihat begitu damai namun keduanya harus tetap datang ke Sekolah hari ini.

"Sayang-sayang ayah, ayo bangun" ucap Namjoon sambil mengecup kening Lisa juga Rosè.

Bukannya terbangun kedua anaknya malah makin mengeratkan pelukan membuat Namjoon gemas bukan main, apalagi kala suara Rosè yang terdengar serak merengek padanya, "Lima menit lagi ayah"

"Ayo nak, bangun, kalian harus Sekolah hari ini" ucap Namjoon kembali mengecup kening kedua putrinya.

Lisa yang merasa terganggu pun akhirnya membuka mata, gadis itu menguap lebar sebelum tersenyum pada sang ayah, "Selamat pagi ayah" sapanya serak.

"Pagi sayang" ucap Namjoon mengusap rambut Lisa, "Bangunkan kakakmu yah, kalian bersiap ke Sekolah bersama. Ayah juga harus bersiap"

"Baik ayah, nanti Lisa bangunkan eonnie"

"Anak pintar, awas yah jangan kembali tidur" ucap Namjoon yang di balas anggukan mantap dari Lisa. Pria itu pun bangkit berdiri dan melengang keluar dari kamar Lisa.

"Eonnie, ayo bangun" ucap Lisa sambil menguncang-guncangkan tubuh Rosè.

Rosè berdecak, gadis itu akhirnya membuka matanya, "Bolos sehari saja bagaimana?" katanya

"Tidak mau ah, aku sudah ketinggalan banyak pelajaran" ucap Lisa sambil mengerucutkan bibirnya.

"Kan aku bisa mengajarimu"

"Malas, eonnie bau" ucap Lisa sambil cekikikan sementara Rosè sudah mendaratkan jitakan penuh cinta ke pucuk kepala adiknya itu. Enak saja ia dikatai bau oleh adiknya, untung saja sayang kalau tidak sudah Rosè buang ke Sungai Han.

Akhirnya, setelah mengumpulkan seluruh nyawanya yang berhamburan Rosè pun mendudukan dirinya yang diikuti oleh Lisa. Si sulung itu menguap lebar sambil menggaruk kepalanya sementara si bungsu sudah mengambil handuk dan bersiap memasuki kamar mandi.

"Lisa-ya, ayo mandi bersama" ucap Rosè sambil tersenyum lebar.

Lisa menatap ngeri pada sang kakak, "Eonnie aku tahu kau sangat merindukanku tapi tidak untuk mandi bersama"

"Oh ayolah Lisa-ya, sekali ini saja" ucap Rosè bangkit berdiri menghampiri sang adik dan mulai mengoyang-goyangkan tangan Lisa. Lisa jadi bingung, sebenarnya yang kakak itu Rosè ataukah dirinya?.

D I V E R G E N TTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang