Terlahir kembar bukan berarti mereka akan seiras
Terlahir kembar bukan berarti afeksi yang di terima akan sama rata
Terlahir kembar bukan berarti mereka akan di berkati dengan bakat yang sama
Mereka memanglah terlahir kembar namun mereka benar-benar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mata yang semula terpejam rapat itu perlahan terbuka karena merasa terusik oleh sebuah tangan yang bertenger di dahinya. Lisa mengerjap pelan, menemukan seraut wajah penuh kekhawatiran dari sang ayah. Matanya lalu melirik kearah kanan dimana sang kakak semalam tidur di sisinya namun yang ia temukan hanyalah kehampaan.
Setelah mengumpulkan nyawanya, Lisa pun memutuskan untuk duduk yang langsung di bantu oleh Namjoon. Merasa pening masih mendera diri membuatnya sedikit mengernyit sambil tangannya sibuk memijat pelipis berharap dengan begitu rasa pusingnya akan menghilang.
"Dimana eonnie, ayah?" tanya Lisa
"Eonniemu sedang menyiapkan sarapan di bawah" ucap Namjoon yang mendapatkan anggukan kepala dari Lisa.
Ada hening yang tercipta diantara ayah juga anak itu. Namjoon tengah berkutat di dalam pikirannya sendiri sementara Lisa berkutat dengan rasa peningnya. Seharusnya hari ini, Lisa sudah merasa jauh lebih baik tetapi kenapa yang terjadi malah sebaliknya?. Lisa rasanya jadi menyesal karena selalu keras kepala jika kakak-kakaknya memintanya untuk beristirahat dan tak terlalu memforsir diri. Akibatnya kondisinya malah melemah di hari penting yang sudah ia tunggu-tunggu sejak lama.
"Nak, kau masih demam. Lebih baik, kau tak usah mengikuti kompetisi dance itu" ucap Namjoon lembut memecah hening diantara dirinya juga Lisa, tangannya terangkat guna mengusap pucuk kepala si bungsu.
Mata Lisa langsung terbelalak dengan cepat ia mengelengkan kepalanya, "Tidak mau ayah, Lisa sudah latihan sangat keras untuk hari ini."
"Tapi, Lisa-"
"Lisa baik-baik saja ayah, sungguh. Lisa mohon yah, izinkan Lisa mengikuti kompetisi dance"
"Tidak, Lisa!" ucap Namjoon tegas, "Kau sakit, kau harus banyak beristirahat. Ayah tak mau jika terjadi hal buruk padamu nanti"
"Ayah, aku mohon. Aku sudah mempersiapkan diri mati-matian demi bisa mengikuti kompetisi dance ini. Aku janji tak akan terjadi hal buruk, aku mohon ayah" ucap Lisa dengan mata yang berkaca-kaca berharap dengan begitu sang ayah dapat luluh.
Namjoon mengusap kasar wajahnya, kenapa kedua putrinya harus memiliki sifat keras kepala dari dirinya sih?. Ia jelas khawatir pada kondisi Lisa yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja tetapi ia juga merasa tak tega jika harus melarang Lisa untuk mengikuti kompetisi dance itu. Namjoon jelas tahu seberapa keras usaha Lisa hanya demi memenangkan kompetisi dance itu, demi membuat dirinya bangga. Tetapi, sungguh Namjoon sudah tak peduli lagi dengan hal-hal seperti itu yang jadi fokusnya hanyalah kebahagiaan kedua putrinya.
"Ayah," intrupsi Lisa sambil mengengam tangan besar sang ayah, "Aku akan baik-baik saja. Percaya padaku yah"
Menghela napas kasar pada akhirnya Namjoon menganggukan kepalanya, kalah telak dengan ambisi sang anak bungsu, "Tapi, nanti istirahat dulu di mobil yah. Sekarang kau mandi dan bersiap lalu pergi sarapan dan minum obat"