Terlahir kembar bukan berarti mereka akan seiras
Terlahir kembar bukan berarti afeksi yang di terima akan sama rata
Terlahir kembar bukan berarti mereka akan di berkati dengan bakat yang sama
Mereka memanglah terlahir kembar namun mereka benar-benar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Namjoon menatap aneh pada sekitarnya, saat ini ia tengah berada di sebuah ladang bunga seorang diri tanpa kehadiran sosok lain. Seingatnya tadi ia sedang tertidur di kasur empuknya setelah berusaha mencari Lisa kesana-kemari seharian penuh tetapi mengapa ia malah berada di ladang bunga seperti ini?. Namjoon pun memutuskan untuk melangkahkan tungkainya tanpa tujuan menelusuri ladang bunga itu dengan perasaan heran yang masih bercokol di dalam benaknya.
"Hallo?" suaranya bergema nyaring. Satu detik, dua detik, tiga detik hingga seterusnya sama sekali tak ada sebuah balasan yang ia nanti-nantikan.
Namjoon mendongak memandang langit biru yang tiba-tiba saja berubah gelap akibat matahari yang tertutupi oleh bulan. Angin kencang tiba-tiba saja menerpanya membuat kelopak bunga bertebaran hingga Namjoon harus menutup wajahnya. Namjoon kembali melangkah meskipun rasanya sangat sulit karena angin itu seolah menyuruhnya untuk tetap diam di posisinya. Pada akhirnya Namjoon menyerah, pria itu pun terduduk sambil tetap berusaha melindungi wajahnya lalu sesekon kemudian angin kencang itu pun berakhir membuat Namjoon dapat kembali menampakkan wajahnya.
"Hei, tuan genius"
Tubuh Namjoon tiba-tiba menegang, jelas ini adalah suara yang sangat ia rindukan. Sosok yang selama ini selalu ia harapkan hadir dalam mimpinya tetapi selalu nihil ia jumpai. Sosok yang membawanya pada titik kehancuran terbesar dalam hidupnya juga sosok yang selalu bersemayam dalam lubuk hatinya meskipun ribuan wanita cantik mencoba mengodanya, namun hatinya sama sekali tak tertarik dan hanya berdesir untuk sosok yang kini tengah duduk tepat di hadapannya.
"K-kim Jisoo?" ucapnya linglung, wajahnya sudah persis seperti orang bodoh.
Tubuhnya tergerak untuk memeluk sosok yang sangat ia rindukan tetapi yang ia dapati malah sebuah tamparan kencang yang mampu membuat pipinya terasa berdenyut ngilu, "Kenapa menamparku?" tanyanya tak terima
Jisoo mendengus, ibu dari anak-anaknya itu mencebik kesal sambil bersidekap dada lalu tiba-tiba kedua tangannya memelintir dada Namjoon hingga pria itu lagi-lagi menjerit kesakitan, "Dasar ayah bodoh!" umpat Jisoo
"Kau tahu aku selama ini benar-benar hendak menghajarmu, kalau bisa juga mengentayangi hidupmu jika aku diizinkan. Apa yang sudah kau lakukan pada anak bungsumu Kim Namjoon?. Kenapa kau malah mengacuhkan presensinya, hah?. Kau pikir aku akan tenang jika kau memperlakukan kedua putriku secara berbeda begitu hah!"
Namjoon hanya bisa menundukkan kepalanya dalam persis seperti anak nakal yang tengah mendengarkan ibunya mengomel akibat dia tidak mau mandi sore. Meski kalau boleh jujur Namjoon merasa bersyukur karena setelah sekian lama akhirnya ia dapat bertemu dengan sosok yang sangat ia rindukan. Ia sampai tak menyadari bahwa pipinya sudah dihiasi oleh air mata.
"Kenapa jadi kau yang menangis?. Bukankah harusnya aku yang menangis disini?" tanya Jisoo.
Namjoon menghela napasnya lelah, pria itu pun menjatuhkan kepalanya di pundak sang istri. Hangat. Rasanya begitu hangat kala tangan Jisoo mengusap-usap punggung lebarnya, "Maaf" hanya itu yang mampu keluar dari mulut Namjoon.