Vierunddreißig

5K 648 68
                                        

Lisa mengerjap pelan sesaat ketika matanya terbuka, gadis itu melihat ruangan yang di dominasi oleh warna putih dengan kerutan samar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lisa mengerjap pelan sesaat ketika matanya terbuka, gadis itu melihat ruangan yang di dominasi oleh warna putih dengan kerutan samar. Ia melihat tanganya yang terinfus juga sosok sang kakak yang tengah tertidur di sofa yang ukurannya begitu sempitjelas terlihat tak nyaman—. Sedetik, dua detik, hingga detik-detik berikutnya otak Lisa masih mencoba untuk memproses apa yang sebenarnya terjadi. Hingga, sepuluh menit kemudian gadis itu tiba-tiba duduk sambil berteriak lantang yang mampu membuat Rose terjatuh dari sofa saking terkejutnya.

"KOMPETISI DANCE!"

"Lisa-ya, kau sudah sadar?" ucap Rosè langsung bangkit berdiri menghiraukan rasa sakit di bokongnya efek terjatuh tadi, "Masih demam? Ada yang sakit?" tanya Rosè sambil menyentuh kening Lisa.

"Eonnie, kompetisi danceku?. Bagaimana dengan kompetisi danceku?" tak memperdulikan pertanyaan sang kakak, Lisa malah meletuskan pertanyaan lain dengan nada panik.

"Aku harus kesana sekarang juga, eonnie" ucap Lisa sambil menyibakkan selimut yang menutupi kakinya, gadis itu sudah hendak meloncat turun dari kasur kalau saja Rosè tidak dengan cekatan menahan pergerakan adiknya itu.

"Hei, hei, mau kemana?. Tenang dulu, okey?. Kau masih sakit, perlu banyak istirahat"

"Tapi, bagaiman dengan kompetisi danceku eonnie?" lirih Lisa terdengar frustrasi, mata bulatnya bahkan sudah berkaca-kaca.

Rosè menghela napasnya lalu gadis itu berjalan kearah tas berwarna coklat miliknya yang tergeletak di sofa. Gadis itu pun mengambil sesuatu dari dalamnya dan kembali menghadap Lisa yang tengah menunduk dalam. Ia mengusap lembut rambut sang adik agar mata bulat itu kembali terfokus padanya.

"Selamat," ucap Rosè mengantung yang membuat dahi Lisa mengernyit bingung, "Kau menjadi juara favorit" pekik Rosè sambil menunjukkan sebuah mendali yang ia sembunyikan di balik punggungnya.

Mulut Lisa menganga lebar dengan mata membelalak terkejut. Dengan tangan gemetar Lisa mengambil mendali miliknya dari tangan Rosè. Matanya menatap lekat-lekat pada mendali berwarna bronze dengan tulisan favorit Champion of Seoul national dance competition seolah-olah benda yang berada di gengamannya itu hanyalah sebuah ilusi. Lisa mencubit pipinya sendiri lalu mengaduh pelan pertanda bahwa ini semua bukanlah bunga tidurnya saja. Tetapi, euphoria itu hanya bertahan selama beberapa menit, bibirnya mendadak melengkung ke bawah dengan sorot mata menyendu. Rosè yang menyadari perubahan ekspresi sang adik pun kembali mengusap kepalanya.

"Hey, ada apa?. Kau tidak senang?" tanyanya lembut.

"Padahal, aku juga ingin menjadi kebanggan ayah. Tetapi, untuk menjadi kebanggan ayah aku harusnya menjadi juara satu. Juara favorit mana bisa membuat ayah bangga. Aku anak yang gagal, eonnie" lirih Lisa pelan.

"Kata siapa ayah tidak bangga padamu?" Lisa juga Rosè langsung memandang kearah pintu dimana disana terdapat Namjoon yang tengah tersenyum hangat.

D I V E R G E N TTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang