4. Shutt, diam!

334 30 2
                                        

Aku berjalan menuju kelas bersama Mars, kami berjalan beriringan. Suatu kesenangan karena hari ini sepertinya aku ikut menjadi objek tatapan para siswa siswi yang menjadikan Mars sebagai objek utamanya.

Aku tersenyum setelah memperhatikan sikap Mars yang menyambut hangat sapaan para siswi.

"Kayaknya sebentar lagi lo bakal punya banyak teman?" Ledek ku.

"Yaa sepertinya begitu" jawab nya.

"Bicara nya santai aja, gak usah baku begitu
Gue jadi keikutan jadinya" ledek ku karena merasa terganggu dengan logat baku nya.

Mars tertawa "mungkin, terlalu gugup"

"Gugup? Oh ayolah" jawab ku seraya mengikuti gaya bicara Mars.

"Gak perlu ditiru" protes nya.

Aku tertawa lalu mendorong Mars ke samping "lo nyebelin!" Tak disangka Mars hampir jatuh ke selokan di dekat koridor. Aku segera menghampiri dan membantu nya "aduhh, maafin Leya"

Mars mengatur nafas nya sembari menatap ku jengkel "keterlaluan!"

Aku menggaruk kepala ku yang tak gatal "Leya rasa Mars terlalu lemah untuk berteman sama Leya"

Belum sempat Mars menjawab ocehan ku, justru bel penanda berakhirnya istirahat telah berbunyi.

Aku menatap Mars seolah tak bersalah lalu tersenyum dan berlari sekencangnya meninggalkan Mars "semoga beruntung!!" Teriak ku seraya berlari meninggalkan lelaki yang tengah jengkel itu.

"Lihat nanti!! Aleya tunggu!" Protes Mars lalu berlari mengejarku.

Mars memasuki ruangan kelas dengan keringat yang bercucuran di wajah.

"Maaf bu saya telat" ucap Mars saat sampai di dalam kelas.

"Segera duduk Mars" jawab guru.

Mars melewati ku dengan tatapan tajam nya namun aku tak menghiraukan nya karena aku melakukannya tak sengaja.

Pelajaran telah berakhir, aku segera merapihkan barang-barang ku dan bersiap meninggalkan kelas. Kelas itu hanya menyisakan aku, Arga, Mars juga anggota piket hari ini.

"Eh Le cepetan piket, jangan ngerumpi mulu sama si planet" ucap Gilang mengingatkan. Laki-laki itu kini sedang menghapus papan tulis.

"Iya bentar Lang. Awas aja ya lu cuman hapus papan tulis doang!" peringat ku dan Gilang cengengesan.

"Kan ini juga namanya piket Le" bantah Gilang.

"Piket matamu. Sampah gak dibuang ke tenpat sampah, ini kelas masih berdebu kaya muka mu" ucapku bercanda.

Gilang menempelkan penghapus papan tulis yang hitam itu ke pipiku lalu tertawa terbahak-bahak "cakep muka lu?"

"Gilang ihh!!! Ketua kelas nyebelin lo!" pekikku kesal seraya menghapus bekas hitak dipipiku.

"Lo berdua mau piket atau pulang?" tanya Arga dingin. Dirinya kini tengah mengelap kaca.

"Pulang" jujur Gilang santai.

Aku membelalak kaget menahan tawa "jujur nya hamba mu ini ya allah"

"Le, nyapu lu! Malah bucin sama si Gilang lagi" ledek Mars yang tengah menyapu.

Aku memang sedang menyapu juga namun kegiatan itu ku hentikkan sebentar "iya ini"

"Udah beres!" sahut Gilang dan Mars bersamaan. Sedangkan dua perempuan lagi yang sedang menyapu dan membersihkan meja guru ikut menoleh.

"Gak bersih itu Lang" teriak siswi lain.

"Tau tuh, kerjaan lo kalo piket hapus papan tulis doang apa?" balas siswi satunya ikut-ikutan.

Lelah Dilatih Rasa [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang