2. Dia

606 35 3
                                        

Mentari telah terbit dan menampakkan sinar terangnya. Sinar hangat kegemaran semua manusia, kecerahan paling dinanti dibumi. Andai aku bisa menjadi matahari yang menerangi bumi dengan sinarnya, dan apakah aku bisa menerangi teman-temanku dengan sinarku? Oh tidak aku bercanda, aku tak memiliki sinar.

Aku berlari menuju halte. Pagi ini aku telat 10 menit untuk berangkat dan pasti nya tidak ada bus untuk ku tumpangi.

Aku melirik jam tangan yang ku pakai.

"Ahh Leya. Kenapa bisa telat sih? Ngelamunin apa coba?" Protes ku pada diri ku sendiri.

Jarum semakin cepat bergerak. Tak terasa pintu gerbang akan ditutup 20 menit lagi. Jelas, aku tak punya cukup waktu untuk sampai disekolahan.

Sebuah motor berhenti didepan halte, si pengemudinya menuruni motor itu dan menghalangi jangkauan pandanganku, aku ini kan pendek. Dilihat-lihat seragam lelaki itu sama denganku, berarti kita satu sekolah.

Aku cukup ragu memulai percakapan hingga diam beberapa saat.

"Apa aku bisa ikut menumpang?" Tanyaku dengan sedikit kesal karena terburu-buru bertanya.

Lelaki itu mengangguk. Akhirnya aku merasa lega tak harus mendapati gerbang sekolah yang tertutup karena telat. Tak lama kemudian kami sampai.

"Terimakasih tumpangannya" ucap ku.

Sebenarnya aku masih penasaran dengan wajah si cowok ini. Cowok tinggi dengan motor vespa nya itu. Akhirnya aku menunggu nya hingga melepas helm. Dan tak menyangka.

"Arga?" Kejut ku.

Arga menoleh ke arah ku sembari merapihkan rambutnya. Oh tuhan, sempurna nya dia.

"Apa?" Jawabnya.

Aku memberinya senyum lalu menggeleng karena bingung berkata apa untuk topik selanjutnya.

Koridor

"Aww" pekik ku saat menerima jambakan cukup kencang dari seseorang.

"Apa?" Balas Angel.

Aku meringis kesakitan karena tarikan dirambutku itu begitu kencang.

"Aah sakit" pekik ku saat mencoba lolos justru semakin sakit.

Angel menarikku kepinggir koridor yang sepi lalu mendorongku.

"Lo fikir lo siapa? Bisa-bisanya diantar sama Arga nya gue!" Tanya Angel ketika sudah melepas jambakan itu.

Aku meraba kulit rambut ku yang sakit dan terus meringis.

"Maaf Angel. Tapi tadi Leya takut terlambat jadi-" jelas ku.

"Jadi apa?" Bentak Angel.

"Bisa-bisanya lo jadi cewe pertama yang naik dimotor Arga!" Timbal Angel.

"Angel jangan marah ya. Leya janji akan kasih contekan buat Angel" bela ku.

"Gue gak butuh!" Angkuh Angel lalu pergi meninggalkanku.

Aku berjalan menuju kelas sembari memegangi kulit kepalaku yang masih sedikit sakit.

"Kenapa?"

Suara itu membuatku menghentikan langkah dan menoleh kebelakang mendapati Arga yang sedang memperhatikanku membuang muka saat aku memergokinya.

Aku sedikit senyum dan berkata "gak apa-apa kok"

Tanpa menerima jawaban selanjutnya, lelaki cool itu pergi mendahului ku untuk masuk ke kelas.

Guru wanita masuk ke kelas ku setelah bel penanda pelajaran berbunyi.

"Selamat pagi anak-anak" sapa guru tersebut. Akrab disapa bu pia, walikelas XII Ipa 1.

Lelah Dilatih Rasa [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang