28. Pengakuan

201 16 12
                                        

"apa aku tidak pantas untuk dicintai? hingga selalu merasa sakit hati ketika mencoba membuka hati"
- Aleya Nadhifa

Selama seminggu ini aku melaksanakan Penilaian Tengah Semester. Hal kemarin jelas membuat hatiku terguncang, namun penolakan yang biasa ku dapatkan seakan makanan sehari-hari. Aku hanya perlu percaya pada takdir, pada waktu. Yakin bahwa semua harapan bisa muncul kadi kenyataan.

Seminggu ini pula aku menutup diri dari Arga. Membiarkan sejenak otak dan hati untuk menghindari rasa sakit. Hingga senin berikut nya tiba.

Aku berlari mengejar gerbang yang hampir saja di tutup. Seperti biasanya aku ke sekolah sendiri. Ikut menumpang sampai halte dengan Fawwaz lalu naik angkutan umum.

"Aduh pak. Untung gak telat" ujar ku ngos-ngosan berdiri di samping pak satpam yang tengah menutup gerbang.

"Buruan neng. Upacara bentar lagi mulai" ucap pak satpam mengingatkan.

"Eh iya makasih ya pak!"

"Sama-sama neng"

-LDR-

Aku menatap sekilas lelaki yang tadi baru saja memasukkan buku nya kedalam tas. Sudah lama aku tidak berbicara dengannya. Sejak hari itu, hari yang tadinya aku cap hari paling bahagia ternyata berujung sakit. Memang mau bahagia sebagaimana pun kelak akan berpulang pada sakit hati.

"Arga"

"Nilai aku lumayan bagus loh. Banyak yang b" ujarku memberitahu informasi yang menurut ku bagus.

"Aku liat di mading juga peringkat aku buat ulangan kali ini di peringkat 25. Itu berarti aku peringkat ke lima dari akhir di kelas kita" ucapku.

"Menurut lo bagus?" tanya Arga terdengar risih dan meremehkan.

"Baguslah. Kan kita kelas unggulan. Beruntung deh Leya" ucapku semangat.

"Lupain gue Aleya!!" ucap Arga kesal dan marah.

Aku mendadak kaget saat melihatnya. Dia kembali seperti dulu. Berbeda.

"Kamu berubah" ujarku tak menyangka.

Arga menatapku dengan sorot dingin dan sinis "gue cuman kasian sama lo" ketusnya.

Membuat fikiran ku melayang memikirkan hal manis yang dulu pernah dilakukan olehnya. Memangnya salah jika berharap?

"Kamu kenapa sih Ar? Ini bukan kamu pasti! Ini beda orang kan?" tanya ku tak percaya sembari menggoyang kan bahu Arga.

Arga menepis tangan ku "ini gua. Gua jahat. Jadi benci aja sama gua"

Aku menatapnya penuh tanya. Rasanya ingin menangis namun dengan sebisanya aku tahan agar lelaki itu tidak melihat sisi lemahku.

"Kamu gak jahat. Kamu baik. Kamu cuman lagi bercanda aja kan ini?" ujar ku tak percaya.

"Kamu suka kan sama aku? Semua perlakuan kamu itu bikin aku yakin kamu suka kan sama aku?" tanya ku berulang-ulang.

"Oke. Gua suka sama lu. Puas lu?"  tegas Arga membuat ku diam tak menyangka. Sebenarnya perkataan ku yang tadi menekan hanya umpan untuk memancing berbicara.

"Se-serius?" tanya ku gugup.

Arga keluar dari kelas dengan kesal. Aku menatapnya yang kian menjauh. Namun Mars mencegah aku untuk mengikuti Arga.

Lelah Dilatih Rasa [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang