"kebersamaan adalah hal yang menyenangkan, kebersamaan mengajarkan banyak hal"
- LDR
Hari ini adalah hari libur. Hari dimana siswa-siswi mendapat hak untuk istirahat sepenuhnya di rumah. Hari dimana setiap orang bebas menentukan kegiatannya. Dan kau tahu? Hari ini aku akan berkumpul dengan semua temanku.
Aku melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan ku "lama banget ya"
"Ini minum nya mbak" ujar pelayan laki-laki seraya menaruh sebuah gelas panjang berisi teh di atas meja.
"Oh iya makasih mas"
Tiga puluh menit sudah aku menduduki tubuh di kursi modern dengan warna coklat kayu. Menunggu manusia-manusia yang memang selalu telat jika diminta untuk berkumpul.
"Eh sorry telat Lio" ujar seorang wanita dengan kuncir kuda rambutnya.
Wanita itu mengatur nafasnya "ini gue bawa banyak snack buat piknik"
Aku menatap wanita itu dengan sorot terkejut "Letta?"
"LO?!"
"Ngapain lo disini?" tanya wanita itu, nadanya mulai merendah.
"Nunggu Mars, Mara, Arga, Gilang, Riko sama Liora"
"Liora? Dia mau piknik sama gua kali" balas Letta tak mau kalah.
Aku mengendikkan bahu "tapi dia bilang di grup ikut sama gue kok"
Letta tersenyum kecut "pasti ini cuman cara Liora supaya kita bisa baikan kan?"
"Gue pulang" pamit Letta lalu melangkah kan kaki nya namun sempat aku cegah.
"Lo gak cape gitu berantem terus?"
Wanita itu berbalik menatap dengan sorot dingin dan sinis "capek sih. Tapi lebih capek liat kelakuan lo"
Aku menggeleng tak percaya mendengar ucapannya yang semakin lama semakin pedas dan nyelekit.
"Leya salah apa sama Letta?"
Perempuan itu terkekeh sebentar lalu kembali pada raut dinginnya "sampai sini lu masih gak paham? Udah berbulan-bulan terus lo masih gak paham?"
"Leya gak suka sama Mars" ucapku halus.
"Cuma karena hal kecil terus persahabatan kita selama ini rusak gitu aja?" tanya ku pada wanita yang masih berdiri dengan tatapan kosong nya.
"Dan hal kecil itu dari lo! Instrospeksi diri lo!" ketus Letta.
"Salah ya?" tanya ku parau.
"Iya salah!" sarkas Letta cepat.
Aku merunduk sebentar lalu menatap kembali mata Letta "kita gak bisa nentuin siapa yang bisa suka sama kita. Kita gak bisa nentuin siapa yang harus suka sama kita. Kita gak bisa nentuin seperti apa dia yang suka sama kita"
"Leya gak tau kalau Mars suka sama Leya"
"Leya gak tau kalau laki-laki itu naruh rasa sama Leya"
"Leya udah jauhin dia. Ketusin dia. Menghindar dari dia. Tapi apa? Semua itu cuman bikin Leya ngerasa bersalah karena nyakitin orang yang gak salah" jelas ku menyelipkan nada lelah dan berharap dapat balasan halus dari nya.
Nyatanya perempuan itu diam. Entah apa yang berkelana dalam fikirannya. Entah dia mendengarkan atau tidak.
"Kalau Letta jadi Leya. Letta mau apa?" tanya ku parau berusaha menahan emosi.
Hening.
"Leya serba salah. Benci Mars dikira gak punya perasaan malah nolak mentah-mentah orang yang baik. Sedangkan kalau maju sama Mars, Leya bakalan dihujat dikira nikung punya sahabat" jelas ku mengeluarkan ucapan yang selama itu aku tahan sendirian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lelah Dilatih Rasa [END]
Teen FictionJika kamu jatuh hati, jatuh lah pada hati yang akan memberimu ruang. Memendam rasa sendiri sudah menjadi hal yang biasa bagi Aleya. Terlebih dirinya tau bahwa seseorang yang ia titipi hatinya tak akan pernah mengizinkan gadis itu menitipkan hatinya...
![Lelah Dilatih Rasa [END]](https://img.wattpad.com/cover/221434054-64-k611870.jpg)