17. Kamu jauh lebih indah

185 20 2
                                        

"Mungkin hadirnya di bumi hanya sebatas untuk dikagumi bukan untuk dimiliki"
- LDR

"Du du du du du"

"La la la la la"

Seseorang berdeham, sosok tegap dengan dada bidang berbalut seragam yang kini tengah menatap ku seram. Bukannya takut, justru semangat membara hadir dalam jiwa ku.

"Argaa!!""

Arga menutup sebelah telinganya lalu jalan melewati ku.

"Tadi ada yang lewat bukan ya?" ucapku pura-pura tidak melihat.

"Alien apa bukan sih?"

"Kukas, eh kulkas berjalan atau buku berjalan atau patung berjalan?"

"Atau makhluk ganteng yang namanya Arga-Arga itu ya?"

Kenapa sih ni cewe aneh banget, batin Arga.

"Eh ituu. Arga nya" ucapku lalu dengan cepat menghampiri Arga.

Ya benar. Aku dan Arga sedang di Perpustakaan. Seperti janjinya kemarin mengiyakan permintaanku. Rasanya jantung ku ingin melompat keluar. Benar-benar hanya berdua dengan Arga. Lelaki itu masih tenang membaca buku seraya duduk di bangku perpustakaan. Meja menjadi penghalang antara aku dan Arga.

Aku menumpu dagu dengan tangan. Memandangi pemandangan yang sudah pasti tidak boleh dilewatkan. Arga. Rasanya aku ingin teriak-teriak. Bagaimana bisa Arga berada dekat dengan ku?

"Baca buku lo. Bukan liatin gue" ujar Arga membuat ku menggeleng untuk kembali fokus.

"Ini lagi baca"

"Baca apa? Gue liat lo gak baca" jutek Arga.

"Baca fikiran Kamu"

Arga menghela nafas untuk kesekian kali. Lalu melanjutkan buku bacaannya tanpa memperdulikanku. Aku masih diam tidak memperdulikan buku novel yang masih terbuka yang tadi sempat ku baca sedikit.

"Arga!!"

"Buku yang seru buat dibaca apa sih?"

"Kimia" jawab Arga santai lalu membuka halaman selanjutnya buku yang ia baca.

"SERU?" tanya ku heran lalu meneguk ludah.

"Selain itu?"

"Sastra"

"Gak ada yang lain gitu? Novel-novel atau komik atau cerpen"

"Liat aja sendiri" jawab Arga malas.

"Lo liat aja tuh buku. Lebih bagus itu daripada liat gue" ujar Arga jengkel.

Aku menampakkan senyum "kamu jauh lebih indah"

"Gak jelas" pekik Arga heran.

Aku diam seraya mengetuk-ngetuk dagu ku dengan jari telunjuk.

"OH INII" ucapku dengan kencang lalu dengan cepat menutup mulutku karena merasa berbicara terlalu kencang.

"Kita kan ada pr Bahasa Indonesia. Jadi, Leya kerjain itu aja"

"Kerjain bareng ya?"

"Kerjain bareng ya?" tanya ku lagi sedikit keras.

"KERJAIN BARENG YA?"

Arga mendongakkan kepala nya lalu menatapku lurus. Ia menunjuk sebuah poster dengan matanya.

"Apa?"

Arga mengulangi gerakannya yang tadi. Ia menunjuk poster dengan matanya.

"Apasih?"

"Liat" jawab Arga ketus.

Lelah Dilatih Rasa [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang