35. Waktu

218 15 8
                                        

"Biar waktu yang menjawab. Apakah cerita ini sudah usai atau akan terus berlanjut"
- Aleya Nadhifa

Seperti biasanya. Matahari mulai terbit. Dan manusia akan mulai menjalankan aktivitasnya memulai pagi. Ada yang gosok gigi, mandi, memasak, menyiapkan hal yang akan dilakukan, membuat jadwal kegiatan hari ini, menyiapkan buku pelajaran dan lain sebagainya.

Aku menuruni tangga dengan cepat. Benda bulat yang melingkar di tanganku itu terus mempercepat jam membuat jantungku kian mendegup kencang karena takut terlambat. Tanpa pamit atau apapun aku segera menaiki ojek online yang tadi ku pesan.

Sayang nya pintu tinggi itu sudah tertutup rapat. Sial, hari ini aku mengulang kesalahan yang sama seperti waktu itu. Nasib, untuk menunggu pintu terbuka sampai jam pelajaran kedua atau kena hukuman dari guru piket hari ini.

Aku mengatur nafas yang sejak tadi tak beraturan. Tanganku memegang jeruji gerbang sekolah yang tinggi itu. Melihat keadaan sepi didalam sekolah lewat sela-sela gerbang ini.

"Aleya" panggil seseorang dari arah belakang dengan nada heran.

Aku menoleh ke belakang mendapati laki-laki berseragam rapih lengkap yang kini menatapku heran. Aku mengeryitkan dahi lalu mengerjapkan mata dengan cepat. Tidak salah. Arga. Lelaki itu benar-benar ada dihadapanku.

Aku membalikkan badan kembali. Membiarkan panggilannya tadi hilang tanpa jawaban. Meski benak ku terus bertanya kenapa laki-laki itu bisa sampai telat padahal jelas dia adalah pemegang rekor untuk siswa tidak telat dan tidak pernah bolos di SMA Angkasa.

"Tumben telat" ujar Arga kini berada di sampingku.

Telat juga biasanya gak peduli kan, dumel ku dalam hati.

"Gue peduli sama lo. Cuma lo aja yang gak sadar" ujar Arga entah kenapa nyambung dengan apa yang tadi aku dumelkan dalam hati.

Aku udah sadar banget kali. Sadar diri malah kalo kamu cuma angan-angan yang aku ciptain sendiri, batin ku kesal. Tanpa berniat menjawab ucapan Arga meski hati ini menjerit ingin sekali menjawab.

"Gue yang harusnya sadar. Terlalu nyakitin lo, gue minta maaf" ujar Arga pelan dan halus.

maaf maaf palamu, batinku menjawab.

"Gak bisa diterima ya maafnya?" tanya Arga lagi.

Enggak bisa. Banyak nanya ya, omel ku tetap berusaha agar tidak bicara.

"Maaf banyak nanya" balas Arga halus.

Aku menatapnya kesal dan tak mengerti. Kenapa jawaban dan pertanyaan nya bisa sesuai dengan apa yang aku fikirkan dan jawab dalam hati.

"Emang aku ngomong kedengeran ya?" tanya ku kesal.

Arga menatap ku kikuk, mungkin dia tidak paham kemana arah bicaraku.

"Kedengeran"

"Yang tadi pas sebelum ini?"

Arga menggeleng "daritadi kan lo diem?"

Aku menyengir menggaruk kepala ku yang tak gatal "eh iya"

"Eh kalian semua yang telat masuk ke dalam sekarang" teriak pak satpam seraya membukakan pintu gerbang itu.

Hari ini tidak banyak yang telat. Hanya ada empat siswa. Aku, Arga dan dua siswa laki-laki. Kami segera masuk ketika pak satpam memerintahkan untuk masuk. Kami diperintahkan untuk membuat dua barisan. Aku di depan Arga. Dan dua orang lainnya disebelah kami. Dua orang itu memang sudah sering sekali telat, mereka adalah anak kelas 11 dan 12 yang tergolong nakal.

Lelah Dilatih Rasa [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang