GC 5

501 51 19
                                    

Langkah lebar pria itu tergesa memasuki rumahnya, berlari menuju kamar yang terletak disayap rumah lalu mengetuk pintu itu dengan pelan.

"Ji? Hei ini daddy, buka pintunya sayang."

Tidak ada sahutan di dalam sana.

"maaf tuan Kang, saya sudah mengubungi anda dua jam yang lalu untuk mengatakan ini. Pintunya terkunci sejak siang. Maafkan saya,"

"ini bukan salahmu bibi jung. Aku lupa dimana aku meletakkan ponsel tadi, di tambah ada kemacetan tadi karena kecelakaan. Tolong ambilkan kunci di laci nakas kamarku, itu duplikatnya."

Bibi Jung langsung melaksanakan perintah Daniel untuk mengambil kunci yang dimaksud, tak sampai dua menit wanita paruh bayah itu kembali dengan kunci.

"ini," ujar bibi Jung yang diwajahnya khawatir tercetak dengan jelas di sana.

Daniel meraihnya lalu mengarahkan pada knop pintu dengan cepat.

Terbuka.

"bi! Ambil tas kerjaku!"

"yatuhan!"

Tangannya dengan cepat mengangkat tubuh yang tergeletak di lantai menuju tempat tidur, mengecek suhu tubuh Jihoon.

"tuan Kang?"

Meraihnya dengan cepat lalu mengeluarkan stetoskop guna mengetahui kinerja jantung Jihoon.

"ambil tas hitam berukuran sedang dilemari yang ada dikamarku bi, dan infus ada dilaci lemari." kembali wanita itu mengangguk dan pergi dari sana mencari yang di maksud Daniel.

Kondisi Jihoon saat ini, suhu tubuhnya dingin, bibirnya membiru, ia mengigil hebat, bahkan peluh membanjiri dahinya.

"hiks kek~" gumam Jihoon masih dengan kedua mata yang tertutup.

"Jihoonie tidak akan meminta kesana lagi hiks~"

Daniel menyelimuti tubuh itu lalu mengusap dahi Jihoon pelan.

"Ji? Ini daddy, buka matamu." ujarnya lembut sambil mengusap pipi dingin Jihoon yang tidak ada rona merah di sana.

"maaf Daddy terlambat menemanimu, berhenti menangis sayang,"

Setelahnya bibi Jung datang membawa keperluan yang Daniel katakan.

Menyuntikkan obat penenang lalu memasangkan infus pada lengan Jihoon yang sudah mulai tertidur.

"bibi pulanglah, ini sudah mau makan malam. Suamimu bahkan anakmu sudah menunggu sekarang,"

"makan malam tuan Kang sudah saya siapkan, tapi tuan Park belum makan siang tadi."

"tidak masalah, infus ini ada untuk menggantikan asupan atau nutrisinya malam ini. Terimakasih bibi Jung. Selamat malam."

.
.
.
.
.

Daniel tidak beranjak sedikitpun dari sana semenjak tiga jam yang lalu. Tangannya menggenggam erat jari jari kecil Jihoon yang sudah berangsur bersuhu normal.

Makanan yang diantarkan oleh bibi Jung tidak ia sentuh di atas nakas itu. Matanya bahkan tidak lepas dari wajah Jihoon yang masih memucat.

Ia khawatir.

Trauma Jihoon semakin menjadi-jadi, ini pertama kalinya Jihoon sampai seperti kondisi yang kurang bisa dikatakan baik.

"Park Jihoon." gumamnya, tangannya ia arahkan mengusap kembali pipi bulat yang dingin itu dengan lembut.

Deru nafasnya teratur, keringat membasahi anak rambut pemuda manis ini melekat di sisi wajahnya yang putih.

"tuhan, jauhkan dia dari marah bahaya yang mengejarnya serta jauhkan setan yang selalu ingin mendekatinya. Berkati dia,"

Get Closer (NIELWINK) I√Where stories live. Discover now