"Jangan suka sama gue, Ra. Pergi, lupain gue."-Mahesa.
"Sekali aja, gue mau jadi apa yang Esa harapkan. Gue mau jadi dunianya Esa."-Mutiara.
******
Tidak semua cinta bisa digenggam.
Ada cinta yang hanya bisa dipendam dalam diam.
Dan kisah ini akan m...
Biasanya kita akan berbuat hal di luar nalar saat mencintai seseorang, ini semacam love effect.
———
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bisakah kau melihat hatiku ini? Hanya dirimulah yang ku punya Aku akan berada di belakangmu Satu langkah di belakangmu
Kau tak tahu akan isi hatiku Air mataku ini berlinang Saat aku melihatmu, hatiku terasa begitu sakit Cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan
Aku akan berjalan ke tempat di mana aku harus kembali seorang diri Karna itulah aku merasa sedih Apakah kau hanya berpura-pura tak tahu? Diriku yang ada di sisimu ini Aku bahkan mencoba tuk berteriak sekuat tenaga Apakah kau mendengar suara hatiku ini?
Now Playing|Can You See My Heart—Heize ost. Hotel Del Luna
———
Entah sudah berapa kali Esa mengobrak-abrik tas, mencari kartu perpustakaan miliknya. Di dalam kotak pensil, di laci, di loker bahkan di dompetnya juga tidak kunjung ketemu.
Apa masih di laci meja belajar di rumah, ya?
Esa mengesah pelan, baru teringat kalau benda pipih itu dia simpan di laci meja belajarnya karena kemarin tertinggal di saku celana sekolah, belum sempat dimasukkan kembali ke dalam tas.
Kenapa baru ingat setelah isi tasnya berantakan begini?
Jadi, dia harus bagaimana? Tugasnya tidak akan selesai kalau belum ada buku referensi dari perpustakaan. Dan dia tidak punya kartu sebagai akses peminjaman buku.
Juno dan Malvin juga sedang tidak di kelas, dua-duanya sibuk eskul. Juno sedang rapat osis sedangkan Malvin juga ada rapat struktur baru anak basket.
Sial.
"Ada yang bawa kartu perpus, nggak?" tanya Esa pada teman sekelasnya, berharap ada yang mau meminjamkannya untuk beberapa hari saja.
"Punya gue udah di perpus, buat minjem buku juga tadi bareng Mario," jawab Shadam, merasa tak enak karena tidak bisa membantu.
Esa tersenyum tipis, berusaha memaklumkan.
Sonya meliriknya sekilas, "ini gue bawa sih, cuma juga mau dipake minjem buku juga, berdua Hani, dia lupa bawa kartu," katanya. Memang, satu kartu perpustakaan hanya bisa meminjam dua buku, tidak bisa lebih, maka dari itu Sonya tidak bisa meminjamkan kartunya.
"Oh iya, nggak papa, masalahnya gue juga lupa bawa kartu perpus," kata Esa sambil menarik senyum.
Yang lain juga sama, sudah dipakai untuk meminjam buku di perpustakaan sebagai referensi tugas bahasa indonesia. Karena memang sedang ada tugas menganalisis buku non fiksi.