Seorang gadis berdiri di jendela kamarnya, mengamati dunia luar, rasanya dia sangat merindukan seseorang.
Sudah dua tahun ia menantikan hari ini, hari di saat dia mulai merasa aman jika keluar rumah.
Seseorang menepuk pundaknya pelan. "Hani? Ayo sarapan, bukannya kamu mau cari kerjaan hari ini?"
Ya, Hanifa Vinanda, gadis itu menganggukkan kepalanya.
Jadi, ke manakah selama ini ia pergi?
_Flashback on_
Saat orang-orang Aletta membawanya keluar dari sekolah. Segerombolan seperti preman menghampiri mereka.
"Oi, lepaskan Hani!" pekik salah satu dari mereka.
"Kenzie?" seru Hanifa.
Kenzie mengalihkan pandangannya pada Hanifa, lelaki itu memberikan senyuman yang menenangkan.
"Urus mereka!" seru Kenzie memerintahkan pada orang-orangnya.
Semua berkelahi tanpa berhenti, sampai salah satu orang yang menjaga Hani pun lengah, sehingga Kenzie memukulnya dengan tongkat bola bisbol.
"Ayo, Han ikut gue!"
"Tapi-" ucapannya terpotong saat Kenzie memasukkan Hanifa ke dalam mobilnya.
"Lo diem dulu, nanti gue jelasin," perintahnya.
Hanifa pun menurut, sedangkan Kenzie menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Dua jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah pedesaan yang tampak sepi.
"Kita ke mana, Ken?"
"Nggak usah takut, Han. Di sini gue cuma mau ngelindungin lo, dari cewek psikopat macem Aletta."
Setelah melewati jalan yang menurutnya sangat menakutkan karena harus melewati tebing yang begitu tinggi, akhirnya Hanifa kembali diam dan menurut.
"Bersiaplah, sebentar lagi kita sampai," ucap Kenzie.
Hanifa dibuat melongo ketika melihat sebuah rumah megah yang sangat mencolok dengan bangunan rumah sekitarnya yang tampak sederhana.
Kenzie menghentikan mobil di depan rumah megah itu, lalu menuntun Hanifa turun, karena keadaan Hanifa yang masih belum baik.
"Pah, aku pulang!" seru Kenzie.
Sepasang paruh baya datang menuruni tangga.
"Akhirnya kalian pulang juga," ucap salah satu dari mereka.
Seketika badan Hanifa menjadi kaku, ia hafal suara ini.
"A-ayah..."
Sementara Haris tersenyum senang, gadis kecilnya masih mengingat dirinya.
"Kamu diam di sana, biar Ayah yang ke sana."
Air mata Hanifa mengalir deras, Tuhan telah mengabulkan doanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Choice ( SELESAI)
Novela JuvenilPeringkat #1 'depresi' Agustus 2020 Peringkat #1 'berat' Oktober 2020 Peringkat #3 'mandiri', Oktober 2020 Peringkat #6 'sederhana' Oktober 2020 Peringkat #7 'choice' Oktober 2020 - Selesai- Liku-liku kehidupan seorang gadis bernama Hanifa Vinanda...
