Hanifa membuka matanya, mengedipkan matanya perlahan, mengitari ruangan yang agak gelap dan berantakan.
Gadis itu terkejut, ketika tangannya sudah diikat, begitu juga dengan kakinya.
"ALETA, PENGECUT!" teriaknya keras, ia benar-benar kesal saat ini. Pada akhirnya ia memang harus benar-benar melawan Aleta.
"Gue tahu, lo yang ngelakuin ini ke gue!"
Krieeettt...
Pintu terbuka, terlihat seseorang melangkah pelan.
"Udah sadar?"
Hanifa bisa melihatnya, senyum miring yang licik itu hanya dimiliki oleh Aleta.
"Mau lo apa hah!?" pekik Hanifa.
"Lo tahu apa yang gue mau," jawab Aleta.
"Lo udah nikah kan sama Fero, ngapain lo gini sama gue?"
Aleta menghela napas. "Nggak usah pura-pura nggak tahu! Gara-gara lo ngilang, Fero gagalin pernikahan kita. Gue tahu, lo sengaja ngilang biar Fero khawatir sama lo, sampe dia lupain gue kan!"
Hanifa sempat terkejut, tapi ia pun tersenyum.
"Duh, kasihan banget sih hidup lo."
"Lo!"
"Apa!?" jawab Hanifa menantang.
"Ikut gue sekarang!" ucap Aleta yang langsung menarik dan menyeret Hanifa.
"Sakit! Gila! Lo emang gila Al!"
Sesampainya di ruangan lain, Aleta lalu mendorong Hanifa keras.
"Hani!" seru seseorang yang cukup membuat Hanifa terkejut.
"Tante!"
Hanifa menatap tajam pada Aleta.
"Lo! Lo boleh sakitin gue sepuas lo, lo bisa bunuh gue sekarang juga, tapi jangan pernah lo sakitin Tante!"
Vania menggeleng, "Enggak, Aleta kamu bisa sakitin Tante, tolong bebasin Hani!"
"Well, ternyata gue nggak salah bawa tante lo ke sini."
"Jadi, mau yang mana dulu, Ma?" tanya Aleta pada seseorang.
Dan dapat diyakini oleh Hanifa, bahwa Aleta bekerja sama dengan sang Bunda.
"Terserah kamu, Sayang," bisik Dewina yang tiba-tiba hadir di antara mereka.
Vania terkejut melihat Dewina yang berada di balik semua ini.
"Kak, aku mohon bebasin Hani. Jangan sakitin dia Kak, dia anakmu, ingat itu."
Dewina hanya tersenyum, tak mengindahkan permohonan adiknya itu.
"Kalau aku menyakiti adikmu duluan, nggak papa kan, Ma?" tanya Aleta.
"Asal kamu bahagia, Sayang. Lagi pula, dia bukan adik kandungku, jadi terserah."
Hanifa menatap sang Tante, "Tante, apa maksudnya ini!?"
"Jadi, tante kesayanganmu ini belum memberitahukan faktanya ya?" tanya Dewina dengan menangkup dagu Hanifa.
"Mau kuceritakan sebuah kenyataan?"
Hanifa mengangguk setuju, sedangkan Vania hanya pasrah, sudah waktunya Hanifa mengetahui itu.
Dewina melirik Aleta lalu Aleta pun mengangguk.
"Baiklah, dengarkan baik-baik."
"Pada suatu masa, ada sepasang suami istri yang belum memiliki anak setelah pernikahannya selama empat tahun. Waktu itu, mereka menemukan seorang anak kecil di jalanan yang sedang menangis. Anak kecil itu terlihat kusam dan tak terurus. Anak kecil itu seorang perempuan, karena merasa kasihan dan mereka merasa harus merawat anak itu. Akhirnya, mereka mengambil anak itu dan merawatnya. Waktu itu, umur gadis itu adalah dua tahun, masih sangat kecil. Tapi, ia harus telantar di jalanan."
"Selama empat tahun, gadis itu dirawat dengan baik, dimanja dan selalu diberi perhatian lebih. Apa pun yang dia inginkan selalu dituruti, kehidupan gadis itu benar-benar sangat bahagia. Namun, saat umurnya menginjak pada enam tahun. Semua perhatian dari kedua orang tua angkatnya terbagi pada seorang bayi kecil yang telah lahir dari ibu angkatnya. Yang berarti adalah anak kandung dari sang ibu."
"Singkatnya, semakin mereka tumbuh, gadis itu semakin kesal pada sang adik. Karena, sang adik telah mengalihkan dunia kedua orang tuanya. Setelah lulus SMA, gadis itu memutuskan bekerja dan tinggal sendiri karena telah menerima kenyataan bahwa dia bukanlah anak kandung mereka."
"Sampai pada dirinya berumur dua puluh empat tahun, dia menikah dan memiliki keluarga yang lengkap. Gadis itu, bernama Dewina. Selesai."
Prok... prok... prok
Tepukan tangan itu berasal dari Aleta, "Cerita yang indah, Ma," serunya.
"Tentu saja, Sayang."
"Jadi, Mamah dan Tante nggak bersaudara?" tanya Hanifa.
"Kamu itu bodoh ya, tentu saja bukan!"
"Tapi, bagaimana pun Kakek sama Nenek udah ngebesarin Bunda," ucap Hanifa.
"Diam, kamu! Bocah tengil yang nggak tahu apa-apa."
"Kak, udah. Kakak harusnya sadar, Hani anak Kakak, lagi pula Papa sama Mama selalu nunggu Kakak pulang. Mereka sayang sama Kakak."
"Aleta!" seru Dewina.
Seakan tahu apa yang dimaksud Mamanya, Aleta pun menuruti perintah Dewina.
DOR...
"TANTE!!!!" teriak Hanifa. Gadis itu menangis histeris.
Sementara Vania memekik menahan sakit. Lalu tak sadarkan diri.
"ALETA!!"
DORRR...
"LO!" geram Aleta lalu gadis itu tak sadarkan diri.
-TBC-
KAMU SEDANG MEMBACA
Choice ( SELESAI)
Teen FictionPeringkat #1 'depresi' Agustus 2020 Peringkat #1 'berat' Oktober 2020 Peringkat #3 'mandiri', Oktober 2020 Peringkat #6 'sederhana' Oktober 2020 Peringkat #7 'choice' Oktober 2020 - Selesai- Liku-liku kehidupan seorang gadis bernama Hanifa Vinanda...
