Part 8

680 54 1
                                        

Di ruangan yang serba putih itu,  Hanifa terbaring dengan selang infus yang terpasang di lengannya. 

Gadis itu,  demam tinggi hingga dehidrasi,  jadi ia harus di rawat untuk bisa memulihkan cairan yang ada di dalam tubuhnya.

Sementara itu,  Fero masih setia duduk di samping ranjang Hanifa. Mengusap lembut kening Hanifa,  yang sudah mulai bersuhu normal. 

Sampai saat ini,  gadis itu belum sadar,  sepertinya Hanifa kelelahan hingga ia benar-benar butuh istirahat,  kali ini dia tidak mengingau seperti tadi. 

Rasanya sangat sesak,  ketika melihat gadisnya terisak dalam keadaan tidak sadar,  terkadang Fero berfikir bagaimana fase tidur Hanifa selama ini,  apakah gadis  itu tidur dengan nyenyak?  Dan apa yang membuatnya bisa sampai seperti ini, kemarin Hanifa benar-benar keras kepala tidak mau bercerita meski air mata gadis itu sudah mewakili perasaanya,  tapi mulutnya tak bisa mengucapkan apapun. Fero tidak bisa memaksa jika Hanifa sudah seperti itu. 

Disisi lain,  Vania sedang mengurus administrasi dan Fadil sedang mengambil baju ganti untuk Hanifa.

Menunggu dalam keheningan,  Fero terus menatap gadisnya,  kekasihnya,  orang yang sangat dia sayangi.  Benar-benar tidak nyaman melihat gadisnya yang hanya berdiam seperti ini,  rasanya ia kehilangan semangatnya.

Cup

"Cepat sembuh,  bidadariku." bisiknya lembut.

----

Sementara itu,  Fadil sudah berada di rumah sakit,  ia mengajak Vania ke kantin untuk makan malam,  dan ingin membicarakan sesuatu. 

"Tadi,  di rumah aku lihat sepatu Hani basah,  pas aku periksa ke kamar mandi,  bajunya juga basah. Sepertinya dia kehujanan makanya demam."ujar Fadil

"Gitu ya mas,  tadi nggak lihat udah keburu lihat Hani ngingau ketakutan gitu.  Tapi kayaknya dia lagi ada masalah deh."

"Mau cek hpnya juga nggak bisa,  soalnya dipassword. Tapi,  takutnya salah satu dari mereka mulai mengganggu Hani."

"Bisa jadi sih mas,  soalnya ya tadi tuh Hani ngigau aneh-aneh gitu lah."

"Biar nanti,  mas yang selidiki. Kamu cukup pantau keadaan Hani biar dia selalu baik-baik aja."

"Iya mas."

Obrolan itu terhenti dan di ganti dengan saling menghibur satu sama lain,  semenjak ada Hanifa,  mereka jarang bisa berdua.  Karena mereka benar-benar ingin menjadi orang tua untuk Hanifa,  dulu mereka meminta Hanifa untuk memanggil mereka dengan sebutan mama dan papa,  tapi dia tidak mau,  katanya orang tua Hanifa masih ada,  jadi mereka sudah cukup menjadi bibi dan pamannya.

Ceklek...

"Hani belum sadar juga, Fer?" tanya Vania sambil menyimpan baju ganti Hanifa. 

"Belum tan,  kayaknya pengaruh obat deh."

"Gitu ya,  ya udah kamu pulang aja, ini udah malem. Ada tante sama om yang jagain Hani,  nanti ibu kamu khawatir loh. Lagian besok kamu sekolah."

"Ya udah, Tan.  Aku pamit pulang ya,  om-tante."

"Iya. Hati-hati di jalan."

----

Saat semuanya terlelap,  Hanifa terbangun menatap lurus ke arah lampu. Fikiranya berkecamuk,  meminta untuk dibebaskan.

Padahal,  sebentar lagi dia harus menghadapi berbagai ujian di sekolah. Tapi, keadaan menginginkan ujian yang lebih. 

Gadis itu sudah terbangun dari saat Fero masih ada,  bahkan bisikan itu ia dengarkan.  Usapan lembut di keningnya membuatnya ia terbangun,  tapi menyadari bahwa dirinya berada di rumah sakit,  ia kembali memejamkan matanya,  ia malas untuk menghadapi beberapa pertanyaan berbentuk introgasi dari orang sekitar.

Memejamkan matanya erat,  lalu membukanya kembali.

"Baiklah Hani,  kamu harus lebih kuat dari ini!" batinya bersorak.

----

Esok paginya,  semua nampak damai,  membuka mata yang langsung di hadapkan dengan empat mata yang sedang memperhatikannya. 

"Akhirnya,  bangun juga." ucap Vania dan Fadil bersamaan.

"Ada yang sakit nggak?  Kamu butuh apa,  ayo bilang?" tanya Vania

Hanifa tersenyum tipis " Aaa--ahkkk sakit duhh..." erang Hanifa dengan memegang perutnya.

"Kamu kenapa,  Han? Ayo bilang sama om." seru Fadil yang menjadi ikut panik.

"Aaarrgghhh,  sakit!!  Aku lapar... " ucapnya dengan seringai jahil.

Vania menepuk keningnya,  sedangkan Fadil mencubit hidung mancung itu.  " Usil ya kamu!" ucapnya gemas.

"Ih,  aku serius, om. Aku tuh lapar,  dede lapar astaga."

Vania menggelengkan kepalanya, benar deh anak ini,  sangat membuat hidupnya berwarna. 

"Ya sudah,  om beliin,  sekalian kamu mau makan apa, sayang?" ucapnya lalu bertanya pada Vania.

"Bubur aja sekalian,  biar Hani ada yang nemenin."

"Ah,  tante emang terbaeq." seru Hani  dengan jahil.

----

Setelah pulang dari rumah sakit,  esoknya Hanifa berangkat sekolah.  Dengan semangat baru,  seolah dia siap untuk berperang.

"Lalalalala...."

"Pagi,  pak satpam!" serunya menyapa pak Dirman seperti biasanya.

"Eh,  neng seperti biasa ya,  pagi hari dengan semangat tinggi!"

"Iya dong pak,  bapak juga harus semangat dong!"

"Siap komandan!"

Hanifa tertawa menanggapi pak Dirman yang benar-benar lucu.

Menatap gedung sekolah yang megah itu, lalu berkata " Ujian cepat datang!  Aku pengen cepet-cepet lulus!" serunya lantang.

----TBC----

Baiklah,  nggak kerasa Hanifa sudah mau lulus sekolah gais,  kehidupan yang nyata akan segera di mulai!!

Jeng... Jeng... Jeng....

Ujian buat kalean para pembaca
1. Cobalah untuk komentar setelah membaca.
2.Tekanlah gambar bintang untuk memberikan Vote
3.Share link cerita ini ke teman-teman kalian. 😂

Tolong di kerjakan ya😘

Choice ( SELESAI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang