Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Part 21

508 30 0
                                        


Pagi ini begitu cerah, Hanifa bangun dari tempat tidurnya, mendapati dirinya yang yeah seperti zombi yang nyata.

Kelopak matanya menghitam bagaikan mata panda, wajahnya lebih pucat, dan seperti tak memiliki gairah untuk menjalani kegiatan di hari ini.

"Huh..." gadis itu menghela napas.

Tok... tok... tok...

"Hani, cepat bangun. Kenzie udah nungguin kamu."

"Iya, Tan. Aku mau mandi dulu."

Semalam gadis itu mimpi buruk, ah tidak, sebenarnya semenjak semuanya telah berakhir, gadis itu sulit untuk tertidur dengan tenang. Maka, pantas saja jika ia terlihat seperti zombi sekarang. Ditambah dengan perkataan Fero saat itu membuatnya penasaran akut, tapi dengan mengesalkannya Fero mendadak hilang dari jangkauannya.

Hari ini, ia akan ikut Kenzie ke Jogja untuk mengunjungi rumah sang nenek. Karena Kenzie sedang libur semester selama satu bulan ke depan. Lebih tepatnya, Kenzie yang mengajak Hanifa, karena jujur saja lelaki itu sangat sebal melihat adiknya terlihat begitu berantakan, ia harus membuat Hanifa melupakan semua yang terjadi terutama tentang Fero.

"Sudah siap?" tanya Vania.

"Udah, Tan."

"Ya udah, hati-hati. Jaga dirimu selalu dan berbahagialah."

Hanifa tersenyum lalu memeluk Vania, ia butuh pelukan itu, agar ia merasa Dewina yang menenangkan dirinya.

"Tenang aja, Tante. Pasti di Jogja Hanifa senang banget."

"It's okay, Tante percaya sama kamu."

Hanifa menatap rumah itu sejenak, melihat keadaan dan suasana di sekitarnya. Mungkin, ia memang harus beristirahat sejenak.

"Selamat tinggal, Tante!"

"Bukan selamat tinggal, tapi sampai jumpa lagi, Hani!"

Hanifa tersenyum, "Ah iya, dadah!" seru Hanifa sembari melambaikan tangannya.

"Siap?" tanya Kenzie.

"Yup," jawab Hanifa yakin.

Kenzie pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara Hanifa duduk terdiam, memperhatikan jalan yang mungkin akan dia rindukan.

Ah, menyebalkan sekali. Kenapa seolah-olah dia akan pergi begitu lama.

"Tidur aja, perjalanan masih panjang," seru Kenzie memperingati, karena jarak Bandung dengan Jogja membutuhkan waktu sepuluh jam jika menggunakan mobil. Kecuali, jika perjalanan tidak macet.

"Iya," jawab Hanifa pelan. Lagi pula, gadis itu memang membutuhkan tidur yang cukup.

Setelah itu, semuanya menjadi gelap, hanya alam mimpi yang menyambutnya dengan senang hati.

"Get well soon, my girl."

---

"Han..."

"Hani..."

"Han...?"

Kenzie menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dia berusaha membangunkan Hanifa pasalnya gadis itu mengigau memanggil nama Fero.

Choice ( SELESAI) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang