Hari ini, semua orang duduk menunggu hasil tes DNA. Hanifa hanya duduk di samping Fero dan Haris. Dua orang lelaki yang sangat berharga dalam hidup Hanifa.
Aditya duduk bersama Belyna. Gadis itu akhirnya keluar kamar setelah Aditya mengancam tidak akan membiarkan Hanifa masuk ke rumah jika Belyna tetap mengurung diri.
Ceklek...
Suara pintu yang terbuka berhasil membuat semua orang berdiri.
"Dengan Bapak Aditya?"
"Iya, saya Pak."
"Ini hasil lab-nya Pak. Bapak bisa membaca sendiri hasilnya."
"Kalau begitu saya permisi," ucap petugas rumah sakit.
Setelah petugas rumah sakit itu pergi Aditya membaca semua hasil tes DNA itu, ternyata benar, Hanifa adalah putrinya yang telah hilang saat masih bayi dulu. Dia tidak menyangka, Dewina adalah orang yang dulu pernah ia tabrak. Karena tidak mengenalnya, Aditya tertipu dengan sikap manis wanita itu. Sampai ia membiarkan wanita itu menghancurkan keluarganya. Aditya merasa gagal menjadi seorang ayah dan juga kepala keluarga.
Aditya langsung menghampiri dan memeluk Hanifa erat.
"Akhirnya kamu pulang Nak. Maafkan Papa yang tidak becus menjagamu, maafkan Papa yang tidak mengenalimu," ucapnya sendu.
Hanifa menangis begitu pula dengan Belyna. Mereka bertiga berpelukan bersama menangis haru karena telah menemukan sesuatu yang telah lama hilang dalam keluarga itu.
Semua orang pun tersenyum bahagia, akhirnya Hanifa menemukan kebahagiaannya.
---
Dua bulan kemudian...
Semuanya tampak kembali normal, Aditya dan Belyna sudah mengikhlaskan Aleta. Mereka sudah berbahagia dengan kehadiran Hanifa, mereka saling mengisi satu sama lain, melengkapi semua kekurangan.
Aditya sudah dihadapi dengan kesibukan pekerjaannya di kantor. Sedangkan Belyna saat ini sibuk dengan Fera untuk memilihkan gaun untuk Hanifa.
Malam ini, adalah malam pertunangan Fero dan Hanifa. Jadi, jelas saja kedua gadis itu tampak sibuk.
"Coba deh pakai yang ini, cepat sana masuk," ucap Belyna memberikan gaun berwarna merah cerah.
Sementara Hanifa menggeleng keras. "Lo gila! Ini warna merah cabai? Lo pikir gue mau jadi cabe-cabean? Mana pendek lagi gaunnya," protes Hanifa.
Belyna mendengus sebal, "Ini tuh bagus buat lo, biar lo tampil berani. Jangan main aman mulu, biar Fero klepek-klepek sama lo."
"Selera Kak Fero bukan kek gitu, Bel," tambah Fera.
"Selera dia tuh yang anggun bukan kek cabe-cabean gini."
"Yang bagus tuh yang ini nih," ucap Fera menunjukkan gaun berwarna hitam dengan belahan di bagian kaki samping.
"Lo juga Ra! Gaun model apaan yang nonjolin paha gue, ogah ah," protes Hanifa.
"Noh kan, Hani nggak suka! Lagian lo milihin gaun buat pertunangan atau buat ngelayat sih, Ra!" balas Belyna.
Setelah itu hanya ada perdebatan antara Fera dan Belyna, cukup membuat Hanifa pusing tujuh keliling.
"Woy, yang mau tunangan itu gue, kenapa kalian yang repot. Pilih aja gaun buat kalian sendiri sana!" ucap Hanifa kesal.
---
Saat ini Hanifa didampingi Vania dan Milla. Hanifa tampak gugup, menunggu waktu yang sebentar lagi akan menjadi hari penting untuknya. Meski hanya baru bertunangan, tapi Hanifa benar-benar bahagia karena akhirnya hubungannya dengan Fero melangkah tidak diam di tempat seperti dulu.
"Mama, Tante, aku gugup nih," ucap Hanifa dengan gemetar.
Vania dan Milla tersenyum. "Kamu jangan gugup, ini kan hari bahagia kamu Sayang," ucap Vania.
"Iya, harusnya kamu bahagia bukan gugup, ayo senyum," ucap Milla.
"Tapi, nanti banyak orang kan. Gimana nanti kalau aku ceroboh. Aku kan ceroboh orangnya, gimana nanti aku ngancurin acaraku sendiri, kan malu-maluin."
"Kan ada gue, jadi nggak akan malu-maluin," ucap Belyna yang baru saja datang langsung memeluk Hanifa dari belakang.
"Enak banget ya lo ngomong," timpal Hanifa.
"Ya enak lah, kan lo yang jalanin, gue mah cuma ngomong doang," jawab Belyna.
"Duh, rasanya pengen nangis bahagia tapi takut maskara gue beleber..." ucap Hanifa haru.
"Kan nggak lucu, yang mau tunangan ceweknya kek kunti," tambahnya.
Sementara Vania dan Milla tertawa mendengar jawaban dari Hanifa.
"Mana ada, udah bayar make up artist mahal-mahal maskaranya nggak waterproof," protes Belyna.
"Ya kali aja abal-abal kan bisa."
"Pilihan gue selalu terbaik ya, jangan bilang abal-abal."
Hanifa tersenyum gemas, "Iya-iya adikku sayang, makasih ya udah pilihin yang terbaik buat kakakmu ini," ucap Hanifa dengan mencubit kedua pipi Belyna.
"Make up gue!" protes Belyna.
Semua orang pun tertawa.
"Hani, ayo turun," ucap Aditya yang menyusul Hanifa.
Mendengar perintah ayahnya, Hanifa pun menurut, dan menerima uluran tangan dari Aditya. Diikuti oleh Milla, Vania dan Belyna yang berjalan di belakangnya.
Saat menuruni tangga, Hanifa memegang erat tangan ayahnya. Gadis itu benar-benar gugup melihat banyaknya orang yang menghadiri pestanya.
Tapi, rasa gugupnya perlahan menghilang saat ia berjalan menghampiri Fero yang sedang memegang bunga di tangannya.
Hanifa tersenyum manis, lalu memindahkan tangannya dari Aditya ke Fero. Setelah memberikan bunganya pada Hanifa. Semua orang langsung terdiam, ketika Fero berlutut di hadapan Hanifa. Kemudian Fero mengambil sebuah kotak cincin yang berada di sakunya.
"Hanifa Vinanda, will you marry me?"
Hanifa menganggukkan kepalanya cepat, "Yes! I say yes!" ucap Hanifa dengan menangis haru. Dia tidak bisa menahan air mata bahagianya.
Setelah memasangkan cincinnya, Fero memangku Hanifa dan berteriak "She's say yes!"
Hanifa merangkulkan tangannya pada leher Fero kemudian mereka tertawa bahagia bersama.
-TAMAT-
Akhirnya selesai juga 😭
Eits... Tapi masih ada bagian Epilog ya, tetap tunggu ❤
Jangan lupa vote dan komen untuk terakhir kalinya 😂
KAMU SEDANG MEMBACA
Choice ( SELESAI)
Teen FictionPeringkat #1 'depresi' Agustus 2020 Peringkat #1 'berat' Oktober 2020 Peringkat #3 'mandiri', Oktober 2020 Peringkat #6 'sederhana' Oktober 2020 Peringkat #7 'choice' Oktober 2020 - Selesai- Liku-liku kehidupan seorang gadis bernama Hanifa Vinanda...
