Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Part 26

473 35 0
                                        

Tidak terasa waktu begitu cepat, sudah tiga bulan Hanifa bersama Cakra dan ibunya.

Kini Hanifa bekerja sebagai kasir toko, karena Hanifa juga berpengalaman. Selain itu, memang Cakra yang merekomendasikan Hanifa ke pemilik toko, jadi sekarang dia sudah bekerja. Sedangkan Cakra dan ibunya meminta Hanifa tinggal bersama mereka saja. Karena untuk mencari kontrakan, Hanifa harus mempunyai pekerjaan yang memberikan dirinya gaji yang besar. Sedangkan di toko itu Hanifa hanya mendapat gaji sekitar tujuh ratus ribu rupiah, jika ia ngontrak atau ngekos, uangnya bisa habis untuk kontrakan saja. Berbeda jika ia tinggal bersama Cakra dan ibunya, ia bisa menggunakan uang itu untuk keperluan hidupnya.

"Nih, minum," ujar Hanifa dengan memberikan sebotol air minum yang ia bawa dari rumah.

"Makasih," ucap Cakra, dan menerima minuman itu.

"Hari ini capek banget ya, karena si Deni nggak masuk kerja."

"Iya nih, mana berasnya banyak lagi."

Yaps, Hanifa dan Cakra bekerja di tempat yang sama, Hanifa bagian kasir dan Cakra bagian gudang. Mereka bekerja di toko sembako yang besar di pasar ini.

Penampilan Hanifa kini berganti, gadis itu memakai kacamata, rambutnya kembali menjadi warna hitam, saat ini ia hanya mengepang rambutnya dan menggelungnya. Mirip emak-emak sih, apalagi selama ini ia memakai baju dari ibunya Cakra, tapi tak apa lah, itu cukup untuk penyamaran.

Ia juga hanya mampu membeli tiga baju selama ia bekerja di sini, itu juga hanya kaos sederhana dan rok panjang.

Tapi, Hanifa sendiri bersyukur karena selama tiga bulan terakhir hidupnya agak lebih tenang. Tidak ada televisi di rumah Cakra, jadi ia merasa tenang tidak melihat pernikahan Fero dan Aleta.

Selama bekerja pun, dia fokus ke pekerjaannya, jadi sedikit demi sedikit hidupnya kembali normal, bahkan menjadi lebih baik.

Terkadang dia berpikir, apa dia akan pulang ke tempat itu suatu saat nanti? Atau dia lebih baik tinggal di sini selamanya.

"Kok bengong sih, kamu kenapa?" tanya Cakra.

"Eh, nggak kok, cuma kepikiran besok gajian mau beli apa ya, hehe."

"Tabung aja, Fa. Biar kamu bisa pulang ke kota asal kamu."

"Nggak ah, lagian juga aku nggak punya siapa-siapa," jawab Hanifa berbohong.

"Eum, Fa. Sebenarnya kemarin ada yang nanya ke aku, dia cari seseorang namanya Hani kalau nggak salah, tapi mirip banget sama kamu."

"Hah!?" pekik Hanifa terkejut.

"Kok kaget?"

"Ah—eh, enggak, mungkin cuma mirip aja."

"Udah ah, jangan dibahas, aku mau lanjutin kerjaan aku."

"Oh, oke."

"Tapi, Fa. Kalau kamu mau cerita boleh kok."

Hanifa menghentikan langkahnya.

"Enggak deh, Cak. Cerita apaan juga aku nggak ngerti."

"Aku tahu kamu bohong."

Choice ( SELESAI) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang