Part 13 : Ngambek

669 96 14
                                        

"Kalau bisa memiliki semuanya, kenapa harus memilih."


°°°

"Kemarin gue ngeliat Milla, di rebutin tiga cowok, rasanya kok nyeseknya sampe ke tulang pantat ya," curhat Putra pada Enzo.

"Emangnya kenapa? Lo cinta banget ya sama Milla?" Tanya Enzo.

"Bukan. Celana dalem gue kekecilan. Jadi nyelip mulu, cape beut gue benerin nya. Sumpah! sampe nyesek!" Jawab Putra.

"PUTRA ANJING! Nyeselkan gue dengerin curhatan lo!" Enzo langsung memiting leher Putra, yang sedang terkekeh sampai mengeluarkan air liur.

Sontak Badrun, Arsalan, Danial, dan Savian, terbahak hingga guling-gulingan di lantai.

"Woi! Ngelawak mulu, laper nih perut gue, kantin nyok!" Seru Danial.

"Ini kan udah di kantin, panjul!" Jawab Savian.

"Oh iya ya, anemia nih lama-lama gue," ujar Danial.

"Amnesia bodoh amnesia," ucap Arsalan.

"Sama aja, masih sodaranya itu," ujar Danial.

"Serah!" Ketus Arsalan.

"Mau makan apa nih, man teman," tanya Badrun.

"Gue bakso aja deh," jawab Enzo.

"Samaan deh semunya, bakso juga," ujar Savian.

"Udah punya bakso, kok masih aja pada makan bakso, heran gue," ucap Putra.

"Itu mah bakso tanda kutip, kampret!" jawab Enzo, Putra pun terkekeh.

Rasanya ada kesenangan tersendiri buat Putra, jika bisa membuat sahabatnya yang bernama Enzo marah.

"Pake selai stoberi gak?" Tanya Putra.

"Jangan! Pake meses warna warni aja," ucap Badrun.

"Gue pake selai coklat ya," ujar Danial.

"Kalo gue kejunya dobel, jangan lupa taburin susu yang banyak," ucap Savian.

"Rasa red velvet enak kayaknya deh," ujar Arsalan.

"ANJING! Mau makan bakso, apa pisang bakar sih lo pada," ujar Enzo kesal.

Untuk kesekian kali, Putra, Danial, Arsalan, Savian dan Badrun, terpingkal sekabupaten.

"Sabar Om, lebaran masih lama, jangan marah-marah mulu, lagi pms apa ya?" Ucap Putra.

"Putra ganteng sih, tapi otaknya rada konslet makanya gak ada cewek yang mau," kekeh Badrun.

"Suombong tenan, sampeyan Cak, mentang-mentang udah punya Nagita, biarin aja ntar Nagitanya gue ambil," ketus Putra.

"Jancuk! Berani rebut Nagita, tak clurit sampeyan," Badrun melirik ke arah Putra.

"Canda elah, gitu aja sensititit," ujar Putra.

"Sensitif pea," ucap Danial.

"Nah itu, maksud gue itu," kekeh Putra.

Camilla, Nagita, dan Surti baru saja tiba di kantin.

"Enzo, udah pesen makan belum?" Tanya Camilla. Kemudian Camilla duduk di kursi kosong di hadapan Enzo, di susul oleh Nagita dan Surti.

"Udah," jawab Enzo.

"Maaf telat," ucap Camilla.

"Udah biasakan telat!"

"Hmm, Enzo kenapa sih?" Camilla memandang Enzo lekat-lekat, "Enzo lo sakit?" Camilla memegang kening Enzo.

EnzoCamilla (Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang