Aku bangun begitu suara adzan subuh terdengar, TV masih menyala. Yaampun, aku lupa mematikannya saat tidur. Aku terdiam sesaat, tak ada yang mematikan TV saat aku ketiduran, itu berarti Javas tidak pulang.
Aku segera bangkit dari sofa tempat tidur, berjalan kearah kamar mereka yang kosong. "Benar, Javas gak pulang semalam"
Sekar segara mengecek ponselnya namun pesan yang di kirimnya sama sekali tidak ada balasan, bahkan sepertinya Javas tidak membaca.
Kemana Javas ?
Aku kembali mencoba menelponnya, tapi lagi-lagi tidak ada jawaban.
Hatinya entah kenapa menjadi tidak tenang, ada rasa khawatir.
Apa Javas lembur lagi ?
Tapi selama ini walaupun lembur Javas pasti tetap pulang
Bahkan Javas akan memberinya kabar ketika dia akan pulang malam karena lembur
Tapi ini ?
Dia bahkan menunggu Javas sampai dia ketiduran dan Javas gak pulang semalaman.
Sekar masih di bayang-bayangi rasa khawatir, dia berjalan kearah kamar mandi, mengambil wudhu untuk sholat subuh, mungkin dengan sholat dia akan merasa tenang dan rasa khawatirnya sedikit berkurang.
***
"Javas"
Perlahan-lahan mata pria itu terbuka, menampilkan wajah Putri yang sudah betdiri di depannya, nadanya rasanua remuk karena semalaman tertidur di kursi.
"Jangan tidur disini, tidur didalam aja, ada sofa kok"
Javas mengusap wajahnya dan menggeleng "Gapapa, aku disini aja, gimana keadaan papah kamu ?"
Dia menatap Putri dengan cemas, dia tidak bisa pulang, mengetahui kondisi Putri rasanya sangat kejam kalau dia meninggalkannya sendiri, bahkan orang tuanya masih belum sadar karena di berikan obat penenang dengan dosis tinggi.
"Masih belum sadar, tapi udah gak apa-apa kok" jawabnya membuat hati Javas lega.
Javas bangun dari duduknya "Kalo gitu aku sholat dulu ya"
Javas berjalan melewati lorong-lorong yang di sebelahnya kanan kirinya adalah ruangan rawat, sesekali Javas melihat pasien yang keluar sambil tersenyum-senyum sendiri, bahkan ada yang bicara sendiri, tidur di lantai dan sebagainya.
Tidak terbayang jika Putri harus berjalan seorang diri di lorong ini, melihat pemandangan ini, entah kenapa itu sukses membuat Javas merasa iba. Dia tidak menyangka tentang fakta yang baru dia tau, bahkan Radit baru mengetahuinya, Javas menelponnya sengaja untuk bertanya, namun Radit bahkan gak tau apapun, sama sepertinya, dia juga kaget. Javas tidak habis pikir bagaimana bisa Putri diam saja dan menanggung semua sendiri.
Dia benar-benar merasa kasihan, apalagi saat Javas ingin mengantar Putri pulang wanita itu tidak mau, saat dia bertanya kenapa, Putri hanya menjawab dia tidak mau membuat dia semakin gak tega bila harus meninggalkan Putri sendirian, dia perempuan dan berada di rumah sakit jiwa, dimana banyak pasien yang mungkin akan bertindak di luar dugaan itu membuatnya kahwatir dan tidak berani meninggalkannya dan memilih menginap semalaman.
Lalu Sekar ?
Sekar ?
Oh yaampun. Dia lupa memberi kabar!
Javas memeriksa ponselnya dengan terburu dan benar saja, ada banyak panggilan tidak terjawab dan beberapa pesan yang belum dia baca, itu dari Sekar.
Sekar pasti mengkhawatirkannya, semalaman tidak pulang, tidak memberi kabar, bagaimana dia bisa segoblok ini melupakan istrinya sendiri.
