Pemberitahuan/Kejutan ?

12 0 0
                                        

"Sekar, gimana kalau kita pindah dari sini?"

Javas tiba-tiba bersuara setelah terdiam beberapa menit di meja makan, Sekar menatapnya dengan bingung "Maksudnya ? Kenapa memangnya, Mas ?" Jawabnya.

Javas menaruh sendoknya, sepertinya sudah tidak ingin melanjutkan sarapan "Aku ngerasa apartemen ini udah terlalu kecil aja"

Ini hanya alasan sebenarnya.

Kemarin sejak aku pulang dari rumah sakit itu, aku terus memikirkan Putri, wanita itu selalu menganggu pikirannya, membuat dia menjadi kepikiran terus. Dia baru tau kalau Putri tidak punya tempat tinggal yang layak, hidup di kontrakan yang kecil dan makan seadanya, membuat dia merasa iba dengan Putri, ada rasa tidak tega, dia akan berpikir jahat bila dia tidak membantu wanita itu, tidak bisa dipungkiri, hati Javas masih memiliki getaran setiap mereka tengah bersama, meski tidak sebesar dulu, tapi dia masih bisa merasakannya.

Lalu apa hubungannya dengan pindah tempat tinggal ?

Aku berpikir untuk mengajak Putri tinggal di apartemen ini dan aku pindah ke rumah yang di wariskan untuknya, ayahnya langsung membelikan dia rumah begitu tau dia akan menikah dengan Sekar tetapi saat itu dia menolak karena dia rasa Apartemen saja sudah cukup untuk dia dan Sekar tinggal, tapi dengan adanya kasus ini... Dia rasa mereka harus pindah ke rumah itu.

Dia tau, pasti ada banyak pertanyaan saat ini yang bersarang di diri Sekar, dia tau itu. Tapi dia harus melakukan ini, meski bukan sebagai kekasih, dia ingin membantu Putri sebagai teman.

"Pindah kemana, Mas ?" Tanya Istrinya.

"Ada rumah yang dibeliin papah sebagai hadiah pernikahan kita, kamu mau ya pindah kesana ?" Aku menatapnya sambil dalam hati terus memohon maaf, aku belum bisa jujur pada Sekar meski hatinya terus memaksanya untuk bicara jujur tapi mulutnya benar-benar tidak sanggup.

Dia akan memberitahu Sekar nanti, pada saat yang tepat.

Kapan ?

Nanti, Nanti saja.

"Rumahnya Deket kantor aku sih, kamu mau ya pindah?" Aku kembali membujuknya, wah! Aku benar-benar seperti pria brengsek yang ada di tv, menyuruh istriku pindah untuk mengajak wanita lain tinggal di apartemen.

Maaf Sekar, aku janji akan memberitahu kamu secepatnya.

Dia tidak bermaksud menyakiti istrinya, sungguh! Karena aku tau aku pasti akan menyesal jika menyakiti hati perempuan.

Sekar wanita yang baik, benar-benar baik, meski aku tau dia tidak mencintaiku tapi dia benar-benar merawatku dengan baik, dia mengatur pola makanku hingga penyakit darah rendahku sudah jarang kambuh.

Bahkan sanking baiknya aku sampai cemburu jika ada orang lain yang dia perlakukan seperti dia memperlakukan aku, aku mengakuinya bahwa aku memang cemburu. Aku benci setiap ada pria lain mengganggu istriku, aku tidak tau perasaan apa itu, tapi aku hanya cemburu. Ingat, hanya cemburu!

"Kapan kita pindah, Mas ?"

Oh ya, suara Sekar. Dia menyukai suara wanita itu, meski dia marah sekalipun Sekar tetap konsisten, suaranya benar-benar lembut, hatinya benar-benar dibuat tenang hanya mendengar suara itu. Ini jujur, dia suka setiap Sekar bicara, itu yang membuatnya betah berlama-lama di dekat Sekar.

"Besok ?" Ujarku tidak begitu yakin.

Aku melihat Sekar kaget mendengar jawabanku, aku bicara begini karena agar aku bisa secepatnya mengajak Putri pindah, aku hanya ingin membantu saja.

"Berarti sekarang harus siap-siap dong, mas kok ngomongnya dadakan gini, aku belum packing loh, aku juga masih harus ke kampus hari ini"

Sekar panik namun itu membuatku tersenyum, wajah Sekar terlihat lucu saat ini dan aku menyukainya.

"Yaudah gampang kok, entar aku suruh kurir aja beresin, baju-baju di dalam lemari juga bisa kok diangkat tanpa harus di keluarin, jadi tenang aja"

"Tapi Mas..."

"Yaudah ayok aku anter kamu ke kampus"

Javas bangun dari duduknya dan lagi-lagi ucapan Sekar adalah...

"Ngak usah Mas, gapapa kok, aku berangkat sendiri aja naik mobil"

See... Dia sudah menduga Sekar akan bilang begitu. Dasar cewek!

"Enggak! Aku anterin" tegas Javas lalu berjalan mengambil ponselnya yang ada diatas meja ruang tamu.

"Aku udah mandi jadi gak perlu kabur, aku bakal nunggin kamu sampai selesai makan"

Javas gak mau kecolongan lagi, jadi dia sengaja sudah mandi sebelum sholat subuh jadi istrinya itu tidak bisa ngeles lagi untuk alasan agar dia tidak perlu mengantarnya.

"Lagian aku hari ini juga ada jam ngajar di kampus kamu"

"Hah?! Kok bisa ?!"

Oh iya, dia lupa satu hal, dia sudah terima tawaran menjadi dosen mahasiswa Arsitektur, meski tidak setiap hari tapi dalam seminggu dia harus hadir dua hari untuk mengajar mahasiswanya.

"Kemarin pas aku ke kampus kamu itu karena Pak Rektor manggil aku dan minta aku untuk jadi dosen jurusan Arsitektur di kampus kamu"

Tamat!

Bukan cerita, tapi hidupnya. Hidup kamu bakalan tamat, Sekar!

"Kok Mas Javas baru ngasih tau!"

Gak selow, Sekar bicara ngegas sangking kagetnya.

"Maaf, aku lupa" jawab Javas terlalu Selow, berbanding terbalik dengan tatapan gak selow Sekar.

"Terus?" Tanya Sekar masih tidak percaya.

Ini masih pagi tapi kenapa udah ada yang bikin dia jantungan begini!

Javas mendelik bahu "Ya gak terus-terus, entar nabrak"

"Mas Javas serius!"

Bisa-bisanya suaminya ini bercanda disaat jantungan bahkan hampir mau keluar karena ucapannya.

Kalau Javas jadi dosen

Otomatis Javas akan kekampusnya

Walaupun gak setiap hari, tapi...

Terus nasib dia gimana ?

Gimana kalau rahasianya kebongkar

Terus, gimana reaksi teman-temannya

Lusi, Anto, Wisnu...

Gimana?!

"Udah selesai belum makannya ? Ayok berangkat"

Javas berdiri didepan, dengan tampang super nyebelin, di senyum. Senyum super nyebelin sambil memutar kunci mobil dengan jari telunjuknya.

"Tenang aja, aku gak akan bilang siapa-siapa, kita orang asing kalau di kampus"

Ucapan Javas entah kenapa begitu santai tapi mampu membuat Sekar merasa tersentil dan tidak enak hati.

Istri durhaka yang tidak mau mengakui suaminya

Kayaknya cocok banget buat Sekar kata-kata itu, dia merasa benar-benar tidak nyaman ketika Javas bicara seperti itu, Javas seolah paham dengan isi hatinya dan gestur Javas yang santai, entah kenapa malah membuat Sekar jadi merasa bersalah.

"Mas..." Sekar ingin berkata, tapi entah kenapa dia menjadi kelu, dia bahkan bingung ingin bicara apa.

"Gapapa, aku paham kok" jawab Javas kali ini diiringi senyum super lembut yang membuat Sekar benar-benar merasa bersalah sekaligus merasa tenang.

"Ayok! Siap-siap sana, aku tunggu di parkiran ya"

Javas berjalan kearah pintu keluar, meninggalkan Sekar yang masih mematung di meja makan.

Mas Javas, maaf...

Sekar merapikan segalanya, menaruh piring kotor kedalam mesin cuci piring lalu mengambil tas dan ponselnya, dia siap berangkat. Dengan perasaan berkecamuk.

Masih pagi, tapi kenapa hatinya sudah begini ?

Pertama soal pindah rumah

Kedua soal Javas menjadi dosen

Javas benar-benar jago, dia bahkan merasa sedang di prank sama suaminya sendiri.

Lost On YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang