Fakta (1)

20 0 0
                                        

Benda hilang tak bertuan
Tak ku sangka akan sangat menyesal

Namun penyesalan tak ada guna
Benda hilang sudah beralih tangan

Hanya bisa menatap penuh penyesalan

- Dear997 -

***
Aku berlari di lorong putih sendirian, jantungku berdegup kencang, perasaan khawatir terus muncul.

"Aldo!"

Aku melihat Aldo berdiri di depan ruangan sama sepertiku, dia juga tampak cemas. Apa separah itu ?

"Gimana ?" Aku bertanya menuntut jawab, namun Aldo hanya terdiam menunduk. Sial.

"Gimana keadaannya ? Kok bisa sampai begini ?" Aku kembali memberondongnya dengan pertanyaan, aku tau Aldo sedang shock, namun aku tidak peduli.

"Lift bangunan tiba-tiba jatuh, Pak"

Ucapan Aldo entah kenapa mampu membuat buluk kuduknya berdiri, bayangan lift yang entah kenapa sangat amat mengerikan.

"Lalu Putri ?"

Ini yang sedari tadi ingin dia tau, wanita itu yang membuatnya mengebut, membuatnya berlari dengan perasaan panik di dalam hati, telepon Aldo yang memberi kabar tentang kecelakaan di lokasi saja sudah membuatnya kaget ditambah fakta baru bahwa Putri terlihat dalam kecelakaan itu yang semakin membuatnya panik bercampur khawatir.

"Saya juga gak tau, Pak"

Aku menghembuskan nafas gusar, aku dan Aldo kembali terdiam dengan perasaan berkecamuk, menunggu dokter yang sedang berusaha di dalam sana.

***

Aku mengutak-atik tombol pintu apartemen itu, namun lagi-lagi tidak terbuka, aku hampir frustasi menunggu Javas pulang, namun sudah tiga jam, pria itu tak kunjung pulang.

Aku tidak bisa masuk ke Apartemen karena ternyata Javas sudah menyuruh orang untuk mengganti paswordnya, aku bahkan bertanya pada petugas disana dan memang benar, Javas sudah menyuruh kurir pindah rumah itu untuk mengubah paswordnya dan itu hanya Javas yang tau.

Badanku luruh dilantai, memegang perut yang perlahan mulai kelaparan, aku bahkan tidak bisa membeli makan karena dompetku tertinggal di dalam mobil, bahkan aku bisa sampai kesini karena masih ada uang di celana jeans ku, jika tidak pasti aku sudah jalan dari kampus ke apartemen.

Sebenarnya dimana Javas ?

Aku melihat ponselku dengan perasaan sedih, Javas tak kunjung membalas pesanku, tak juga mengangkat telepon dariku, baterai handphone ku bahkan sudah hampir habis. Bagaimana jika ponselku benar-benar dan Javas tak kunjung pulang, apa aku harus tidur di lorong apartemen yang sepi ini.

Mas, kamu dimana ?

Jika aku tau alamat rumah baru yang diberikan mertuanya untuk mereka dia pasti sudah kesana, namun Javas belum memberitahunya jadi bagaimana bisa dia kesana, ini membuatnya semakin frustasi.

Pukul sembilan dan itu artinya sudah empat jam aku disini, menunggu Javas yang tak kunjung pulang.

Bagaimana kalau Javas lembur ?

Lost On YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang