Empat Tokoh Utama

3.1K 386 183
                                    

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Usai mengobrol cukup lama di warung kopi, Taeyong dan Herdian pulang untuk istirahat. Taeyong bergegas masuk ke kamar untuk menemui Naura, tetapi tidak menemukannya di kamar. Niat awal ingin mencari di sekitar rumah, segera diurungkan tepat saat Naura masuk dan terkejut melihat Taeyong sudah pulang setelah pergi dengan Herdian. Jujur, Taeyong jadi sedikit parno bila tidak melihat Naura sebentar saja kalau sedang di sekitar rumah. Bisa dibilang, Taeyong takut kalau harus ditinggalkan oleh Naura lagi. Barulah setelah melihat Naura, rasa takut itu lenyap dilalap oleh senyum manis yang disunggingkan oleh sang istri.

Senyum tulus yang Naura tunjukkan tanpa ada pengaruh dari orang lain, hanya Taeyong di depannya.

"Kirain bakal sampai malam sama Bapak."

"Tadinya," kata Taeyong, "tapi aku kangen kamu, jadi minta pulang cepat."

Ya, itu hanya alasan bohong belaka karena kenyataannya Herdian-lah yang lebih dulu menyarankan untuk pulang. Taeyong sengaja memberikan alasan yang sedikit berlebihan, ingin melihat reaksi Naura saat mendengar kata-kata manisnya. Sedikit meleset, Naura hanya mengangguk, tidak terlihat terlalu antusias seperti yang Taeyong harapkan. Namun, itu saja sudah cukup karena setidaknya Naura tidak menghindar dan menyambutnya dengan sukacita.

"Sekarang kamu tidur, ya. Udah malam."

Tanpa diminta dua kali, Taeyong pasti menurut. Namun, kali ini ada hal yang ingin ia lakukan sebelum tidur. Taeyong menutup pintu agar tidak ada orang yang sembarangan masuk, termasuk Si Kembar yang bisa saja masuk sembarangan ke kamar orang tuanya. Taeyong berjalan mendekati Naura, kemudian memeluknya erat.

Taeyong ingin menyampaikan rasa terima kasih dan perasaan bahagianya karena Naura benar-benar sudah menerimanya sekarang. Tanpa mengatakan apa-apa, sekadar pelukan yang bisa membuktikan bahwa rasa yang kuat itu masih ada, mengikat Taeyong dan Naura agar tak pernah saling melepaskan untuk kedua kalinya.

Bahkan kali ini lebih erat karena Naura membalas pelukan itu, memejamkan matanya untuk menikmati dekapan yang perlahan mampu ia terima dengan baik. Dinginnya malam berhasil dikalahkan oleh dekapan hangat Taeyong, membuat Naura betah berlama-lama di dalamnya. Bila waktu harus berhenti barang sejenak, Taeyong rela selama Naura tetap berada dalam dekapannya.

"Aya," bisik Taeyong tepat di telinga Naura, "aku nggak akan pernah bosan bilang ini."

"Bilang apa?"

"Aku sayang kamu."

"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
UnhiddenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang