(Silakan Baca Hidden Words dulu)
Pengantin baru ✔
Punya anak ✔
Lalu... apa lagi?
Ikuti saja kisahnya. Kisah Taeyong dan Naura. Pasangan abu-abu yang kini jauh lebih berwarna dengan kisah barunya.
Hanya kisah sederhana yang mungkin terkesan biasa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kondisi Naura mulai pulih setelah memasuki jam makan malam. Dia sudah bisa bangun dan jalan untuk pergi ke ruang makan, bahkan ikut makan malam bersama anggota keluarganya. Ya, dalam formasi lengkap. Di hadapannya ada Taeyong yang bercanda dengan Taera dan Tiras. Di sebelah kanan ada Taera, serta di sebelah kiri ada Tiras.
Selama makan malam, Naura diam karena masih tidak memiliki tenaga untuk bicara. Bisa merespon ucapan Si Kembar saja sudah syukur sekali. Taeyong tidak terlalu sering mengajak Naura bicara karena tahu kalau istrinya itu masih enggan untuk diajak bicaranya olehnya. Jadi, Taeyong lebih memilih fokus dengan Si Kembar, tetapi tetap mengawasi Naura.
"Papa, kita kapan pulang ke rumah? Taera udah kangen rumah," ujar putra pertama mereka yang terlihat tidak sabar menantikan kepulangannya.
"Kalau Mama udah sembuh, kita pasti pulang. Sabar, ya."
"Tiras nggak sabar mau pulang."
"Emangnya Tiras nggak betah di sini?" tanya Taeyong yang jadi penasaran bagaimana perasaan kedua putranya selama di apartemen Hendery.
"Sebenernya betah banget, Pa. Tapi kalau di sini jauh dari sekolah. Kalau di rumah 'kan nggak terlalu jauh," jawab Tiras yang memberi alasan jarak.
Jawaban Taera cukup mengejutkan Naura yang sejak tadi diam. Selama ini Taera selalu menurut selama tinggal di apartemen, tetapi rupanya tidak pernah merasa senang selama jauh dari rumah. Naura jadi merasa bersalah karena sudah membawa anak-anak dengan kepergiannya dan membuat mereka jauh dari Taeyong. Padahal sudah jelas-jelas Taera dan Tiras begitu bahagia ketika bersama Taeyong.
"Maafin Mama, ya, udah bawa kalian jauh-jauh ke sini."
Taera langsung sadar kalau ucapannya sudah menyinggung Naura. Padahal Taera sendiri yang sudah setuju untuk ikut pergi dengan Naura, tetapi tidak sepenuhnya merasakan kenyamanan meskipun ada Naura di sampingnya.
"Tapi selama ada Mama, Taera seneng-seneng aja, kok." Taera buru-buru mengoreksi untuk menghibur Naura yang terlihat murung.
Naura tersenyum mendengarnya. "Mama juga seneng selama ada kalian," balas Naura dengan suaranya yang begitu pelan.
"Mama, kalau udah sembuh, kita pulang ke rumah bareng-bareng, ya."
Ucapan Tiras hanya dibalas senyuman oleh Naura, karena sampai sekarang dia masih belum ada keinginan untuk pulang ke rumah Taeyong. Naura tidak tahu bagaimana jadinya jika dia benar-benar pulang, tetapi membayangkan rumah itu saja sudah membuat Naura takut. Bayangan-bayangan buruk selalu menghampiri. Terlebih setiap kali Naura mengingat kalau sumber rasa sakitnya berasal dari rumah itu.
Usai makan malam, Naura langsung ke kamar atas perintah Taeyong agar ia istirahat dan ditemani oleh Taera. Sementara Taeyong dan Tiras bertahan di ruang tengah dan mengobrol bersama setelah cukup lama tidak berjumpa. Tiras menunjukkan gambar barunya selama berada di apartemen Hendery, gambar keluarganya dalam formasi lengkap, serta terselip doa di dalamnya agar keluarganya tetap utuh.