“Jika ini sudah waktunya, maka bersiaplah untuk rindu yang akan menumpuk.”
—Nathania Angela.
Hari-hari terus berganti, kini hubungan berjalan dengan lurus tanpa belokan yang diberikan. Semuanya sudah terlewat, selalu bersama dalam situasi apapun. Selalu menguatkan satu sama lain, saling bertukar cerita, dan saling memberi nasihat.
“Nia, udah belum? Bentar lagi jam tujuh, nih,” ujar Egi yang sedang menunggu Nathania bersiap untuk pergi ke sekolah.
Pintu kamar Nathania tertutup, terkunci. Egi menyenderkan tubuhnya di dinding bersampingan dengan pintu. Kedua tangan lelaki ini melipat di depan dada, kakinya menyilang. Seragam putih abu-abu sedikit dikeluarkan, lagi-lagi dasi tidak digunakan oleh lelaki ini.
“Ayo,” ucap seorang wanita yang keluar dari kamar. Garis bibir Egi melengkung dengan sempurna, lelaki ini tersenyum.
“Gak berubah.”
“Gue emang gini, lo gak suka?” tanya Nathania memancing keributan.
“Suka, akan selalu suka,” jawab Egi.
Mereka berdua berjalan menyusuri rumah Nathania, bertemu dengan Bik Tata dan Mang Reno. Mereka pamit untuk pergi ke sekolah, Egi dan Nathania menggunakan motor masing-masing. Kenapa? Wanita ini mengajak balapan bersama kekasihnya, selalu menantang tanpa memandang siapa yang ia ajak.
Keduanya menggunakan helm masing-masing, lalu memulai perjalanan dari depan gerbang rumah Nathania menuju gerbang sekolah. Di persimpangan jalan, mereka berhenti untuk saling mengejek, bercanda dengan tawaan. Gadis cantik ini mengegas motornya, sangat ngebut hingga Egi berada di kejauhan. Lelaki ini juga melakukan hal yang sama, tetapi ia tidak memotong perjalanan pacarnya.
“Egik! Buruan woi!” jerit Nathania melihat kaca spion motor.
“Udah ngebut, njing!!!” balas Egi membuat wanita ini tertawa renyah.
“Bodo lah, gue harus sampe duluan. Bentar lagi bel masuk,” gumam Nathania meninggalkan Egi.
“Gue telen juga lo!” sergah Egi saat motor Nathania semakin jauh.
Sampai di gerbang Nusa Bangsa, sosok teman sedang berkumpul dengan ramainya. Putra menyender di body mobil hitam miliknya, Arga dan Bara duduk di atas motor, Steven pun sama. Toni dan Shavira duduk di bawah pohon bersama dengan Killa dan Gresya. Nathania melepas helm, dan langsung beranjak mendekati teman-temannya.
“Mau demo?” tanya Nathania dengan santainya mengikuti gaya berdiri Putra, menyender di body mobil. Bara yang sedang memegang botol mineral kosong dilempar ke arah Nathania.
Wanita ini tersentak kaget.“Lo apa-apaan, sih?!” tanyanya pada Bara.
“Gue nggak kenapa-napa, lo dari mana aja? Dasar bucin!” balas Bara.
“Apa lo? Gak suka?” sahut Egi mendekatinya.
“Lo ngomong apa, Gik? Yang ngomong bucin tadi Arga, bukan gue. Ngaku lo, Ga!” cibir Bara menuduh Arga.
“Apa-apaan?! Gue dari tadi diem, lo fitnah aja kerjaannya,” ucap Arga menepuk kening Bara.
“Brisik lo semua, bisa diem?” sembur Steven menatap Kakak kelas yang sudah kelas dua belas seperti kelas sepuluh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Nathania
Fiksi Remaja(Tamat) [Belum revisi sama sekali] ••• Tentang Nathania Angela. Sosok wanita nakal yang kerap dipanggil Atan, Nia dan Beo. Wanita ini mempunyai sahabat lelaki, Steven Gioliem dan Toni Afriando. Awalnya, Nathania menjalin hubungan dengan lelaki yang...
