“Setidaknya, belajarlah dengan sungguh-sungguh. Untuk lepas dari masa putih abu-abu, dan lepas dariku.”
—Nathania Angela.
Dua bulan berlalu, Nathania dan Egi tetap berada disituasi yang sama, tidak berubah sedikit pun. Hari semakin berlalu, sikap Egi terhadap Nathania pun tidak seperti awal. Jadi, dari sini kita memahami 85% Perasaan lelaki hanya tumbuh pada awal hubungan, sisanya hanyut menghilang.
Ini adalah hari dimana kelas dua belas melakukan ujian kelulusan, Egi tidak mengabarkan Nathania bagaimana kabarnya. Wanita ini selalu menunggu, menunggu perasaan, perhatian yang sudah hampir punah. Rasa kecewa sedikit datang menghampiri Nathania, tetap bertahan bagaimana pun keadaannya.
“Atan, lo gak minum?” tanya Steven yang sedang duduk di depannya.
“Lagi males,” jawab Nathania.
“Mikirin Egi? Gak usah dipikirin, dia lagi ujian. Gak mungkin dia mikirin lo balik,” lanjut Steven. Nathania mengangguk.
Saat ini, kelas sepuluh dan sebelas libur selama satu minggu. Membiarkan Kakak kelas menguasai Nusa Bangsa, karena setelah ujian, tinggal menghitung tanggal akan lulus. Nathania dan Steven berada di café mikha, café penuh kenangan bagi Nathania dan Riko, Nathania dan Egi.
Nathania menatap Steven dengan serius, lelaki itu sibuk memainkan mobile legends di ponselnya. Nathania menyenggol jari-jari Steven yang sangat lincah bermain game tak henti. Steven menoleh ke arahnya, dengan mengangkat sebelah alis.
“Kita ke sekolah, mau?”
“Ngapain, Tan? Lo tau kalo kita kesana, pasti dilarang sama Pak Mael untuk masuk,” balas Steven.
“Lewat tembok, Stev. Kaya waktu itu, Putra yang nunjukkin,” timpal Nathania membuat Steven tersenyum.
“Oke, ayoo!”
Dua sejoli ini bergegas cepat membereskan barang-barang mereka yang ada di atas meja bundar, Steven memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Nathania hanya menunggu Steven, lelaki ini menyibukkan diri dengan urusannya sendiri. Saat mereka berlari keluar café, seorang pegawai wanita berteriak meminta pembayaran.
“Mas! Mbak! Coffee nya belum dibayar!” jeritnya membuat Steven menoleh sambil menyengir.
“Gila! Pikun bangeeet!” Nathania menggelengkan kepalanya. Steven hanya tertawa dengan memberikan uang kepada pegawai café.
“Gue gak pikun, cuma lo aja yang ngajak buru-buru. Makanya kelupaan,” jawab Steven.
“Iya, buruan!”
Dari tadi, Nathania tidak membawa motornya. Wanita ini selalu menebeng dengan Steven, Steven hanya bisa pasrah. Walaupun bensin tidak pernah diganti. Steven memakai helm, begitu pula dengan Nathania. Steven mengegas cepat kendaraanya, Nathania sibuk menepuk pundak Steven dengan teriakannya.
“Cepat! Cepat!Cepat!” ujar Nathania membuat Steven kesal.
“Diem, Tan!”
“Makanya, cepetan!”
“Lo diem dulu, gimana mau cepet kalo lo berisik kaya gini!” balas Steven menggeram.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Nathania
Fiksi Remaja(Tamat) [Belum revisi sama sekali] ••• Tentang Nathania Angela. Sosok wanita nakal yang kerap dipanggil Atan, Nia dan Beo. Wanita ini mempunyai sahabat lelaki, Steven Gioliem dan Toni Afriando. Awalnya, Nathania menjalin hubungan dengan lelaki yang...
