BAB 17 KILLA MENCERITAKAN SEMUANYA

833 227 16
                                        

“Dari awal bertemu aku memang sudah merasakannya. Tetapi, dulu aku tak yakin bahwa kau adalah saudaraku.”

—Salam hangat, Atan!

“PAPA?” panggil Nathania meneteskan air matanya.

“N-Nat? Nathania? Putri kecilku?” tanya Beni tak percaya, lalu ia membentangkan kedua tangannya untuk Nathania memeluk sang Ayah.

Nathania berlari seperti anak kecil yang tersasar dirumah sakit mencari Ayah. Rambut nya mengibas kanan-kiri, gaya tomboynya memperlihatkan sang Ayah yang tersenyum di ujung sana. Semua orang yang melihat aksi ini menjadi terharu, bertahun-tahun mereka tidak bertemu dan ini adalah akhirnya, akhir segalanya.

Arga memegang erat pergelangan tangan Bara,“Sedih banget gue!” tangis Arga dengan gaya di lebay-lebaykan.

“Cengeng banget lo!” bentak Bara menepis tangannya membuat semua tertawa.

“Jahat kamu Mas!” jerit Arga mengagetkan semua orang termasuk Nathania dan Beni yang sedang melepaskan rindu bertahun-tahun.

Tangis Nathania semakin menjadi-jadi,“Pa, k-kenapa Papa gak nyatuin kita?” tanya Nathania gemetar.

“Maafin Papa,” jawabnya.

“Kamu adik dari Riko Darmawan? Kamu juga yang berbicara pada saya ditelpon waktu itu?” tanya Sarah.

“Iya gue, kenapa? Lo siapa?” tanya Nathania membuat Egi diam tak bergidik lagi.

“Perkenalkan, nama saya Sarah Ayudyah. Istri dari Bapak Beni Triandi,” sapanya mengulurkan tangan kanan.

“Lebih jelas lagi, istri kedua!” balas Nathania beralih tatapan kearah Beni.

“Dimana Rik—maksudnya Bang Awan?” tanya Nathania, Beni mempersilahkannya untuk masuk. Terlihat tubuh Riko ditempeli dengan kabel-kabel yang membuat Nathania risih menatapnya.

Nathania Angela, cewek tomboy di Nusa Bangsa kini sedang menangis didepan ranjang rumah sakit. Dicatat yah! Cewek tomboy nangis! Nathania mendekati Riko lalu memeluk tubuhnya erat, sangat erat. Air matanya berterus-terusan mengalir membasahi pipi Nathania. Ia mengelus kepala Riko pelan, lembut dengan penuh perasaan sayang. Lalu tangannya beralih pada tangan Riko, di genggamnya erat jari-jari mereka bersatu. Nathania duduk disampingnnya, semua melihat gerak-gerik Nathania yang begitu terpukul.

“Kasihan gebetan gue, kenapa harus terlahir dari keluarga ini?” tanya Arga menyindir Beni dan Sarah.

“Gue juga kasihan, tiap hari gue selalu sama dia, tiap hari gue selalu bantuin dia, tiap hari gue berusaha bikin dia ceria, tiap hari dia selalu curhat tentang rindu yang tak kunjung datang. Dari awal pertemuan kami, tiada hari tanpa cerita,” sahut Steven membuat Arga, Egi, Bara dan Repal menatapnya salut.

“Gue bingung sama jalan pikiran cewek, disini ada cowok yang selalu ada buat dia. Sedangkan dia? Dia malah pergi dengan memilih orang baru,” jawab Bara.

“Namanya juga cewek, kalo udah dibilangin sahabatan aja, yah udah sahabat. Gak bisa lebih sampe kapanpun itu,” ucap Repal dengan mata tertuju pada Nathania dan Riko.

“Tapi nggak mungkin tuh, Nia gak ada perasaan apapun sama Steven. Setiap persahabatan pasti mempunyai perasaan,” sambung Bara sekali lagi.

“Jangan baper lo! Masih kecil gak boleh pacaran! Biar gue aja sama Nia!” tegas Arga pada Steven membuat yang lainnya terkekeh.

Nathania tetap menatap wajah tampan milik Riko,“Bang? Abang bangun dong, disini ada Atan yang nungguin Abang. Andai Mama sama Papa dulu gak pisah, gak mungkin kita ngalamin ini.”

Tentang NathaniaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang