Jika memang kau tidak berniat untuk hidup lama, maka matilah dengan cara yang terhormat.
-Joe-
"Joe." Panggilku.
"Diam." Katanya.
Mengapa ia memintaku untuk diam? Apa aku salah? "Joe, ap-" Joe menaruh tangannya di mulutku, Joe menutup mulutku dan menarik ku untuk bersembunyi.
"Diam Alena, kau tidak lihat di sana?" Joe menunjuk rumahku dan didepan rumahku sudah berdiri 2 orang.
"Dari mana kau tahu mereka?" Tanyaku.
"Aku tidak tahu mereka siapa, tapi aku pernah melihat mereka, dan mereka adalah rentenir." Ujar Joe berbisik.
Ya, mereka adalah rentenir yang menagih hutangku.
"ALENA! BUKA PINTUNYA!!" Mereka menggedor-gedor pintu rumahku dan berteriak memanggil namaku. "ALENA, AKU TAHU KAU DI DALAM, BUKA CEPAT!!"
Aku beruntung belum sempat masuk. Tapi, bagaimana dengan Maya dan Dion yang ada di dalam sana. Pasti mereka sangat ketakutan, mereka tidak pernah tahu Kalau aku di kejar-kejar hutang.
"ALENA, CEPAT BUKA PINTUNYA!!" Mereka terus memanggil namaku. Tetangga-tetangga ku mulai melihat keluar karena mereka sangat berisik.
"HEI, JANGAN MEMBUAT KERIBUTAN DISINI!" Tegur salah satu tetanggaku.
"Kalian tidak perlu ikut campur masalah kami, jika tidak mau.." Salah satu dari mereka mengeluarkan pisau kecil yang tajam.
Para tetangga-tetangga ku berlarian masuk kedalam rumah mereka masing-masing karena takut melihat rentenir itu mengeluarkan pisau.
"Alena, jika kau tidak mau membuka pintu ini, maka kami yang akan membukanya." Kata salah satunya lagi sambil mempersiapkan pisaunya.
Mereka bertubuh besar dan dengan mudah mereka bisa membuka pintu yang memang sudah usang. Dengan sekali tendangan pintu itu pasti akan hancur. Dan mereka bisa saja melukai adik-adikku dengan pisau mereka.
Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi, aku harus melindungi adik-adikku. Aku berdiri dan ingin berlari ke tempat mereka. Tapi Joe langsung menarik tanganku agar tetap bersembunyi.
"Kau mau cari mati? Jika memang kau tidak berniat untuk hidup lama, maka matilah dengan cara yang terhormat, jangan memberikan nyawamu pada orang seperti mereka." Aku belum sempat bicara tapi Joe sudah mengomeli ku.
"Kau pikir, aku hanya akan berdiam diri seperti ini sedangkan adik-adikku di sana akan terluka di depan mataku sendiri?" Kataku memberinya pemahaman agar tahu maksudku. "Dan jika kau menginginkan aku mati dengan cara yang terhormat, maka aku akan mati dengan terhormat melindungi nyawa adik-adikku."
"Tunggu Alena, kita bisa cari cara lain untuk melindungi adik-adikmu bukan dengan cara menyerahkan nyawamu sendiri." Joe terus saja menarik ku untuk bersembunyi di sini.
"Cara apa? Adik-adikku terlanjur mati jika kau terlalu lama berpikir." Kataku, aku terlalu panik. Mereka pasti sudah sangat ketakutan di sana. "Jika kedua adikku mati maka aku adalah pecundang yang hanya bersembunyi di sini melindungi nyawaku sendiri, sedangkan didepan mataku sendiri adikku meregang nyawa."
"Sabarlah Alena, aku berusaha untuk berpikir keras agar kedua adikmu selamat, tanpa siapapun menjadi korban." Katanya dengan pose berpikir keras.
"KAU SUDAH MENGUJI KESABARAN KU ALENA." Mereka semakin serius.
Bruk
Mereka menendang pintu rumahku, pintu itu langsung terbuka dan rusak, ya siapa yang tidak mampu membuka pintu yang sudah usang begitu.
KAMU SEDANG MEMBACA
BLACK LIFE✓
Roman pour AdolescentsHidup tanpa arah di temani kegelapan. Ini Aku, yang disiksa gelap dan menuggu pagi datang. Menunggu untuk membawaku pergi dari gelap malam. Ini Aku, yang terlelap dalam kehampaan dan kebisuan hati yang meminta untuk di isi. Ini Aku, yang be...
