8. PILIHAN TEPAT
Zelin menatap sebuah rumah yang menjulang tinggi di depannya. Rumah mewah yang tampak asing baginya. Cewek itu mengalihkan pandangan, kearah secarik kertas yang sedang ia pegang. Mengoreksi alamat yang tertera, takut jika sampai ia salah tempat. Zelin sempat menarik napas, sebelum memutuskan untuk menekan bel.
Tak lama, pintu gerbang terbuka menampilkan seorang wanita yang ia yakini seorang asisten rumah tangga.
"Cari siapa ya?"
"Pak Aldi, ini bener kan rumahnya pak Aldi?" tanya Zelin memastikan. Wanita itu mengangguk sekali.
"Maaf, tapi sebelumnya ada urusan apa dengan tuan?"
"Saya mau bicara sama Papa," tukas Zelin, membuat ART itu langsung mempersilahkannya masuk. Selama ini, Aldi memang sudah memberi tahu pada seluruh orang yang bekerja di rumahnya, agar saat ada orang datang dan mengatakan sebagai anaknya maka harus di jamu dengan baik.
Setiap langkahnya, Zelin selalu dibuat terkejut dengan apa yang dirinya lihat. Ia mengakuinya kalau rumah ini benar-benar indah, mau dilihat dari manapun arsitekturnya tiada banding. Ditambah dengan barang-barang mewah yang ada disana, membuat terkesan lebih elegan.
Zelin duduk di ruang tamu, sedangkan ART itu langsung pergi, mungkin memanggil sang tuan rumah. Netranya mengamati sekeliling, ada satu hal yang berhasil menarik perhatiannya. Sebuah foto keluarga berukuran besar yang terpajang di dinding. Ada Clarin juga disana. Melihat itu, membuat Zelin teringat dengan foto keluarganya yang dulu, sebelum adanya perpisahan.
"Zelin?"
Merasa namanya dipanggil membuat cewek itu langsung menoleh, iris matanya bertemu dengan Aldi. Laki-laki itu masih sama seperti satu tahun yang lalu. Dan untuk pertama kalinya Zelin melihat wajah Aldi lagi, setelah orang tuanya berpisah. Aldi berubah, bukan lagi sosok ayah yang ia kenal. Dia bahkan tidak pernah mengunjungi Zelin sekalipun.
"Papa seneng kamu datang Zelin," Aldi tersenyum sambil memperhatikan putrinya, dia tidak menyangka Zelin sudah tumbuh besar. Putrinya sudah berubah menjadi gadis yang cantik.
"Bagaimana kabar kamu, dan mama kamu?" tanya Aldi.
"Baik,"
Zelin yang tidak mau basa-basi, langsung teringat dengan niatnya kemari. Ia meletakkan amplop putih di atas meja. Aldi yang melihat itu menaikkan kedua alisnya.
"Kenapa Papa lakuin itu?" tanya Zelin.
"Memangnya Papa melakukan apa?" tanya Aldi balik, tidak mengerti kemana arah pembicaraan putrinya.
Zelin menghela napas, "Bayarin uang sekolah dan selalu ngirimin uang."
"Jadi itu alasan kamu kemari?" ucap Aldi sambil tersenyum menatap Zelin.
"Kamu putri papa, jadi sudah sewajarnya Papa menafkahi kamu. Tunggu, apa uang itu kurang?" ujarnya sambil melirik ampop di meja.
Zelin menggeleng singkat, "Zelin nggak bisa nerima itu semua."
"Kenapa?" Aldi menatap putrinya, "kamu bisa bersenang-senang dengan uang itu, dan kalau kurang kamu bisa beri tahu Papa. Papa akan berikan yang kamu mau."
"Maaf, tapi Zelin bukan papa dan Clarin yang cuma bisa bahagia karna uang. Bahagia Zelin berbeda, Zelin bahagia saat ada keluarga di samping Zelin." tukas cewek itu, membuat Aldi langsung merasa bersalah pada putrinya. Selama ini, dia belum bisa menjadi ayah yang sempurna bagi Zelin.
"Tapi sekarang keadaan sudah berbeda Zelin, kamu harus paham dan mulai belajar menerima."
Zelin menggigit bibir bawahnya lalu beralih menatap Aldi, "Zelin enggak minta keluarga kita balik kaya dulu, Zelin cuma pengin papa tau kalau selama ini Zelin bahagia walaupun cuma sama Mama."
KAMU SEDANG MEMBACA
FIGURAN [COMPLETED]
Novela Juvenil[#WWC2020 WINNER] HARAP FOLLOW SEBELUM MEMBACA. Selama ini tidak ada yang tahu, bahwa kehidupan yang dijalani Yunara Zelin tidak jauh berbeda dengan seorang tokoh figuran. Yang hanya memainkan peran kecil dan sering kali dianggap tidak penting. Bera...
![FIGURAN [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/245085503-64-k400643.jpg)