5. LIMA ICE CREAM

3.5K 431 12
                                        

5. LIMA ICE CREAM

"Gue mau, lo bantu gue dapetin dia." ucap cowok di depannya.

Zelin tidak mengira. Dengan seenak jidat Satria meminta dirinya melakukan hal itu, cowok itu tidak tahu kalau selama ini Zelin mati-matian berusaha menghidari Clarin. Kemarin saja dia terpaksa menemui gadis itu karna permintaan sang mama. Jika tidak, ogah.

Zelin mengambil napas lalu mengeluarkannya perlahan, "Sorry, kalo itu gue nggak bisa. Tapi kalo lo minta bantuan lain buat nebus utang budi gue, dengan senang hati gue mau bantu lo."

Alis Satria bertaut, cowok itu lantas memajukan langkahnya, hal ini membuat Zelin otomatis mundur.

"Kenapa nggak bisa?" tanya Satria, "harusnya lo seneng orang itu kakak lo, jadi pekerjaan lo tambah mudah."

"Pokoknya gue nggak mau, permisi!"

Setelah mengatakan itu Zelin berniat akan pergi, namun pergelangan tangannya dicekal oleh Satria. Membuat mau tidak mau cewek itu tetap berada disana. Satria benar-benar sengaja menjebak dirinya.

"Jadi cewek jangan keras kepala, lo itu utang budi sama gue. Jadi, disini cuma gue yang berhak ngatur." tukasnya.

"Gini ya... Biar nggak salah paham gue lurusin sekalian," ucap Zelin menjelaskan, "jujur aja dari awal gue nggak percaya kalo lo orang yang udah nyelamatin gue."

Kedua mata cowok itu langsung membulat sempurna, berani-beraninya dia meragukan Satria.

"Coba lo pikir, seandainya bukan gue, trus kenapa gue bisa tau kejadian itu?"

"Kemungkinan pertama, bisa aja waktu itu lo ada disana dan nggak sengaja liat. Kedua, lo penguntit yang suka cari tau tentang kehidupan orang lain." balas Zelin dengan penuh percaya diri.

Satria terkekeh, tak mengerti lagi dengan jalan pikiran cewek di depannya.

"Gimana? Apa dari dua opsi itu ada yang bener?"

"Salah, gue bukan ada di posisi keduanya, karna gue orang yang udah nyelamatin lo."

"Gue nggak percaya," tukas Zelin yang masih kekeuh dengan pendiriannya.

Satria memutar bola matanya malas, cewek ini benar-benar keras kepala, "Lo mau bukti apa?"

Zelin tampak berpikir, detik berikutnya cewek itu tersenyum sarkas, dia yakin Satria tidak akan bisa menjawabnya. Jika bisa pun, maka tidak akan benar seratus persen.

"Waktu, tanggal, tempat kejadian, dan apa aja yang gue ucapin waktu itu."

Satria mengangguk tanda dirinya menerima tantangan dari Zelin. Terlihat cowok itu sempat menyunggingkan senyuman sebelum akhirnya menjawab semua pertanyaan dengan santai.

"Sembilan kurang seperempat malam, 23 Oktober 2019, Jalan Kencana dekat RS. Permata Medika. Lo waktu itu bilang sama gue kalo lo nggak sengaja, tepat setelah itu gue nggak tau apapun karna udah cabut."

Zelin langsung melongo di tempat, tidak seperti dugaannya, Satria berhasil menjawab semua pertanyaannya dengan tepat. Artinya Satria adalah orang itu.

"Gimana? Lo udah percaya?" tanya cowok itu seraya menampilkan senyuman sinis.

Cewek itu memilih diam, untuk sekedar membalas ucapannya saja ia sudah sangat malu. Zelin menyesalinya, harusnya ia tidak meremehkan seorang Satria Arkasena.

"Mulai besok lo harus bantu gue." tutur cowok itu, bukan perkataan biasa melainkan sebuah perintah.

Zelin menghela nafas, sudah berulang kali dirinya mengatakan tidak akan mau membantu cowok itu jika berhubungan dengan Clarin. Tapi Satria masih juga tidak paham.

FIGURAN [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang