13. PERIHAL RASA
Zelin dan Satria berjalan mengendap-endap di koridor bak seorang maling yang akan mencuri jemuran. Tepat berada di kelas 12 IPA 4 mereka menghentikan langkahnya. Saling bertatapan seakan sedang memberikan kode satu sama lain.
"Buruan masuk!" ujar Satria saat mendapati cewek di depannya yang diam saja, bukannya masuk malah berubah jadi patung liberty.
Zelin menggeleng kuat, "Nggak mau, lo duluan."
"Yang berdiri paling deket pintu siapa?" sindir Satria.
Padahal saat ini kelas itu tidak berpenghuni sama sekali, karna semua siswa disana sedang berada di lapangan melaksanakan olahraga. Tapi keduanya justru berdebat, dan tidak ada mau ada yang mengalah. Entah apa yang sebenarnya mereka takutkan.
Detik selanjutnya Zelin langsung pindah ke sebelah kanan Satria, "Lo kan?"
Cowok itu tampak berdecak sebal, "Curang lo!"
"Biarin!" Zelin sambil menjulurkan lidahnya kedepan, "Lagian dimana-mana cowok yang mimpin duluan tau, lah elo? Gue jadi ragu kalo lo beneran cowok!"
Seketika hati Satria langsung tersentil karna perkataan Zelin, cewek itu memang kurang ajar. Berani-baraninya meragukan kejantanannya sebagai seorang laki-laki. Tanpa berpikir panjang dia langsung masuk ke dalam kelas itu. Membuktikan kalau dia benar-benar cowok. Sedangkan Zelin tersenyum penuh kemenangan, ternyata mudah sekali membuat Satria mau menuruti perkataannya.
Mereka berdua mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, lalu berhenti pada satu titik yang sama. Tanpa aba-aba mereka langsung pergi ke bangku yang terletak di urutan dua dari belakang.
"Yakin kan ini bangkunya?" tanya Satria yang masih tampak ragu. Hal ini membuat cewek itu memutar bola matanya.
"Udah jelas-jelas ini tas Clarin, lo nggak percaya sama gue?" tanya Zelin balik.
Satria menggaruk tengkuknya seraya meringis, "Bukan gitu, takutnya salah tempat duduk."
"Kalo semisal salah ya udah, hitung-hitung kita sedekah dapat pahala kan. Memberi makan orang yang kelaparan."
Satria mengangguk menyetujuinya. Ah, nurut sekali cowok ini. Sudah seperti Zoya- kucing peliharaannya yang meninggal 2 bulan yang lalu. Berbicara soal Zoya, Zelin jadi merindukannya. Sepertinya setelah ini dia harus berziarah ke makamnya.
"Mana saladnya?"
Satria langsung memberikannya pada Zelin, setelahnya cewek itu meletakkan di laci bawah meja. Seperti yang sudah disebutkan tadi, keduanya mempunyai rencana baru, dengan membelikan makanan kesukaan Clarin yang tak lain adalah salad sayur. Mereka berharap rencana kali ini berhasil dan bisa membuat Clarin menerima keberadaan Satria.
"Kita mau mantau dari mana?" tanya Satria.
Zelin mengedikkan bahu, terserah. Dia makmum saja. Namun, begitu keluar kelas cewek itu menyipitkan matanha, saat melihat gerombolan siswa yang sedang berjalan menaikki tangga dan berjalan kearah mereka.
"Itu bukannya Clarin?"
Reflek setelah mendengar nama gadis yang ia sukai, Satria langsung mengikuti arah pandang cewek di sampingnya, dan benar saja apa yang dikatakan Zelin. Netranya melihat sosok Clarin yang berada diantara gerombolan itu. Detik itu juga, Satria mengalihkan pandangannya mencari tempat bersembunyi yang dirasa aman.
Hap!
Dia menemukannya, di sebelah perpustakaan. Cowok itu menghela napas lega saat sudah berada di balik dinding, hampir saja ketahuan. Namun, ada sesuatu yang mengganjal. Aish! Dia lupa membawa Zelin kesini.
KAMU SEDANG MEMBACA
FIGURAN [COMPLETED]
Teen Fiction[#WWC2020 WINNER] HARAP FOLLOW SEBELUM MEMBACA. Selama ini tidak ada yang tahu, bahwa kehidupan yang dijalani Yunara Zelin tidak jauh berbeda dengan seorang tokoh figuran. Yang hanya memainkan peran kecil dan sering kali dianggap tidak penting. Bera...
![FIGURAN [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/245085503-64-k400643.jpg)