"Terkadang sesuatu yang tampak semu, justru yang akan paling berarti dalam hidupmu." - Figuran
18. FATAMORGANA
Hari ini kelas Zelin sedang ada pelajaran di lab. Bahasa. Sepanjang perjalanan menuju kesana mulut cewek itu terus berkomat-kamit menghafalkan point-point penting untuk presentasi kelompoknya nanti. Sejujurnya, dia sangat lemah hafalan. Tapi entah kenapa dia masuk kelas sosial. Zelin juga tidak suka menghitung, entah apa sebenarnya passionnya, dia juga bingung sendiri.
Alikka mencebik, sudah cukup gendang telinganya bergetar mendengar ocehan sahabatnya. Masalahnya suara Zelin tak tanggung-tanggung, bahkan sampai teman sekalasnya pun tidak ada mau berjalan disamping cewek itu, terkecuali dirinya. Jujur saja, dia juga ingin pergi sejak tadi, tapi mau bagaimana lagi semenyebalkan apapun Zelin dia tetap sahabatnya. Alikka tak setega itu.
"CUKUP ZEL! UDAH CUKUP!" teriak Alikka sambil menutup mulut Zelin rapat.
Sontak, cewek itu langsung menjauhkan tangan Alikka, seolah memprotes atas tidakannya.
"Apa sih Al? Gue jadi lupa kan sampai mana?!" kesalnya.
Alikka yang mendengar itu menutar bola matanya malas, "Zel please! kapan-kapan sambungin lagi urat malu lo."
"Urat malu apaan? Nggak jelas deh."
"Lo nyadar enggak sih dari tadi diliatin sama orang yang lewat?" tanya Alikka. Cewek itu mengedikkan bahu tidak peduli.
Harus ekstra sabar jika punya sahabat seperti Zelin, "Suara lo yang ngelebihi toa masjid bikin telinga sakit tau nggak! Bahkan dinding aja sampai retak!"
Zelin yang mendengar itu tekekeh geli, "Masa sih, perasaan dalam hati deh gue hafalinnya."
"Hati kentut lo!" cibir Alikka geram, "Lagian nggak perlu segitunya kali, yang penting lo bisa memahami materinya pasti bisa jelasin nanti."
"Aish! Lo kaya nggak tau otak gue kayak apa, lemot minta ampun." seru Zelin. Memang benar, kalau dibanding dengan otak Alikka, dia bukan apa-apanya. Yah, tapi mau bagaimana lagi. Sudah pemberian dari Tuhan.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang cowok yang sedang berdiri di bawah sana, di tengah lapangan. Terik matahari bahkan tak menggoyahkannya. Cewek itu menggelengkan kepala, pasti sedang dihukum karna ketahuan membolos. Satria Arkasena tidak jauh-jauh dengan kata bolos.
"Tumben tuh cowok sendirian? Biasanya bareng Pandawa." ujar Zelin.
Spontan Alikka mengikuti arah pandang sahabatnya, "Iya yah, mereka lolos kali, maybe."
Kening Zelin berkerut begitu melihat seorang gadis yang datang mendekati Satria. Dia menyipitkan mata, bukankah itu Clarin? Namun, sedang apa dia disana? Bukannya gadis itu sudah menolak Satria mentah- mentah. Kenapa sekarang seakan mereka dekat? Ah, ada yang tidak beres disini.
Terlihat Clarin memberikan sebotol minuman pada Satria, dan cowok itu menerimanya dengan senang hati. Zelin yang melihat itu menggigit bibir bawahnya, hingga tak sadar meremas buku yang dia pegang. Iris matanya memandang mereka dingin, seolah menyiratkan sesuatu.
"Zel, itu kan kakak lo? Bukannya dia nggak suka sama Satria ya," ucap Alikka lalu menoleh.
Zelin mengangguk, "Gue juga bingung kenapa bisa jadi deket?"
"Gue bisa jawab semua pertanyaan lo." Tiba-tiba saja Bianca sudah berdiri di samping mereka, entah dari mana datangnya. Hal ini membuat Zelin dan Alikka sama-sama menyerngitkan kening.
"Semalem Satria nolongin kak Clarin di Club." ucap cewek berambut blonde itu, "Kalau dilihat kayak gini mereka cocok juga."
Aish! Berarti Satria mengabaikan rencananya. Padahal dia sudah mewanti-wantinya dari awal.
KAMU SEDANG MEMBACA
FIGURAN [COMPLETED]
Genç Kurgu[#WWC2020 WINNER] HARAP FOLLOW SEBELUM MEMBACA. Selama ini tidak ada yang tahu, bahwa kehidupan yang dijalani Yunara Zelin tidak jauh berbeda dengan seorang tokoh figuran. Yang hanya memainkan peran kecil dan sering kali dianggap tidak penting. Bera...
![FIGURAN [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/245085503-64-k400643.jpg)