38. ADA YANG SALAH

2.1K 185 2
                                        

"Sebuah hubungan itu sejatinya seperti bianglala, bergantian berada di atas dan di bawah. Ada kalanya kita dipuncak kebahagiaan, dan ada saatnya juga kita terpuruk dalam kesedihan." — Figuran.

38. ADA YANG SALAH

Cewek itu memandangi sebuah undangan dalam genggamannya. Sudah tampak lusuh karena sempat ia injak-injak olehnya tadi. Beberapa kali, helaan napas terdengar keluar dari mulutnya. Menandakan ada sesuatu yang mengganjal di benaknya.

Tadi malam, dia mendapatkan undangan ini. Undangan yang dikirimkan Aldi padanya. Zelin diundang pergi ke acara Pesta relasi Papanya. Tetapi, dia tidak yakin untuk datang ke acara penting seperti itu dan bertemu dengan rekan-rekan Papanya. Lagipula, dimata Zelin Aldi sudah terasa asing sejak lama.

"Udah kali, Zel. Mikirin itu mulu. Nggak capek apa?" seru Alikka yang tampak heran. Cewek itu lantas memasukan cilok terakhir ke mulutnya.

"Ck! Gue bingung tau!" decaknya kesal.

"Gue bilang apa tadi, nggak usah datang kalo lo nggak mau. Kelar kan." sungut Alikka.

Awalnya Zelin juga berpikir begitu, tapi semakin lama dipikirkan kembali, keputusan Zelin berubah. Sifat labilnya selalu muncul disaat yang tidak tepat. Kebiasaan.

"Tapi nyokap maksa gue datang, Al. Gimana gue nggak bete coba?" Zelin menghela napas gusar, "Eh temenin gue ya ntar malem?"

Alikka langusung menggeleng kuat, "Nggak bisa, gue ada dinner bareng Genta."

"Yah!" Zelin mendadak lesu.

"Lagian lo kan punya cowok kenapa nggak minta dia aja sih?!"

Aih benar, dia bisa meminta Satria untuk menemaninya. Zelin sampai lupa dengan adanya cowok itu. Tetapi ngomong-ngomong cowoknya itu ada dimana? Dari tadi Zelin belum melihat batang hidung Satria. Sudah seperti hilang dihempas angin saja.

Zelin menepuk pundak Alikka cukup keras, "Ide bagus!"

Tepat setelah mengatakannya cewek itu melengos pergi, membuat Alikka menggeleng kepala.

"Kebiasaan main pergi-pergi aja. Gue ditinggal!"

Kaki jenjang Zelin melangkah menyusuri koridor yang searah dengan ruang kelasnya. Baik, dia bisa meminta Satria memberi saran soal pesta relasi itu. Setibanya di kelas Satria, Zelin langsung masuk tanpa permisi, seolah sudah terbiasa akan hal itu.

Senyuman itu terbit dari wajahnya saat netranya melihat orang yang dia cari duduk di belakang sana. Buru-buru Zelin menemuinya.

"Hai, pacar!"

Bukan hanya Satria saja yang menoleh mendengar suara melengking itu, keempat temannya juga demikian. Terheran-heran karena tidak biasanya Zelin kemari. Biasanya sebaliknya, Satria yang menemuinya di kelas.

"Kepada baginda ratu hormat grak!" seru Iko lalu menirukan seperti pose hormat yang langsung diikuti Billy dan Juan, sedangkan Genta menghela napas merasa jengah dengan ulah absurd mereka.

Zelin yang melihat itu menahan tawanya, "Geli dah! Pake hormat segala gue bukan pejabat apalagi ratu kalin."

"Hemm... Tapi kalau jadi ratu di hatinya bebeb Satria jelas mau kan?" sindir Billy sambil terkekeh pelan.

Aish! Billy sialan, bikin Zelin bulshing saja.

"Tumben kesini Zel, mau ketemu siapa?" tanya Iko membuat Juan yang duduk di sebelahnya menjewer telinganya.

"Ketemu cowoknya lah, dikira mau ketemu lo apa?!" kata Juan.

Iko langsung mencebikkan bibirnya, "Yakan mau basa-basi, Ju. Nggak asik banget lo mah."

FIGURAN [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang