Aku sedang mengeringkan rambutku saat Kalya datang dengan cemberut terpampang jelas diwajahnya.
Ada apalagi ini? Sejak dia diketemukan hamil oleh suaminya, Kalya jadi super manja, super pemarah, dan dikit-dikit ngambek. Seperti sekarang.
"Dia bilang lebih baik anak laki-laki, padahal anak perempuan juga lucu kan, Sid?"
Ya Tuhan, kandungan Kalya saja belum genap 15 minggu. Kenapa meributkan sesuatu yang tidak perlu begini.
"Kal, anak itu anugerah dari Tuhan. Tidak baik kalau kamu sudah diberi tapi masih saja menawar."
Aku mengatakan itu dengan sungguh-sungguh. Maksudku, Rendra adalah segalanya bagiku. Sulit mengakuinya, tapi apa yang dikatakan dokter Otto beberapa waktu silam memanglah suatu kebenaran.
"Gw nginep sini boleh enggak, pengin tidur bareng lo, kayak jaman di kostan lo dulu." Dia mengalihkan pembicaraan.
Aku berdecak, malas sebenarnya berbagi tempat tidur dengan siapapun. Rendra saja sudah tidur di kamarnya sendiri.
"Ya Sid?" Bujuk dia lagi.
"Males ngurusin orang ngidam," elakku.
Tapi memang betul, Kalya ini ku kira memanfaatkan peluang, semua hal yang dia idamkan, dimuntahkan begitu saja dan voila, dikabulkan oleh suaminya. Ketika aku bilang semua, artinya ya memang semua. Mulai dari pesan wine paling mahal, foto bersama di patung kelinci, sampai ngidam suaminya berambut keriting juga dilaksanakan.
"Sid, kata dokter Otto enggak baik lho berdebat sama ibu hamil, udah ngalah aja."
Persetan dengan dokter Otto, sejak dulu aku hobi berdebat dan memang dengan berdebat inilah aku hidup. Sidna Minara ditakdirkan hidup dengan penuh perselisihan, itu slogannya.
Aku tidak menjawab, malas juga mendengar dokter Otto dibawa-bawa. Aku memilih mengangsurkan susu kehamilan premium yang dibawakan koleganya yang entah siapa. Serta sarang burung wallet premium entah dari mana ke nakas dekat Kalya.
"Kalo gw dirumah, mana mau dia kayak gini Sid, apa-apa pembantu. Buatin susu buat istrinya lho padahal..."
Hm, salah lagi. Harusnya Kalya tahu, tidak pantas baginya membandingkan antara aku dan suaminya itu. Selain tidak patut, bagiku memang aneh membicarakan suaminya seperti sekarang ini.
"Terima aja lah," ujarku, tidak tahu lagi mau menjawab apa. Setidaknya, suaminya disampingnya ketika dia hamil. Tak terhitung kesabaran Adnan menghadappi Kalya.
Dengar kan? Bell rumahku berbunyi, pasti suaminya yang menyusul Kalya.
"Lya disini?"
Tanpa menjawab ku bukakan pintu lebih lebar. Adnan masuk, melewatiku begitu saja. Aku memandang mereka berdua dengan perasaan aneh.
Melihat Kalya yang merajuk dan Adnan yang mengelus kepala istrinya dengan sayang, memberi beberapa bujukan manis, hingga wajah cantik yang tadinya cemberut kembali semringah.
Aku memilih masuk ke kamar, ku lihat Rendra sudah tidak ada di kasurnya, mungkin ia sedang mandi karena bunyi gemrisik air terdengar jelas. Aku masih mendengar rengekan Kalya dari dalam, aku tersenyum kecut. Masa kehamilanku dulu tidak begitu. Aku menatap potret yang tergantung diatas meja belajar Rendra. Foto kehamilanku dulu, mungkin usia Rendra sekitar lima bulan, perutku belum begitu buncit, aku duduk di kursi taman belakang, sendirian.
"Bunda..." panggilan Rendra menghentikan airmataku yang hendak jatuh.
"Wah udah wangi nih..." sahutku, sambil memeluk dan mencium pipinya, mengubur semua rasa dengki, iri, sekalilgus sedih dalam dadaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
SIDE TO SIDE
RomantikAku, Sidna Minara. Bukan Janda, karena aku tidak pernah menikah. Bukan Nona, karena aku sudah punya anak. Semua baik-baik saja, kalau hari itu, anakku, tidak bertemu dengam boneka kutukan bernama Annabella!
