Aku mengaktifkan ponsel pribadiku. Benda pipih yang ku genggam bergetar sebentar, layar hitamnya berubah warna. Aku dengan sabar menunggu sambil memperhatikan interior kamar hotel ini.
Tidak banyak berubah. Tirainya berwarna putih dengan list emas, terkesan mewah, cocok untuk pasangan muda.
Aku melirik anakku yang masih nyenyak tertidur. Beda dengan Rendra, aku justru sulit tidur. Entahlah, rasanya masih marah. Padahal di hotel ini, biasanya moodku cepat membaik. Tapi kali ini, perasaan marahku belum surut juga.
Ponselku mulai berdenting, segera saja ku hidupkan mode silentnya, daripada Rendra terbangun.
Aku mendapati banyak chat dan missed call dari Kalya.
Dia selalu begitu, aku tidak heran.
Aku membuka chatnya, membacanya sekilas.
Isinya sama saja, dia yang bertanya aku kenapa dan aku dimana.
Kalau dulu aku merasa dikhawatirkan sekarang aku merasa ini hanya tipuan. Dia hanya bergurau saja. Dia memanfaatkanku saja. Semua manusia sama ya?
Munafik.
Meski begitu aku tetap tidak sudi memperpanjang drama yang dia ciptakan ini. Dengan singkat aku membalasnya.
Gpp. Liburan.
Centang satu. Mungkin Kalya tertidur.
Hah. Peduli setan.
Nikmati saja liburan singkatmu ini Sidna. Biarlah yang berlalu menjadikanmu lebih kuat.
Ngomong-ngomong aku sudah memberitahu Mbok Jah kalau aku dan Rendra sedang tidak ada dirumah.
Aku menyuruhnya libur saja. Tidak lucu kalau dia sudah semangat bekerja tapi tidak ada yang dikerjakan.
"Bund..." Rendra mengucek matanya. Aku masih dengan ponsel ditangan menghampiri.
"Morning jagoan," sapaku, memberi dia kecupan sayang.
Rendra beringsut, memelukku. Aku meletakkan sembarang ponsel yang tadi ku pegang. Gantian mengelus kepala Rendra yang ditumbuhi rambut tebal sedikit ikal.
"Kita dimana Bunda?" Dia bertanya masih dengan memelukku dan menbenamkan wajahnya diantara perutku.
"Kita liburan. Seru enggak?" Tanyaku, biasanya anak kecil akan senang, tapi ku lihat Rendra tidak terlalu antusias.
"Enggak seru."
Tuhkan benar...
"Lebih seru PS 5 Bunda." Lanjut dia.
Aku terkekeh, "Kan Rendra udah punya PS 4"
Aku mengingatkan anakku. Jangan membiasakan dia boros dari kecil. Harus bersyukur jangan takabur.
"Iya Bunda, Rendra kan cuman cerita." Elaknya.
Anak kecil ini sudah pandai bersilat lidah ternyata.
"Mau langsung pulang atau jalan-jalan? Di dekat sini ada wisata, kita bisa lihat buah naga. Rendra suka buah naga kan?"
Aku mencoba membujuk. Bagaimanapun aku ingin anakku juga menikmati liburan ini.
"Kemarin Rendra janji sama Daddy kalau kita mau main PS lagi Bunda..."
Huft, anak ini sekali berjanji sama orang harus ditepati.
"Jadi, kita pulang?" Aku mencoba mengalah. Salahku sih, mengajaknya tanpa rencana yang jelas. Andaikata aku diposisi Rendra aku pasti akan merengek juga kan?
KAMU SEDANG MEMBACA
SIDE TO SIDE
RomantizmAku, Sidna Minara. Bukan Janda, karena aku tidak pernah menikah. Bukan Nona, karena aku sudah punya anak. Semua baik-baik saja, kalau hari itu, anakku, tidak bertemu dengam boneka kutukan bernama Annabella!
