"Gue Carla.""Ali."
Ali dan Carla berkenalan setelah mereka bertemu di ruangan Prilly tepatnya Hendra mengenalkan mereka berdua sedangkan Prilly sedang terlelap dengan memeluk boneka doraemon kesayangannya.
Ali tiba di rumah sakit menjelang Magrib setelah menunaikan shalatnya kini ia dan Hendra duduk berhadapan di kantin rumah sakit sedangkan Carla menemani Prilly di kamarnya.
Hendra memang langsung mengajak Ali ke kantin karena mereka tidak mungkin berbicara di depan Carla, gadis cerewet itu pasti akan langsung memberitahukan Prilly perihal rencananya.
Bukan tanpa alasan Hendra menikahkan Ali dan Prilly selain ia percaya jika Ali mampu menjaga Prilly ia juga ingin segera mengalihkan seluruh kekayaan Laksana menjadi milik Prilly.
Semua sudah tertulis di surat wasiat almarhum Ayahnya dan Agung jika seluruh harta kekayaan mereka akan menjadi milik Prilly selaku cucu pertamanya. Hendra tidak perduli jika isi wasiat Ayahnya cenderung tidak adil untuk anak-anaknya nanti karena Hendra masih mampu mencari uang untuk anak-anaknya tanpa perlu mengandalkan warisan orang tuanya.
Dan Hendra sangat yakin jika Prilly tidak akan mungkin menerima keputusan ini tapi Hendra harus melakukan ini supaya Agung tepatnya wanita murahan itu mau melepaskan Agung.
Hendra yakin sangat yakin jika yang dilihat wanita itu pada Kakaknya hanyalah kekuasaan dan kekayaan bulshit kalau itu cinta. Jika memang cinta maka Prilly tidak akan menderita, jika wanita sialan itu benar-benar menginginkan Agung untuk menjadi suaminya maka seharusnya ia menerima Prilly sebagai putri Agung tapi lihat bagaimana perlakuan Agung pada Prilly sejak mengenal wanita itu.
Sikap Agung yang sejak awal sudah brengsek semakin brengsek saja setelah mengenal wanita sialan itu. Maki Hendra di dalam hati.
Dan keputusan Hendra sudah bulat bahkan Ibunya sudah setuju setelah ia menceritakan semuanya lagipula sebentar lagi Ali dan Prilly akan menyelesaikan sekolahnya jadi tidak terlalu lama waktu yang mereka perlukan untuk merahasiakan pernikahan ini.
"Jadi bagaimana keputusan kamu Nak?"
Ali yang sedang mengaduk tehnya mendongak menatap Hendra. "Apa Om yakin memilih saya sebagai pendamping putri Om?"
"Sangat yakin." Jawab Hendra tanpa keraguan.
Ali menghela nafasnya menatap Hendra lamat-lamat. "Saya tidak tahu bisa atau tidaknya saya membahagiakan Prilly nantinya." Terdengar kembali helaan nafas berat Ali. "Saya takut dengan ketidakmampuan saya untuk membahagiakan Prilly Om." Ali tidak sedang mencari muka karena itulah yang ia rasakan saat ini.
Setelah dipikir-pikir Ali tidak memiliki apa-apa untuk membahagiakan Prilly sehingga ia mulai ragu dengan kemampuannya sendiri, Ali takut setelah bersamanya bukannya bahagia Prilly justru semakin menderita terlebih setelah Prilly membuat jarak dengannya seperti saat ini.
Bukannya tidak tahu, Ali sangat tahu jika Prilly sedang membentengi diri untuk tidak terlalu banyak berinteraksi dengannya mungkin Prilly sudah lelah dan menyerah untuk memperjuangkan dirinya.
Mengingat Prilly yang menyerah atas dirinya entah kenapa hati Ali tiba-tiba diselimuti dengan kegelisahan, Ali takut jika Prilly menyerah atas dirinya maka dengan keputusan yang bulat akhirnya ia mengutarakan semuanya pada Hendra.
"Saya sangat bersedia menikahi Prilly tapi saya mohon berikan saya waktu setidaknya sampai Prilly yakin jika memang saya yang ia inginkan." Ujar Ali yang disambut helaan nafas oleh Hendra.
"Dengan kata lain kamu mau Prilly segera tahu perihal masalah ini?"
"Jelas Prilly harus tahu Om setidaknya ia bisa mengambil keputusan dengan kemauannya sendiri meskipun ada banyak alasan dan keharusan yang menjadi dasar pernikahan ini." Ujar Ali dengan ketenangan diri yang terkontrol membuat Hendra kagum dengan pembawaan Ali yang seperti ini.
Keputusan Hendra untuk menikahi Ali dan Prilly jelas bukan sebuah kesalahan.
***
"Mas anterin dong!" Hendra nyaris menghantamkan kepalanya ke dinding kamar inap Prilly saat Carla yang sejak tadi sudah memaksanya untuk mengantar wanita itu pulang.
"Tinggal kamu pesan taksi online terus pulang. Ribet kalau harus ngantar kamu terus balik lagi kemari." Sahut Hendra setengah mengomel pada Carla yang sama sekali tidak terlihat tersinggung apalagi sakit hati.
Ali yang sejak tadi duduk di ranjang Prilly tepatnya di kaki Prilly hanya diam saja melihat Om Hendra yang sedang berdebat dengan gadis bernama Carla yang memperkenalkan diri sebagai sahabat Prilly.
Ali baru tahu jika Prilly memiliki sahabat yang super ceriwis seperti dirinya.
Memangnya apa yang kamu tahu tentang aku?
Ali sontak menoleh menatap Prilly yang masih terlelap saat suara Prilly terdengar di telinganya. Melihat Prilly yang masih terlelap membuat Ali menghela nafasnya sepertinya efek rasa bersalah membuatnya sedikit linglung.
"Pulang saja Carla!" Suara Hendra terdengar sedikit lebih keras hingga membuat Prilly bergerak dalam tidurnya sepertinya Prilly terganggu dengan suara Hendra barusan.
Refleks Ali menggerakkan tangannya untuk menyentuh bagian pinggul Prilly yang berbaring miring menghadap kearahnya. Ali menepuk pelan pinggul Prilly hal biasa yang ia lakukan pada Aisya jika tidurnya mulai terganggu biasanya Aisya terganggu karena teriakannya saat menonton bola.
Aisya selalu menemaninya menonton bola meskipun dalam keadaan tidur dan ketika ditepuk seperti ini tidur Aisya menjadi lelap dan sekarang Ali mempraktikkannya pada Prilly dan ajaibnya Prilly benar-benar kembali tertidur dengan pulasnya.
Tanpa sadar Ali mengukir senyumannya saat melihat Prilly yang benar-benar nyaman dengan tepukan ringan dari tangannya.
"Pokoknya Mas harus anterin aku. Titik."
Ali menoleh kembali menatap dua manusia yang lagi-lagi berdebat dengan suara yang mulai cukup keras. Ali takut suara mereka kembali mengganggu tidur Prilly. Gadis ini butuh istirahat yang banyak supaya kondisinya cepat pulih.
"Maaf Om, apa nggak sebaiknya Om antar saja Carla-nya?" Ali bersuara tujuannya untuk mengakhiri perdebatan yang sepertinya akan berlangsung lama itu.
Carla sontak tersenyum lebar karena merasa Ali membelanya. "Nah dengar tuh apa yang Ali katakan Mas." Serunya sombong.
Hendra kontan mendengus kesal pada Carla dan juga pada Ali yang lebih membela gadis itu dari pada dirinya. Menyebalkan sekali.
"Lagipula bukannya Carla baru kembali dari luar negeri takutnya dia nyasar Om." Tambah Ali yang membuat Hendra tak berkutik dan tawa Carla terdengar begitu riang. "Nah ayo anterin aku Mas takutnya aku nyasar terus di culik lagi."
"Biar aja kamu di culik biar tenang hidup saya."
"Ssst.. Nggak boleh gitu sama calon ibu dari anak-anak kamu Mas."
"Anak-anak dari Hongkong!"
Ali hanya menggelengkan kepalanya melihat Hendra dan Carla yang terus saja berdebat meskipun begitu mereka berdua tanpa sadar berjalan beriringan keluar dari kamar Prilly meninggalkan Ali yang kini beralih menatap Prilly yang masih terlelap.
"Dan kamu adalah calon Ibu dari anak-anakku."
*****

KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta, Harta dan Ali
RomanceNext cerita aku kali ini aku bakalan nulis cerita tentang anak SMA gitu, semoga suka yaa.. Silahkan cek ceritanya jangan lupa vote dan komennya ya dear..