Ali baru saja selesai membersihkan tubuhnya saat pintu kamar inap Prilly dibuka. Terlihat Hendra dan seorang wanita tua yang berjalan memasuki kamar inap Prilly."Om.." Ali menghampiri Hendra dan wanita tua itu dengan penuh kesopanan Ali mencium punggung tangan keduanya.
"Prilly-nya tidur Om." Prilly memang kembali terlelap setelah mengikat janji atau komitmennya dengan Ali. Tidurnya pulas sekali hingga dengkuran halusnya terdengar sampai ke telinga Hendra dan Rita.
"Nggak apa-apa biar saja dia butuh banyak istirahat." Sahut Hendra. "Ma ini Ali. Dan Ali ini Eyang Rita, Mamanya Om."
"Ali Eyang."
"Eyang Rita." Rita tersenyum lembut menatap calon cucu menantunya. "Tampan sekali kamu Nak." Ucapnya sambil mengusap lembut pipi Ali.
Ali sontak salah tingkah. "Terima kasih Eyang." Jawabnya dengan kepala sedikit menunduk.
Rita mengangguk pelan sebelum kaki tuanya melangkah dengan perlahan menuju ranjang cucunya. Air mata Rita satu persatu menetes keluar, ia benar-benar tidak tega melihat cucu kesayangannya terlihat pucat dan kurus begini.
"Apa yang terjadi pada cucuku Hendra?" Tanya Rita saat melihat perban yang membalut pergelangan tangan kiri Prilly. "Apa telah terjadi sesuatu yang buruk pada Cucu ku?" Tanyanya lagi yang masih belum dijawab oleh Hendra.
Hendra dan Ali sontak berpandangan dengan tatapan yang sama-sama terlihat ragu dan juga was-was. Apa mereka jujur saja jika Prilly melakukan percobaan bunuh diri setelah tahu Ayahnya akan menikah kembali?
"Hendra jawab Mama!"
Hendra menghela nafasnya. "Prilly tidak apa-apa Ma. Cuma luka kecil saja." Hendra masih berusaha menutupi kebenarannya.
Ali diam saja, ia merasa ini bukan ranahnya untuk berkomentar. Ia masih orang asing ditengah keluarga Prilly.
"Jangan sembunyikan apapun dari Mama Hen! Katakan yang sebenarnya terjadi pada cucuku? Lalu di mana Mas kamu?" Rita menatap ke sekeliling ruangan untuk mencari keberadaan putra pertamanya.
"Papi di tempat selir barunya Eyang."
Semua yang ada di sana terkesiap saat mendengar penuturan Prilly, gadis itu rupanya sudah terjaga dan langsung menceritakan tentang jalinan cinta yang Papi-nya rajut bersama wanita muda yang Prilly sebut sebagai selir itu.
Rita tak bisa menutupi keterkejutannya, mulutnya terbuka lebar ia benar-benar tak menyangka jika putra kebanggaannya tega melakukan hal ini pada putrinya.
"Jadi luka ini karena percobaan bunuh diri yang kamu lakukan Nak?" Tanya Rita setelah mendengar semua cerita cucunya.
Tangan keriputnya terangkat menyentuh lengan Prilly yang terluka. "Cucuku yang malang." Desahnya dengan linangan air mata. Mata tua Rita tak mampu membendung rasa sakit yang menerpa dirinya.
Sakit yang Prilly rasakan saat ini juga menjadi sakitnya. Rita ikut merasakan sakit yang cucunya derita. Isak tangis Rita kini beradu dengan isak tangis Prilly.
Dengan penuh kesedihan Prilly mengadu semuanya pada sang Eyang, semua rasa sakit yang ia coba simpan sendiri.
Hendra dan Ali memilih mematung membiarkan cucu dan nenek itu saling meluapkan rasa sakit mereka, saling menguatkan terlihat sekali jika Rita begitu menyayangi cucunya.
"Om benar-benar berharap ini terakhir kalinya Om melihat putri kesayangan Om menangis seperti ini." Ali menoleh menatap Hendra. "Om sedang berpesan supaya kedepannya kamu bisa membuat putri Om tertawa bukan menangis kesakitan seperti ini." lanjut Hendra lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua wanita yang sangat ia cintai.
"Saya akan berusaha dengan semampu saya Om. Doakan saya supaya saya bisa menjadi salah satu kebahagiaan Prilly selain Om dan Eyang." Ucap Ali penuh dengan tekad dan keyakinan.
***
"Eyang besok gimana sih nikahnya?" Prilly langsung ternganga lebar saat mendengar perkataan Eyangnya.
Mereka sedang duduk bersama mengelilingi ranjang Prilly. Hendra dan Ali duduk di sebelah kiri ranjang sedangkan Rita di sebelah kanan. Mereka semua melarang Prilly untuk bergerak terlalu banyak takut-takut jika luka di pergelangan tangannya kembali berdarah.
"Niat baik nggak boleh ditunda-tunda Nak." Ucap Rita yang diangguki oleh Hendra. Ia setuju semakin cepat Prilly menikah maka semakin cepat pula ia bisa memindahkan semua warisan Laksana ke tangan Prilly.
"Ali gimana?"
Ali yang sejak tadi menjadi pendengar menoleh ketika Rita bertanya padanya. "Ali ngikut aja Eyang. Gimana nyamannya Prilly aja." Jawabnya kalem yang membuat wajah Prilly bersemu.
Sweet banget calon suami gue!
"Ya sudah besok saja. Oh ya, bisa tidak kamu hubungin orang tua kamu Nak? Biar Eyang yang bicara sama mereka perihal pernikahan kalian besok." Ali mengangguk setuju. "Saya hubungin Ibu dulu ya Eyang." Pamit Ali keluar dari kamar Prilly.
"Eyang yakin Ali bisa menjaga kamu Nak." Rita berkata dengan senyuman hangatnya. Prilly menganggukkan kepalanya. "Iya Eyang."
"Terima kasih Pa." Prilly beralih menggenggam tangan Hendra. "Semua berkat Papa. Terima kasih sudah menyayangi ku." Sambung Prilly dengan mata berkaca-kaca.
Hendra menganggukkan kepalanya. "Apapun akan Papa lakukan demi kebahagiaan kamu Nak." Ujar Hendra begitu tulus.
Prilly tersenyum hangat, jika bukan karena Hendra dan Rita mungkin saat ini ia akan kembali menyakiti dirinya sendiri. Prilly tidak tahan hidup dengan penuh penderitaan karena sikap Ayah kandungnya.
"Perihal Papa--"
"Jangan pikirkan apapun Nak. Biarkan urusan Papi kamu Eyang dan Papa Hendra yang mengurusnya. Kamu hanya perlu fokus pada kebahagiaan kamu." Rita memotong perkataan cucunya. "Kamu hanya perlu menjadi kuat. Jika kamu lemah maka mereka yang tidak menyukai kamu akan menginjak-injak harga diri kamu." Pesan Rita yang dijawab anggukan oleh Prilly.
"Aku janji setelah ini aku tidak akan lagi mengulang kesalahan bodoh ini." Ucap Prilly sambil menatap perban di tangannya. "Meskipun begitu aku tidak menyesalinya karena luka ini seperti membuka jalan untukku dan Ali bersama." lanjut Prilly dengan senyum sumringahnya.
Hendra dan Rita ikut tersenyum. Biarlah untuk saat ini mereka hanya memfokuskan diri pada kebahagiaan Prilly. Perihal Agung putranya Rita sudah menemukan jalan yang tepat untuk membuatnya jera.
Agung tidak akan ia buat tenang setelah menyakiti cucu kesayangannya. Rita sendiri yang akan turun tangan untuk memberi pelajaran pada wanita yang sudah membuat cucunya terluka seperti ini.
Rita tidak akan tinggal diam.
*****
Po dan Promo pdf berakhir hari ini ya dear.. Silahkan chat ke wa 081321817808 kalau berminat dengan pdf-nya kapan lagi dapat pdf dengan harga murah..

KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta, Harta dan Ali
RomanceNext cerita aku kali ini aku bakalan nulis cerita tentang anak SMA gitu, semoga suka yaa.. Silahkan cek ceritanya jangan lupa vote dan komennya ya dear..