Denting halus sendok dan garpu perak terdengar beradu lembut dengan porselen mahal, memenuhi ruang VIP sebuah restoran megah di pusat Kota Seoul. Pencahayaan temaram nan elegan berpadu dengan aroma olahan daging premium dan aroma anggur yang khas.
Red wine bernilai tinggi telah mengalir anggun, mengisi lima dari enam gelas kristal yang tertata rapi di atas meja. Ketiga anak pertama Lee Dongwook telah memasuki usia legal, sehingga tidak ada larangan atau canggung bagi mereka untuk menikmati minuman beralkohol tersebut di tengah jamuan makan malam keluarga.
Namun, di ujung meja, sebuah jemari kurus tampak bergerak pelan, mengendap-endap meraih tangkai gelas kristal yang masih menyisa.
"Apa yang sedang kau lakukan, huh?" suara Jisoo memotong hening. Menginterupsi dengan nada tegas namun tetap tenang. Matanya menatap tajam ke arah Lisa yang tertangkap basah hendak mengangkat gelas anggur tersebut ke bibirnya.
Lisa tersentak pelan. Dengan refleks cepat, ia menarik kembali tangannya dan menyengir canggung sambil mengelus tengkuknya yang tak gatal. "Aku... aku hanya penasaran dengan baunya, Eonnie. Kata temanku, harum red wine fermentasi tua seperti ini sangat menenangkan pikiran."
"Kau berteman dengan siapa sampai topik pembicaraan kalian membahas soal wine?" Jennie yang duduk di seberang Lisa memicingkan matanya. Tatapan intimidatif khas seorang kakak tertua kedua langsung tertuju pada si bungsu.
"Di dance club-ku ada tutor yang sangat gaul, Eunnie. Dialah yang memberitahuku. Dia bahkan bekerja sebagai bartender dan DJ di salah satu lounge club paling ternama di Seoul," sahut Lisa polos, sedikit membanggakan sosok tutor yang sangat diagungkannya itu tanpa menyadari perubahan raut wajah kakak-kakaknya.
Jisoo menghela napas pendek. Ia mengulurkan tangan, mengelus lembut puncak kepala Lisa untuk memberikan rasa nyaman sekaligus teguran halus. "Jangan terlalu banyak bergaul dengan orang-orang semacam itu, Lisa-ya. Lingkungan seperti itu tidak selalu baik untuk anak seusiamu."
Lisa menatap Jisoo dengan raut heran dan kening berkerut. "Kenapa, Eunnie? Dia orang yang sangat baik dan mengajariku banyak gerakan dance baru. Aku juga tidak akan melakukan hal-hal aneh atau mencoba minum minuman beralkohol secara sembarangan."
"Turuti kata Eunnie-mu, sayang. Daddy hanya tidak mau anak bungsu Daddy ini terjerumus ke dalam lingkungan yang salah atau terpengaruh hal-hal negatif," Lee Dongwook ikut bersuara. Pria paruh baya bernuansa karismatik itu meraih telapak tangan Lisa dan menggenggamnya hangat.
Lisa hanya bisa mengangguk pelan. "Nde, Dad..." gumamnya pasrah, meski jauh di dalam hatinya ada rasa ketidaksetujuan yang tertahan.
"Yeobo, sepertinya kita harus menyempatkan waktu untuk datang ke restoran ini lagi nanti. Lihatlah putri ketiga kita, dia sangat menikmati hidangannya," ujar Inna memecah kecanggungan, mencoba mengalihkan perhatian sang suami sambil menunjuk Chaeyoung—atau yang akrab disapa Rosé—yang sedang mengunyah steak hidangannya dengan sangat lahap.
"Igeo, jongmal massisoyo, Mom, Dad!" seru Rosé antusias setelah menelan makanan di mulutnya, matanya berbinar-binar penuh kepuasan.
"Kau memang selalu suka makan, Eunnie," sahut Lisa menimpali, lalu meraih gelas berisi susu cokelat hangat miliknya dan meminumnya hingga tersisa separuh.
Rosé menoleh, menatap Lisa dari atas ke bawah sebelum mendesis pelan. "Kau seharusnya mencontoh diriku, Lisa-ya. Lihat tubuhmu itu! Kau sangat, sangat kurus. Seperti hanya tersisa kulit dan tulang saja."
Ini sudah kesekian kalinya dan dari orang yang berbeda, Rosé mengucapkan hal senada ketika melihat porsi makan dan postur tubuh si bungsu yang kian hari tampak kian menyusut.
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY
Fiksi PenggemarPlease Just Choose to Stay . . . . Kisah seorang gadis bermarga Lee, rasa kesepian yang selalu menemaninya semasa kecil. Berjuang untuk karir yang tak sejalan dengan karir keluarganya. Kisah si Bungsu Lee yang seolah mendapat perhatian dari kelurga...
