31. Struggle

1.8K 133 9
                                        

22 Januari 2020 

Lisa sudah terbaring dengan beberapa peralatan medis yang menancap pada tubuhnya. Jarum kateter infus, stiker pemantau detak jantung di dada, serta selang oksigen tipis yang melingkar di bawah hidungnya menjadi pemandangan yang mendominasi.

Satu keluarga lengkap hadir di sana untuk menemaninya berjuang. Mereka tidak main-main—merekrut dua kamar VVIP sekaligus untuk satu bulan ke depan karena tidak mau melewatkan sedikit pun detik-detik perjuangan si bungsu. Bahkan, Mr. Lee dan para Eonnie-nya rela memindahkan seluruh urusan pekerjaan kantor untuk diselesaikan dari ruangan rumah sakit demi tidak pernah meninggalkan Lisa sendirian.

"Ck, sungguh menggelikan... Besok kalian berdua akan merayakan pesta kelulusan sekolah, jadi jangan memasang raut wajah menyedihkan seperti itu di hadapanku!" Lisa memutar bola matanya jengah, menatap dua sahabat karibnya yang duduk di sisi ranjang.

Somi dan Mina menatap Lisa dengan pandangan mata berkaca-kaca yang dipenuhi rasa iba sekaligus haru.

"Kau ini benar-benar kurang ajar, Lee Lisa!" sungut Somi kesal dengan suara bergetar. 

"Kau tidak pernah memberi kabar, membalas pesan kami di grup saja jarang, dan tiba-tiba kau menghilang lalu muncul kembali dalam kondisi terbaring lemah seperti ini! Jika sejak awal aku tahu kau memiliki kelainan jantung seperti ini, aku tidak akan pernah mengizinkanmu mengikuti ajang survival idol konyol itu!"

Meskipun omelannya terdengar sengit, Somi justru memajukan duduknya. Tangannya terulur amat pelan dan hati-hati untuk menggenggam telapak tangan Lisa yang terbebas dari selang infus, menyalurkan kehangatan yang amat tulus.

Lisa tersenyum tipis, matanya mengedip jahil. "Memangnya kau siapa berani-berani melarangku, Jeon Somi?"

Somi menaikkan sebelah alisnya, berpaling ke arah gadis di sisi ranjang lainnya. "Mina-ya... bisakah kau ambilkan pisau buah tajam di atas meja sampingmu itu? Rasanya aku ingin sekali menguliti anak ini sekarang juga."

Lisa terkekeh renyah mendengar kekesalan sahabatnya. "hehehe... I love you, Somi-ya~"

"Lisa-ya..." panggil Mina lembut, menghentikan candaan mereka.

Lisa menoleh, mengangkat kedua alisnya menatap Mina.

"London..." lirih Mina, matanya mulai menggenang. "Aku sudah berjuang mati-matian menyamakan kapasitas otakku denganmu agar kita semua bisa diterima di sana. Oxford bukan kampus sembarangan, kau tahu kan? Kita sudah berjanji..."

Mina dan Somi benar-benar telah memimpikan masa depan itu—berjuang bersama Lisa di Tanah Kerajaan Inggris. Belajar bersama di perpustakaan tua yang dingin, menelusuri lorong-lorong kampus, dan meski berada di jurusan yang berbeda, setidaknya mereka bisa saling menemui setiap hari untuk berbagi suka dan duka. Mendengar berita dari media massa mengenai Lisa yang mendadak dilarikan ke rumah sakit akibat masalah jantung fatal membuat mental mereka runtuh.

"Kalian berdua ini kenapa, sih?" bujuk Lisa dengan nada sesantai mungkin. 

"Aku hanya akan menjalani perbaikan kecil pada katup organ dalamku. Ini sama sekali tidak parah, hmmm? Tidak akan sampai mencabut nyawaku, percaya deh."

"Kali ini, aku sendiri yang akan memotong poni kesayanganmu sampai habis jika kau terus-menerus meremehkan kesehatanmu!" potong Mina kesal seraya meraup pisau buah kecil yang sempat disinggung Somi tadi, memainkannya di udara.

"Potong saja poni mentahnya! Eonnie sangat mendukungmu, Mina-ya!" sahut sebuah suara tegas dari arah pintu masuk.

Jisoo melangkah masuk bersama seluruh anggota keluarga Lee yang baru saja menyelesaikan sarapan pagi di kantin rumah sakit. Lisa seketika memajukan bibirnya, merajuk dan mengedarkan pandangan mencari sosok yang sekiranya bisa memberinya pembelaan.

STAYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang