Di tepian kolam renang mansion keluarga Lee yang luas dan tenang, seorang gadis muda sedang duduk termenung sendirian. Jemari lentiknya memutar-mutar ponsel di tangannya secara konstan, mengikuti irama pikirannya yang tidak tenang meski seluruh kesibukan duniawi telah ia tinggalkan sejenak. Bahkan sebuah buku tebal bermateri berat serta iPad yang sengaja ia bawa tadi tergeletak begitu saja di atas meja porselen di sampingnya—sama sekali tak tersentuh apalagi dibuka.
"Huft..."
Sekali lagi, gadis itu menghembuskan napas beratnya ke udara sore yang kian mendingin. Kepulan uap tipis tercipta sejenak lalu menghilang ditelan angin. Tanpa disadari oleh si bungsu yang terus tenggelam dalam lamunannya, sosok gadis berpenampilan anggun khas pekerja kantoran melangkah pelan mendekatinya.
Langkah kakinya yang tanpa suara berujung pada sebuah tepukan pelan di pundak mulus sang adik, sukses membuat gadis itu menjerit kecil karena terkejut.
"Jungkook tidak ada kabar sampai sekarang?" tanya Jisoo, sosok kakak sulung yang baru saja datang melangkah santai lalu mendudukkan dirinya tepat di samping sang adik bungsu, Lisa.
Lisa menarik napas panjang untuk menetralkan keterkejutannya sebelum menjawab. "Hmm... padahal aku sudah mengiriminya pesan sejak tadi pagi."
"Mungkin memang benar dia sedang sangat sibuk sekarang, Lisa-ya. Kau tahu sendiri bagaimana jadwal kerjanya. Jangan terlalu dipikirkan, nde? Fokus saja pada rencana pendaftaran kuliahmu ke London nanti," ucap Jisoo dengan nada suara yang amat lembut. Tangannya terulur mengusap-usap jemari adiknya yang terasa mendingin, menyalurkan rasa hangat dan ketenangan seorang kakak tertua.
Lisa mencebikkan bibirnya, merajuk kecil. "Seharusnya setidaknya dia mengabariku sepatah kata pun sebelum tenggelam dalam kesibukannya. Ck, menyebalkan sekali."
Reaksi menggemaskan itu membuat Jisoo tak tahan untuk tidak terkekeh geli. Ia merangkulkan lengannya di bahu Lisa. "Aigooo... ternyata adik kecilku ini memang sudah benar-benar dewasa ya? Sudah tahu rasanya merajuk karena diabaikan kekasih."
Kalimat godaan Jisoo membuat pipi Lisa merona tipis, bercampur rasa kesal yang membuat gadis itu memilih membuang mukanya ke arah lain, memandangi pantulan bayangan pohon di air kolam.
Namun, di balik kekehannya yang terdengar santai, dada Jisoo sebenarnya bergemuruh hebat. Rasanya Jisoo ingin sekali meledak saat itu juga—ingin memeluk Lisa dan menanyakan seluruh kebenaran mengenai penyakit, rasa sakit, serta percakapan rahasianya dengan Seongmin kemarin malam.
Namun, Jisoo menahannya mati-matian. Ia harus tetap bungkam dan berpura-pura tenang agar tidak menyakiti hati adiknya yang amat sensitif, atau mungkin... demi melindungi hatinya sendiri yang belum siap mendengar kenyataan pahit?
Keduanya akhirnya kembali terdiam. Mereka menatap riak air kolam yang amat tenang di bawah pancaran cahaya matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat. Udara dingin musim dingin yang kian menusuk kulit tak jua membuat mereka bergeming dari tepi kolam. Setengah jam berlalu dalam keheningan yang intens; si bungsu dan si sulung tetap bertahan di sana, tenggelam dalam labirin pikiran mereka masing-masing.
"Anyeeeoong!!!"
Sebuah teriakan melengking yang amat familier mendadak memecah kesunyian. Rosé berlari-lari kecil menghampiri mereka sembari membawa gulungan selimut tebal di tangannya, sementara Jennie melangkah santai mengekor di belakangnya dengan gaya elegan khasnya.
"Aiisshh..." Hampir saja Lisa meluapkan sumpah serapah pada kakak pertengahannya itu akibat rasa kaget yang menghantamnya secara tiba-tiba. Namun, sebelum jantung di dada kirinya mulai berulah lebih jauh, Lisa segera menekan dadanya, memejamkan mata dan mengatur pola napasnya secepat mungkin demi menenangkan ritme detak organ dalamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY
Fan-FictionPlease Just Choose to Stay . . . . Kisah seorang gadis bermarga Lee, rasa kesepian yang selalu menemaninya semasa kecil. Berjuang untuk karir yang tak sejalan dengan karir keluarganya. Kisah si Bungsu Lee yang seolah mendapat perhatian dari kelurga...
