24 September 2017
Malam hari di mansion keluarga Lee terasa tenang dan hangat. Di dalam kamar utama yang luas dan berornamen estetik, dua bersaudara sedang bersandar pada kepala ranjang berbalut sprei sutra. Mata mereka terfokus pada layar LCD besar yang terpampang di dinding, menampilkan alur film romantis favorit Rosé.
"Kau sudah mengantuk, Lisa-ya?" tanya Rosé penuh perhatian begitu melirik adik bungsunya yang memejamkan mata beberapa kali.
"Tidak, Eonnie... Aku hanya sedang berusaha mengingat kembali beberapa materi pelajaran sekolah," jawab Lisa pelan sembari membuka matanya. Ia lalu meraih ponsel pintarnya di atas nakas yang sedari tadi bergetar dan berdering tanpa henti.
"Siapa yang menghubungi jam segini?" tanya Rosé, sedikit mencuri pandang ke arah layar ponsel Lisa yang menampilkan rentetan notifikasi pesan masuk dari Instagram dalam jumlah yang cukup fantastis.
"Hanya orang-orang yang tidak kukenal, Eonnie," sahut Lisa santai sembari mematikan notifikasinya. Rosé mengangguk-angguk percaya, mengira itu hanya pengikut baru adiknya.
"Senangnya melihat kalian berdua bisa duduk akur dan tenang seperti ini," suara lembut Jisoo menyapa. Ia melangkah masuk membawa baki berisi sepiring cookies cokelat yang masih hangat dan empat kotak banana uyu (susu pisang).
"Ck... Kami kan tidak selalu bertengkar, Eonnie!" bela Rosé tak terima, namun tangannya dengan cepat terulur mengambil satu kotak susu pisang.
"Tapi memang sangat sering, kan?" Jennie tiba-tiba menimpali dengan suara agak keras saat menyelonong masuk tanpa aba-aba.
"Aaaiisshh, kkamjjakya!!" Lisa terperanjat hebat hingga tubuhnya tersungkur jatuh dari tepi kasur.
Tindakan itu mungkin terlihat berlebihan, namun Lisa sedari tadi sedang memfokuskan pikirannya pada soal latihan matematika yang baru saja dikirimkan oleh gurunya melalui surel. Munculnya suara Jennie yang mengejutkannya secara mendadak benar-benar membuat jantungnya serasa melompat keluar.
"Kau... baru saja mengumpat?" tanya Jisoo dengan alis bertaut tajam. Ia merasa tidak mungkin salah dengar. Ini adalah kali kedua ia mendengar si bungsu yang biasanya manis itu melontarkan umpatan reflek.
"Ehm... eng... hehehe, mianhae, Eonnie," Lisa segera bangkit dari posisinya yang tidak estetis di lantai, lalu membungkukkan badan penuh penyesalan ke arah ketiga kakaknya.
"Cih... Dulu aku bahkan sudah sangat sering dimaki oleh Lisa, Eonnie," adu Jennie memanasi suasana. Lisa membelalakkan matanya terkejut, menatap Jennie yang sedang menjulurkan lidahnya dengan wajah mengejek.
"Lisa-ya, Eonnie kan sudah sering mengingatkanmu untuk menjauhi lingkungan pergaulan yang tidak sehat, bukan?" Jisoo menasihati dengan raut wajah serius. Lisa hanya bisa menunduk diam, menyadari bahwa membela diri dalam situasi ini hanya akan sia-sia.
"Come here, Lisa-ya. Eonnie-mu yang cantik ini tidak akan memarahimu kok," Rosé melambaikan tangannya, memanggil Lisa untuk kembali duduk di sampingnya di atas kasur.
Namun begitu Lisa mendekat dan mendudukkan diri...
"Yaaaakk!!!" Lisa berteriak nyaring saat Rosé tiba-tiba mendaratkan gigitan gemas di pipinya.
"Itu hanya peringatan kecil dari kami. Kau harus belajar keras menghilangkan kebiasaan burukmu itu, aral?" ujar Jennie penuh penekanan.
Mendengar ucapan Jennie, Lisa mendadak teringat pada ancaman kakaknya itu beberapa waktu lalu yang berniat menyita kunci motor sport kesayangannya selama sebulan jika ia terus bersikap tidak disiplin. Lisa pun memutus kontak mata dan berpura-pura sibuk mengunyah cookies.
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY
FanfictionPlease Just Choose to Stay . . . . Kisah seorang gadis bermarga Lee, rasa kesepian yang selalu menemaninya semasa kecil. Berjuang untuk karir yang tak sejalan dengan karir keluarganya. Kisah si Bungsu Lee yang seolah mendapat perhatian dari kelurga...
