11 Desember 2023
Ruangan rawat inap VVIP di rumah sakit pusat Seoul itu terasa begitu tenang, hanya diselingi oleh bunyi teratur dari mesin pemantau detak jantung. Rose duduk setia di samping ranjang tempat Lisa terbaring.
Dengan suara lembut dan penuh penghayatan, Rose menyanyikan lagu baru ciptaannya yang rencananya akan dirilis saat menyambut tahun baru nanti. Ia sengaja menjadikan Lisa sebagai pendengar pertama lagu tersebut. Jemari Rose tak berhenti mengelus lembut jemari dingin sang adik yang dihiasi selang infus.
"Kau masih betah sekali dengan mimpimu, hmn?" bisik Rose lirih, menatap wajah pucat Lisa yang tak bergerak. "Bangunlah, Lisa-ya... Semua orang merindukan tawamu."
Dua puluh menit berlalu dalam keheningan yang hangat. Pintu kamar rawat terbuka perlahan, menampilkan sosok Jisoo dan Jennie yang baru saja tiba. Sudah menjadi rutinitas bagi keluarga Lee sejak tiga minggu lalu untuk bergantian menjaga sang bungsu.
Lisa berhasil diselamatkan melalui operasi maraton berdurasi 14 jam lamanya yang mempertaruhkan nyawa, namun kondisinya belum membaik dan ia jatuh ke dalam koma yang panjang pascaoperasi.
"Ini, Eonnie membawakan makanan malam kesukaanmu," ujar Jisoo lembut sembari mengeluarkan kotak-kotak makanan dan menyiapkannya di atas piring untuk Rose.
Jennie melangkah mendekati ranjang, menunduk, lalu mendaratkan ciuman penuh kasih sayang di pipi adiknya yang terpejam. "Adik Eonnie ini benar-benar betah ya tertidur di alam mimpinya..."
...
...
...
Sementara itu, di tempat yang sangat berbeda—sebuah padang rumput yang luas dan indah di bawah naungan pohon rindang berdaun keemasan...
"Eoh?! Seongmin-ah!" pekik Lisa gembira saat menemukan sosok Seongmin sedang memangku sebuah gitar akustik di bawah pohon besar tersebut.
Seongmin mendongak dan mengukir senyum manis. Tangannya menepuk-nepuk rumput hijau di sampingnya, menyuruh Lisa untuk duduk di sana. "Eonnie... Ternyata kau berada di taman ini juga?"
"Hmm!" Lisa mendudukkan dirinya, menatap sekeliling dengan takjub. "Eonnie juga tidak tahu kenapa Eonnie bisa sampai di sini."
"Tapi di sini sangat indah dan menyejukkan, kan?" cicit Seongmin lembut, memetik senar gitarnya pelan. "Aku merasa terbebas dari seluruh beban dan pikiran duniawi di tempat ini."
"Majja! Di sini sangat, sangat indah. Sangat berbeda dengan taman yang sering kukunjungi di Seoul," sahut Lisa antusias.
"Geunde, Eonnie..."
Lisa menoleh saat mendengar nada suara Seongmin berubah. Wajah imut sang maknae SevG itu kini tampak begitu serius, tanpa ada rona merah di pipinya yang biasa. Tatapan mata Seongmin terasa begitu mendalam dan membuat dada Lisa mendadak berdebar gugup.
"Di sini bukan tempatmu," ucap Seongmin pelan namun tegas, matanya menatap lurus ke dalam iris mata Lisa. "Ada Ratu dan Raja, serta tiga Princess yang sedang menangis menunggumu kembali di sana."
Lisa berkedip bingung. "Eoh? Geure? Kalau begitu, ayo kita kembali bersama-sama!"
Seongmin menggelengkan kepalanya perlahan, tersenyum tipis. "Ania, ania... Aku sangat menyukai tempat ini. Kau saja yang kembali."
Lisa panik. Ia segera mengulurkan kedua tangannya, menangkup pipi Seongmin agar gadis itu tidak memalingkan pandangannya. "Tidak! Kita harus pulang bersama!"
Seongmin menatap Lisa hangat, lalu terkekeh pelan. "Baiklah... Bagaimana kalau kita berlomba saja? Siapa yang paling cepat berlari dan menyentuh sorotan cahaya di ujung sana, dialah yang menang dan perintahnya harus dituruti. Bagaimana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY
FanfictionPlease Just Choose to Stay . . . . Kisah seorang gadis bermarga Lee, rasa kesepian yang selalu menemaninya semasa kecil. Berjuang untuk karir yang tak sejalan dengan karir keluarganya. Kisah si Bungsu Lee yang seolah mendapat perhatian dari kelurga...
