Please Just Choose to Stay
.
.
.
.
Kisah seorang gadis bermarga Lee, rasa kesepian yang selalu menemaninya semasa kecil. Berjuang untuk karir yang tak sejalan dengan karir keluarganya.
Kisah si Bungsu Lee yang seolah mendapat perhatian dari kelurga...
22 Desember 2017 — Kehangatan Singkat di Kamar Belajar
Cahaya matahari pagi yang pucat menerobos masuk melalui celah tirai kamar, membiaskan sinar keemasan di atas karpet tebal. Lisa tertidur pulas di atas sofa panjang kamar belajarnya, dengan sebuah buku teks tebal masih terkuak di atas dadanya.
Seminggu terakhir, usai gejolak emosi di panggung final dan rumah sakit, Lisa praktis tidak melakukan aktivitas luar rumah sama sekali. Ia menghabiskan waktunya hanya dengan belajar mandiri dan menyantap makanan yang disediakan di rumah.
Rose menggeser pintu balkom kamar pelan-pelan. Matanya berbinar saat mendapati adik bungsunya tertidur lelap. Dengan langkah sepelan kucing, Rose mendekat lalu mendaratkan ciuman-ciuman kecil di pipi gembil Lisa yang tampak makin berisi.
Rose mengelus pipi halus itu, lalu mencium lembut bibir adiknya. Andai Lisa dalam keadaan terjaga, Rose tahu betul jangankan mencium bibir, sekadar menyentuh punggung tangannya pun Lisa pasti akan menarik diri dan membungkuk dengan bahasa formal yang mendinginkan suasana.
" Aigoo... Kau terlihat sangat menggemaskan jika sedang tidur seperti ini, Lisa-ya... Kecuali saat kau terbangun dan berinteraksi dengan kami layaknya orang asing..." gumam Rose sendu.
Dengan perlahan, Rose mengambil buku tebal dari dada Lisa dan memindahkannya ke atas meja. Ia kemudian mendudukkan dirinya di tepi sofa, mengangkat kepala Lisa dengan hati-hati, dan memposisikannya agar tertidur di atas pangkuannya..
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tak lama kemudian, pintu kamar kembali bergeser. Jisoo dan Jennie muncul sembari membawa nampan berisi camilan dan segelas jus buah segar.
"Rose-ya... kau ada di sini?" bisik Jisoo terkejut.
Rose menoleh sembari tersenyum lebar. " Ehm, aku berniat mengajaknya mengobrol, tapi justru keberuntungan besar yang kudapatkan, ehehe," ujar Rose jemarinya bermain lembut di bibir tebal Lisa.
Jisoo dan Jennie menyunggingkan senyum hangat, lalu mengambil tempat duduk di sofa sebelah yang kosong.
"Hahaha, iya... Dia mendadak berubah menjadi orang yang sangat dewasa, dingin, dan asing setiap kali matanya terbuka," sahut Jennie pelan, pandangannya tak terlepas sedikit pun dari paras manis adik bungsunya.
"Tiga hari lagi dia sudah harus pindah ke dorm resmi SevG dan mulai disibukkan dengan persiapan debut," ujar Jisoo sembari memeriksa tablet digital di tangannya yang berisi salinan jadwal kegiatan Lisa.
Rose menoleh kagum. "Kau benar-benar luar biasa, Eonnie. Kau bahkan rela membayar mahal manajer grup SevG hanya demi mendapatkan akses seluruh agenda kegiatan Lisa ke depannya."
Jisoo menyunggingkan senyum khasnya, tidak menanggapi pujian Rose secara berlebihan. "Dengan begini, kita akan lebih mudah mengawasi dan menjaganya dari jauh, bukan?"
Jennie dan Rose mengangguk setuju. Namun, ketenangan itu mendadak pecah.
" Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Lisa terbatuk keras secara tiba-tiba. Wajahnya mengkerut menahan rasa tidak nyaman, meski matanya masih terpejam rapat. Ke-tiga kakaknya seketika panik dan beranjak mendekat.