24. Lisa Feels

1.8K 138 4
                                        

8 Oktober 2019 

Keheningan di dalam kamar dorm lantai lima itu terasa begitu pekat dan mencekam. Suasana hangat yang biasanya menyelimuti dua penghuninya kini lenyap tanpa bekas, tergantikan oleh ketegangan tak kasat mata yang terus membesar seiring berjalannya waktu. Dua orang gadis muda berdiri saling berhadapan dengan raut wajah dan pancaran mata yang berseberangan.

Gadis yang lebih muda—Seongmin—menatap lawan bicaranya dengan sorotan mata berapi-api yang dipenuhi kombinasi kekesalan, rasa lelah emosional, dan keputusasaan yang tertahan. Sementara gadis yang lebih tua, Lalisa, terpaksa menempatkan dirinya dalam posisi terpojok. Lisa berdiri mematung di samping ranjangnya, menatap lurus ke arah lantai kayu tanpa niat untuk mengikis ketegangan yang ada.

Di dalam kamar yang terkunci rapat itu, tidak ada siapa pun selain mereka berdua. Hal ini membuat Seongmin merasa memiliki ruang penuh untuk akhirnya meluapkan seluruh emosi ganjal yang telah ia pendam selama berminggu-minggu.

" Yaa!! Eonnie, jebal... just tell me, was I doing something wrong?" Seongmin berseru dengan nada suara yang bergetar hebat. Gadis berusia 16 tahun itu berusaha setengah mati memegang kendali atas dirinya agar tidak membanting barang atau menyakiti siapa pun di sana, meskipun puncak kekesalannya sudah berada di titik nadir. 

"Katakan padaku, Eonnie! Kesalahan sebesar apa yang sudah kubuat sampai kau memperlakukanku seperti ini?!"

" Nothing," jawab Lisa sangat singkat. Suaranya datar, tanpa emosi, dan pandangannya tetap tertuju pada lantai.

Jawaban yang terkesan mengabaikan itu membuat Seongmin mendongakkan kepalanya secara kasar. Ia mengembuskan napas panjang melalui mulutnya yang terbuka, meloloskan erangan frustrasi yang terdengar memilukan di tengah kesunyian kamar.

" Nothing?!" ulang Seongmin dengan tawa hambar yang menyakitkan. "Semenjak kita pulang dari tur dan syuting di Jepang... kau... ck, kau benar-benar mendiamkanku, Eonnie! Kau bahkan... dalam sehari bisa dihitung dengan jari berapa kali kau menyapaku atau menatap mataku! Yaaa, Eonnie! Kita ini teman sekamar! Kita tinggal bersama di bawah satu atap yang sama untuk waktu yang tidak sebentar! Bukankah aku sudah mengatakan padamu dari awal? Jika aku memang melakukan kesalahan, katakan saja langsung di depanku, Eonnie! Jangan tiba-tiba kau berubah menjadi asing tanpa alasan yang jelas..."

Seongmin sedikit menjeda kalimatnya yang memburu. Dada gadis muda itu naik-turun secara tidak beraturan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan luapan emosi yang mengancam akan merusak pertahanan dirinya.

"Kau selalu memilih tidur lebih awal sebelum aku masuk kamar," lanjut Seongmin dengan nada suara yang berangsur merendah namun makin menyayat hati. "Kau masuk ke kamar ini hanya untuk mandi dan berganti pakaian. Bahkan saat kita berjalan di koridor agensi atau bandara, kau selalu memposisikan dirimu bersama Eonnie yang lain, sengaja menghindariku. Dan... ah, yaa... bahkan saat kau merasa sesak napas dan hampir jatuh pingsan di ruang latihan kemarin lusa, kau menepis tanganku saat aku mencoba memegang bahumu, Eonnie!"

Seongmin mengusap sudut matanya yang mulai basah secara kasar, lalu mengangguk-angguk pasrah. " Okey... Jika memang itu yang kau mau, Eonnie. Aku mengerti. Aku tidak akan memaksamu lagi. Hari ini juga aku akan meminta manajemen untuk memindahkanku dari kamar ini. Anni, anni... aku bahkan akan membeli unit apartemen di sebelah dorm ini agar kau bisa merasa jauh lebih nyaman dan leluasa tinggal di sini tanpa perlu melihat wajahku. Mungkin... kau memang sudah sangat bosan denganku."

Seongmin berbalik membelakangi Lisa dan melangkah cepat menuju lemarinya. Ia menarik koper besar dari dalam lemari dan membukanya kasar di atas lantai. Sementara itu, Lisa masih bungkam seribu bahasa. Namun, sepasang mata bulat milik Lisa terus mengikuti setiap pergerakan refleks yang dilakukan oleh adik bungsunya tersebut.

STAYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang