Hari ini, suasana di gedung perkuliahan terasa begitu hangat. Lisa mengajar di kelasnya dengan senyuman manis yang tak pernah luntur dari bibirnya. Bahkan, ia membebaskan para mahasiswanya dari tugas-tugas perkuliahan yang biasanya menguras otak. Langkah kakinya terasa begitu ringan menelusuri koridor kampus menuju area parkiran, sesekali terdengar bersiul kecil melantunkan nada riang.
Hal yang membuat gadis Lee itu begitu bahagia hari ini adalah agenda reuni anggota SevG—kelompok sahabat lamanya yang telah sekian lama tidak berkumpul secara utuh.
"Aku sangat penasaran dengan kabar anak kecil itu sekarang," monolog Lisa pada dirinya sendiri saat memutar kemudi Bentley miliknya. Ia menyusuri jalanan Seoul menuju lokasi reuni mereka, yaitu mansion mewah milik Seongmin.
Seongmin kini telah tumbuh menjadi seorang pengusaha sukses yang disegani di bidang pengembangan aplikasi. Ia berhasil menciptakan berbagai platform digital yang digunakan secara luas oleh para remaja, tenaga pendidik, hingga pegawai kantoran.
Lisa mengetahui seluruh pencapaian luar biasa itu hanya melalui berita di media massa dan televisi, sebab selama empat tahun menetap di Inggris, ia sempat kehilangan kontak sepenuhnya dengan Seongmin.
Cklek.
Pintu gerbang dan pintu utama mansion terbuka.
"Ah... A-Annyeonghaseyo, Lisa... Eonnie," sapa Seongmin yang berdiri di balik pintu.
Lisa seketika terkekeh geli melihat Seongmin membukakan pintu untuknya dengan raut wajah yang sangat gugup.
"Waahh, keren sekali mansion milikmu ini! Owner? Sajangnim? Aku harus memanggilmu apa sekarang, heum?" goda Lisa sengaja mengerjai Seongmin yang makin bertambah canggung di hadapannya.
"Ehm... eoh... sssttt... b-bukan begitu, Eonnie..." gagap Seongmin dengan wajah memerah.
Meledak sudah tawa Lisa. Ia sangat menikmati kepolosan Seongmin yang tidak pernah berubah sejak dulu. "Mian, mian! Aku hanya bercanda, Seongmin-ah!" Lisa menepuk bahu Seongmin pelan setelah puas tertawa selama beberapa menit.
"Eonnie, mianhae... Makanan yang kupesan belum datang," cicit Seongmin merasa bersalah sembari mengarahkan Lisa menuju area dapur. "Sebab Kaeun Eonnie tadi memberitahuku kalau kalian semua baru akan tiba sekitar jam 7 malam."
Seongmin membuka lemari pendinginnya dan mengeluarkan stok minuman yang ada: hanya sekaleng soda dingin dan beberapa cangkir teh serta camilan sederhana.
"Ya!! Kau ini bertingkah seolah-olah aku ini orang asing saja, hmn? Gwenchana," omel Lisa dengan nada berpura-pura kesal.
"Aku sengaja datang lebih awal karena aku sangat merindukanmu dan ingin melepas rindu berdua saja denganmu. Kau jahat sekali ya, mengganti nomor telepon dan tidak pernah menghubungiku lagi! Jadi jangan marah kalau dulu aku tidak sempat hadir di acara wisudamu!"
Seongmin menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Maafkan aku, Eonnie..."
Lisa menatap raut bersalah gadis di hadapannya. Ia mengulurkan tangan, mengangkat dagu Seongmin secara lembut agar mata mereka saling bertatapan.
"Tidak usah menunduk begitu, hmn? Eonnie hanya bercanda. Lagipula Eonnie juga salah karena tidak berusaha keras mencarimu. Dulu Eonnie pikir Hyung-mu itu sudah menjagamu dengan baik. Tapi begitu melihat pria itu masih sibuk mengelola bar tidak jelas itu, Eonnie sadar dia telah membuangmu lagi. Eonnie yang minta maaf ya..."
Lisa merengkuh tubuh Seongmin yang kini terasa sedikit lebih berisi dibandingkan empat tahun lalu.
"Ania, Eonnie... Kali ini bukan dia yang membuangku. Tapi aku yang telah membuang pria itu dari hidupku," bisik Seongmin dari balik dekapan Lisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
STAY
FanfictionPlease Just Choose to Stay . . . . Kisah seorang gadis bermarga Lee, rasa kesepian yang selalu menemaninya semasa kecil. Berjuang untuk karir yang tak sejalan dengan karir keluarganya. Kisah si Bungsu Lee yang seolah mendapat perhatian dari kelurga...
