Please Just Choose to Stay
.
.
.
.
Kisah seorang gadis bermarga Lee, rasa kesepian yang selalu menemaninya semasa kecil. Berjuang untuk karir yang tak sejalan dengan karir keluarganya.
Kisah si Bungsu Lee yang seolah mendapat perhatian dari kelurga...
Langkah kaki Lisa terasa agak berat saat menaiki undakan tangga menuju panggung utama studio survival show 99 Girls. Rasa canggung dan gugup berbaur menjadi satu di dalam dadanya. Di hadapannya, bertingkat-tingkat kursi piramida bertuliskan nomor urut telah dipenuhi oleh puluhan gadis muda dengan berbagai gaya dan pakaian yang memukau.
"Annyeonghaseyo..." Lisa membungkukkan badannya dengan sangat sopan, memberi hormat 90 derajat ke arah para peserta yang sudah lebih dulu duduk.
Serentak, puluhan gadis di hadapannya bangkit dari duduk mereka dan membalas sapaan Lisa dengan ramah. Saat itu, hanya tersisa beberapa kursi kosong, yaitu nomor 7, 29, 30, 45, 47, dan 88. Lisa bersama lima peserta independen lainnya merupakan rombongan trainee terakhir yang dipanggil masuk ke dalam studio.
Lisa melangkahkan kakinya menuju kursi nomor 7. Baginya, angka 7 terasa istimewa karena berada di jajaran sembilan besar—area line-up debut yang menjadi perebutan semua orang. Di sepanjang perjalanannya menaiki tangga piramida, bisik-bisik dari para peserta lain berembus memenuhi ruangan.
Banyak di antara mereka yang memuji proporsi tubuhnya yang jenjang, paras cantiknya yang eksotis, hingga aura karisma alami yang kuat. Pujian-pujian terang-terangan itu justru membuat Lisa kian gugup dan meremas jemarinya sendiri.
Gadis di nomor 6 itu membalas sapaannya dengan sangat sopan. Ia membungkukkan badan hingga posisi duduknya sedikit terangkat dari kursi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tak lama kemudian, pencahayaan studio meredup, menandakan acara evaluasi tingkat awal resmi dimulai. Kim Heechul melangkah maju sebagai perwakilan produser utama acara. Setelah memberikan kata sambutan yang meriah, satu per satu jajaran mentor berkelas diperkenalkan ke hadapan para trainee. Soyou dan Kahi hadir sebagai mentor vokal, Cheetah bertindak sebagai mentor rap, sementara May J Lee bersama Bae Yoon Jung memegang kendali sebagai mentor dance. Aura intimidatif, tegas, dan tajam yang dipancarkan oleh para mentor terpancar begitu kuat di bawah sorotan lampu kilat. Lisa menelan salivanya kasar, mendadak merasa khawatir luar biasa akan penampilannya di hadapan para juri legendaris itu nanti.
"Gwenchanayo... Itu hanya tatanan riasan panggung yang membuat wajah mereka terlihat lebih garang dan menakutkan," bisik gadis tinggi di sebelahnya secara tiba-tiba. Gadis itu rupanya menyadari kaki Lisa yang menghentak-hentak gelisah di lantai.
"Aah... nde, khamsahamnida," bisik Lisa kembali, mengulas senyum tipis dan bernapas lega atas teguran halus yang bertujuan untuk menenangkan pikirannya itu.
Sesi evaluasi kemampuan awal berjalan dengan sangat seru namun dipenuhi ketegangan yang menguras emosi. Sejauh acara berlangsung, belum ada satu pun peserta yang berhasil menembus dan mengamankan posisi di Kelas A—kelas peringkat tertinggi. Jika ada peserta yang melakukan sedikit saja kesalahan dalam koreografi atau nada sumbang, komentar pedas dan kritikan tajam tanpa ampun langsung diluncurkan oleh Bae Yoon Jung dan mentor lainnya. Di tengah situasi yang mencekam itu, Kim Heechul menjadi penengah yang selalu menutup sesi kritik dengan kata-kata penyemangat; bagaimanapun juga, ia paham bahwa mental para remaja ini masih sangat rapuh jika terus-menerus dihantam komentar pedas.